Saturday, August 4, 2007

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Dempo – 3159 Mdpl (Bagian 1)

Gunung Dempo yang memiliki ketinggian mencapai 3159 Meter diatas permukaan laut, terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Keterangan selengkapnya mengenai gunung ini bisa dilihat di sini 

Berangkat

Semua sudah berkumpul ketika aku tiba dibandara, Bang Hendri, Bang Kamser, Mbak Titik, Yadi dan Ogen. Nama terakhir ini adalah peserta dadakan yang mengganti Fedy yang batal ikut karena cutinya ditolak. Setelah selesai cek ini, kami menyalami Ogen yang sudah pasti bergabung. Ogen pun kami sahkan namanya menjadi Fedy Alberto Ogenio ;))


Air Asia on time kali ini, sekitar 50 menit kami terbang menuju bumi Sriwijaya, dan disambut hujan deras dibandara Sultan Mahmud Badarudin.

Saat menunggu bagasi, Bang Hendri menghubungi Halida untuk menanyakan keberadaannya, ternyata dia masih diperjalanan dari Pekan Baru menuju Palembang. Dia memperkirakan akan tiba 2 jam kemudian dibandara. Sambil menunggu Halida kami makan siang sambil mengobrol disebuah rumah makan padang dibandara. Hujan masih terus mengguyur deras

Sekitar jam 14.00 kami pindah ketempat duduk yang lebar-lebar disebelah mushola bandara, cukup luas untuk tempat bobo-bobo ciang buat kami ber enam. Baru saja kami mulai mengambil posisi wuenak, bang Hendri baru saja cerita soal perbedaan pria berkepala botak didepan dengan botak dibagian belakang, tiba-tiba Halida menelepon Bang Hendri memberitahu bahwa dia sudah tiba dibandara. Terpaksa Kami meninggalkan posisi strategis tersebut dan menemui Halida yang datang diantar orang tuanya.

Perjalanan dilanjut menuju travel biro yang mobilnya sudah dipesan Halida untuk mengantar kami. Setibanya disana, pihak travel biro menyampaikan mobil yang berangkat ke Desa Pagar Alam hanya ada pagi dan sore jam 5, jadi kami masih harus menunggu mobil yang mengantar penumpang pagi kembali. Akhirnya kami harus…. Menunggu lagi L

Hujan masih turun deras, kami duduk-duduk didepan Travel biro ditemani orang tua Halida yang membelikan mpek-mpek yang menghangatkan suasana siang itu. Tidak berapa lama, berbagai sudut ruangan kantor kami isi, teras, kursi dipakai untuk berbaring, juga kursi didepan tv sambil menonton acara yang kebetulan menayangkan acara Jejak Petualang bersepeda di kaki gunung Tambora.

Waktu terasa lambat, tapi mobil yang kami tunggu akhirnya tiba. Segera barang-barang dimasukkan ke mobil dan kami melaju menuju desa Pagar Alam. Kapasitas mobil 8 orang hanya terisi oleh 7 orang, lumayan nyaman. Mobil melaju kencang, mengingatkan aku pada kecelakaan yang sering terjadi saat ini.

Sekitar jam 2 dini hari kami tiba didesa Pagar Alam. Kami menginap dirumah Pak Anton, tepatnya disebuah ruangan dibelakang rumahnya yang khusus disediakan untuk para pendaki. Kami tidur hingga jam 07.00 pagi. Lalu berkemas mempersiapkan pendakian. Karena jalur mendaki dan turun sama, kami bisa meninggalkan barang-barang yang kira-kira tidak diperlukan selama pendakian. Barang-barang tersebut kami bungkus menjadi satu, lalu dititipkan ke Ibu Anton.

Kami kesulitan mendapatkan mobil untuk mengantarkan ke pintu rimba yang berjarak sekitar 1, 5 jam naik mobil dari rumah Pak Anton. Seorang Bapak bersedia mengantar dengan mobil pick up, tapi emak, istri pak Anton mengatakan mobil Bapak itu tidak akan sanggup untuk menempuh tanjakan yang harus dilalui menuju Desa Empat. Si Bapak berusaha meyakinkan, dan Bang Hendri sebagai Bapak Ketua ;-) menerima tawaran si Bapak.

Tidak lama kemudian kami sudah melaju diatas pick up kecil itu, ransel-ransel ditaruh dibagian depan, sedangkan kami menduduki sisi-sisi mobil. Hamparan kebun teh terlihat disekeliling, memberikan kesejukan seperti udara pagi itu.

Mobil cukup kuat mendaki tanjakan, meski sempat juga memaksa sebagian kami untuk turun (cowok-cowok doang maksudnya hehehe…). Kami bertemu semacam pondok untuk pendaki, tapi Halida mengatakan pintu rimba yang kami tuju bukan itu. Mobil melanjutkan lagi perjananan mencari-cari pintu rimba. Halida menelepon beberapa temannya, berdasarkan petunjuk-petunjuk mereka, ditambah feelingnya Halida dan Bang Hendri :p kami mulai mendaki dari sebuah persimpangan yang ada goa bekas galian.

Kami menemukan jalan masuk ke hutan meski tak yakin sepenuhnya, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Jalan langsung menanjak kejam, tidak ada pemanasan dengan jalur landai diawal pendakian seperti gunung-gunung di pulau Jawa pada umumnya. Masih dijam pertama, aku dan Yadi nyasar kekiri punggungan. Kami turun punggungan lalu menyebrangi sungai menaiki punggungan lainnya. Jalur terjal sekali, karena yang didepan tak juga kelihatan (padahal kami yakin jarak kami cukup dekat) kamipun memanggil-manggil. Sahutan terdengar dari jauh, sepertinya dari punggungan disebelah. Sahutan Ogen memberitahu kalau kami salah jalan, akhirnya kami turun dan menyebrangi sungai kembali, batu-batunya yang sangat licin sempat membuat aku terjatuh… hikzz… Ogen memanggil-manggil sambil terus mengarahkan kearah mana kami harus berjalan. Tidak lama kami sudah berhadapan dengan Ogen yang senyum-senyum, menurutnya (mungkin) kami telah membuat kelucuan. huh!!

Perjalanan dilanjutkan, jalur pendakian sepertinya sudah lama tidak dilalui, terlihat dari kelebatan semak belukar dan tanah yang gembur, jika sering diinjak, tanah pasti padat. Jalur menanjak dan seringkali kami dikecup genit duri-duri hutan. Halida beberapa kali mengatakan dia tak kenal jalur yang kami lalui. Menjelang sore (aku lupa persisnya jam berapa) kami berhenti untuk masak makan siang. Sejak pagi kami belum sarapan benar, hanya 2 bungkus mi instant dibagi tujuh orang, pantaslah perut lapar akut. Aku sampai merasa mual sepanjang jalan.

Kami memasak sup krim instant, hanya tinggal dididihkan, sup siap disantap beramai-ramai. Perut seperti bertemu jodohnya, kamipun melanjutkan pendakian. Setelah sebelumnya beberapa kali nongol menakut-nakuti namun batal turun, Akhirnya hujan turun dengan deras

Menjelang magrib Ogen yang berjalan paling depan berteriak-teriak mengumumkan dengan loud speaker made in Japan, bahwa ia telah menemukan jalan pendakian yang sebenarnya. Benar saja, kami menemukan jalan yang jelas dan lebar. Kami istirahat sebentar dijalan tol itu, makan buah apel lalu berjalan lagi. Hujan masih mengguyur deras.

Malam sudah menyelimuti Dempo ketika kami bertemu Shelter 2. Hujan masih menetes, kamipun memutuskan membuat atap dari fly sheet dan beristirahat sambil masak makan malam. Fly sheet yang sempit itu membuat kami cukup berdesak-desakan. Semua berusaha menghangatkan tubuh yang menggigil kedinginan.  Untuk kepraktisan, kami hanya memasak nasi dan air untuk membuat teh manis. Nasi kemudian kami makan dengan rendang yang sudah disediakan Ibu Halida dari Palembang. Sebagian kami sebenarnya memilih untuk menginap saja ditempat itu, tapi karena shelter tersebut digenangi air dan tanah yang lembek, dan puncak diperkirakan tidak jauh lagi, kamipun melanjutkan pendakian menuju puncak. Mungkin sudah jam 10 ketika kami meninggalkan Shelter dua.

Selanjutnya jalan sangat terjal. Kami bukan hanya mendaki tapi harus memanjat dengan berpegangan pada akar-akar. Sebagian besar jalur menanjak 90 derajat. Tubuh kami lumayan hangat dibanding ketika istirahat tadi. Tapi kami juga sudah mulai kelelahan, jam seperti saat itu itu harusnya tubuh sedang istirahat dengan nyaman. Sekitar jam 00.30 kami berhenti disebuah tempat yang lumayan datar, Bang Hendri dan Yadi berjalan kedepan untuk melihat apakah puncak masih jauh dan apakah didepan masih ada tempat datar untuk membuka tenda.

Setelah kembali, dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami membuka tenda disitu, udara dingin menusuk, angin bertiup kencang sekali. Ditengah udara yang beku kami berganti pakaian lalu masuk ketenda North Face kuning milik bang Hendri. Tenda dengan kapasitas 2 hingga 3 orang itu kami isi ber - 7. Saat duduk kami masih bingung bagaimana tenda itu akan menampung kami dalam posisi tidur. Akhirnya posisi diatur. Kami tidur dengan posisi kepala tidak diposisi yang sama. 3 orang disebelah utara dan 4 orang disebelah selatan. Kaki kami yang harus ditekuk dan kadang ditindihkan kekaki yang lain. Sempit sekali sebenarnya, tapi aku tetap tidur nyenyak malam itu. Istirahat ternikmat.

Perjalanan menuju puncak Dempo bisa dilihat disini

No comments: