Sunday, September 11, 2005

Hujan Pasir di Puncak Mahameru (pendakian semeru ke 2)

Semeru, 3676 Mdpl, mungkin naik semeru buat orang lain biasa aja, tapi buat aku Semeru lumayan istimewa dibanding dg gunung-gunung lain.

Cerita-cerita soal Semeru banyak aku baca mulai dari Soe Hok Gie yg meninggal disana, Puncaknya yang disebut puncak para dewa di lagu Mahameru nya Dewa 19, sampai foto-foto awan dan letusan jonggring seloko di album pendakian senior-seniorku, bikin aku penasaran dengan gunung ini

Tahun lalu, Agustus 2004 aku kesana bermaksud mendaki, sebelumnya kita sudah mendengar bahwa gunungnya sedang aktif. Tapi berharap ada perubahan kita tetap aja berangkat menuju Malang. Sesampainya di pos pelaporan, kita diberitahu bahwa pendakian yang diperbolehkan hanya sampai Kali Mati . Akhirnya kita tetap mendaki sampai Kali Mati dan hanya boleh puas menikmati pemandangan letusan jonggring seloko dari sana

Tanggal 31 kemaren aku kembali berangkat menuju Semeru melalui Surabaya dengan teman2 milis. Beda dengan pendakian sebelumnya yang hanya 4 orang, kali ini tim ada 30 orang lebih. Tanggal 1 kita mulai perjalanan dari Ranu Pane dan tiba di Ranu Kumbolo 4 jam kemudian, Besoknya kita menuju Kalimati, tidur lebih awal dan mulai mendaki jam 12 malam (tim kedua menyusul jam 01.00)

Ternyata jalur pasirnya susah sekali untuk didaki, pasir bikin langkah jadi berat dan kebanyakan merosot lagi, jalur ini mengingatkan ku pada gunung Kerinci (3805), pasir seperti ini juga ada menjelang puncak, tapi sepanjang sepanjang semeru ini. Sekitar 30 menit menjelang puncak saya sempat mual dan akhirnya muntah, mungkin kekurangan oksigen. Soalnya letusan membuat hujan pasir yang terpaksa bikin kita nahan nafas. Untungnya Ery membawa oksigen di tas. Aku terpaksa memakai oksigen itu tanpa izin dari pemiliknya. Setelah mualnya hilang aku jalan lagi dan nyampe juga akhirnya di puncak. Thanks God. Walaupun hujan pasir bikin kita kesulitan buat menikmati pemandangan dan berfoto. Setiap ada semburan masing-masing kami melindungi tubuh dan pernafasan termasuk juga kamera. Banyak diantara kami yg mengalami kerusakan kamera terutama kamera digital. Ada gunyonan diantara sesama tim pendakian "Sampai ketemu di tempat service kamera ya..." 



No comments: