Thursday, October 26, 2006

Mengapa Mereka Harus Terusik?



foto: tebejowo.com
Di Pantai Pangumbahan , Ujung Genteng - Jawa Barat, aku mendapat kesempatan melihat penyu bertelur. Tadinya aku fikir kami akan melihat penyu bertelur di penangkaran, atau dipantai dengan cara mengintip. Tidak ada diantara kami bertiga yang pernah ke Ujung Genteng, jadi kami tidak tau sama sekali seperti apa cara melihat penyu bertelur disana.


Ketika kami sampai di Pantai Pangumbahan, hari baru saja memasuki malam, kami menemukan pagar kayu yang dibuat membentuk petak diatas pasir. Panjangnya sekitar 3 meter dengan lebar sekitar 2 meter dan tinggi 2,5 meter. Tidak ada penyu didalam kotak yang mirip kandang tersebut. Lalu terlihat kerlap-kerlip lampu yang kami pikir rumah-rumah penduduk. Kami mengikuti arah cahaya itu untuk bertanya apakah tempat tersebut benar Pantai Pangumbahan. Kemudian kami menemukan semacam kantor yang mirip rumah, sayangnya aku lupa badan apa yang mengurus penangkaran penyu itu. Jaraknya sekitar 30 meter dari pinggir pantai. Kemudian kami ketahui tempat itu adalah tempat penangkaran penyu. Saat itu ada serombongan pengunjung yang juga ingin melihat penyu. Mereka memberitahu bahwa pengurus tempat itu akan mengantarkan kepantai jam 20.00 dan kami harus membayar Rp 5,000 jika rombongan kami lebih dari 6 orang dan Rp 10,000,- jika rombongan kurang dari 6 orang.

Didepan teras bangunan terdapat sekitar 20 tong-tong kayu yang menurut keterangan tamu lain, adalah tempat menaruh telur-telur penyu sampai menetas. Didalamnya terdapat pasir-pasir sebagai tempat telur-telur tersebut ditimbun.

Menjelang jam 20.00, pengunjung yang datang semakin banyak. Ada yang membawa anak-anak mereka yang masih balita. Akhirnya petugas mengajak semua untuk kepantai. Jumlah rombongan sekitar 25 orang. Sepanjang jalan sipetugas berkali-kali melarang pengunjung menyalakan senter karena menurut mereka cahaya senter akan membuat penyu-penyu takut. Beberapa orang diam-diam tetap menyalakan senter termasuk aku. Aku menyalakan senter untuk menerangi seorang ibu yang berjalan dibelakangku dengan dua anaknya yang masih balita, yang merengek-rengek karena takut berjalan dikegelapan. Pantai memang sangat gelap malam itu. Tapi petugas kemudian membentak-bentak siapapun yang diketahuinya menyalakan senter. Dia mengatakan bahwa senter boleh menyala setelah penyu selesai mengeluarkan telur-telurnya.

Setelah berjalan sekitar 500 meter menyusuri pinggiran pantai, kami akhirnya menemukan seekor penyu sedang bertelur. Suasana sama sekali tidak tenang, senter-senter tiba-tiba menyala, blitz kamera menyala termasuk dari kameraku. Tiga buah telur sempat dikeluarkan, tapi kemudian dia ketakutan dan beranjak pergi. Saat berjalan meninggalkan lubang tempatnya bertelur, penyu itu masih mengeluarkan beberapa buah telur. Pentugas menghalangi penyu itu pergi, dia setelah sebelumnya memunguti telur-telur yang telah dikeluarkan, berdiri didepan binatang malang itu. Penyu itu menghindar dengan berbelok kearah lain. Sipetugas kemudian mendorong penyu tersebut dengan kasar kearah tempatnya bertelur tadi. Sipenyu tetap menghindar. Setelah dihalangi beberapa kali, sipenyu akhirnya berhasil kembali kelaut.

Rombongan-rombongan pengunjung kembali datang, mereka mengerumuni beberapa penyu. suara-suara terdengar, blitz kamera dimana-mana.

Jika tidak ada kami disitu, tentu penyu itu bisa mengeluarkan semua telurnya hingga tuntas, lalu kembali ke laut dengan tenang. Tapi kami ada disana, kami membayar Rp 5000,- hingga Rp 10,000,- dan kami merusak suatu proses kelahiran, proses lahirnya bayi-bayi penyu baru.

Malam itu banyak penyu yang naik kepantai untuk bertelur. Mungkin ada 7 ekor, aku tidak menghitung jumlah pastinya. Semua jadi tontonan. Aku lebih memilih duduk dipasir akhirnya. Melihat orang-orang beramai-ramai mengerumuni penyu-penyu itu dari jauh, sambil menyesalinya

Proses bertelur yang seharusnya berjalan dengan baik harus terganggu oleh keingintahuan manusia. Jika penangkaran penyu itu dibuat untuk melestarikan pertumbuhannya, lalu mengapa harus ada bentuk wisata yang justru mengganggu proses perkembang biakannya? Apakah ini semua untuk uang?

No comments: