Saturday, August 4, 2007

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Dempo (Sumsel) - Bagian 2

Menuju Puncak 

Esoknya ucapan Bang Hendrilah yang pertama kudengar ketika sadar dari tidur. “Sudah setengah tujuh lho” katanya. Dan kami harus bangun untuk bersiap jalan lagi. Kali ini kami meninggalkan barang-barang ditempat itu, tidak ada yang menjaga tapi tas-tas dibungkus dalam fly sheet lalu diikat kepohon yang berjarak 2 meter dari jalur. Jelas terlihat jika ada yang lewat, tapi kami percaya orang yang lewat pasti tidak akan mengambil tas-tas tersebut. 
Alun-alun gunung Dempo, Sumatera Selatan
Alun-alun gunung Dempo, Sumatera Selatan



Hari yang cerah, langit bersih menemani langkah kaki kami menuju puncak. Sekitar 1 jam kami sudah sampai dipuncak Dempo. Berfoto-foto sebentar lalu turun ke alun-alun. Dari alun-alun ini terlihat puncak Merapi dengan jelas. Kami berhenti untuk istirahat dan masak sarapan diantara pohon-pohon pendek yang cukup rindang. Sambil menunggu nasi matang, kami duduk-duduk santai sambil mengobrol. Beberapa orang memilih menyepi memenuhi panggilan alam. Untuk kepraktisan, kami hanya memasak nasi, dan makan dengan lauk rendang dan teri goreng yang disiapkan oleh mbak Titik dari Jakarta. 

Kemudian kami meninggalkan tempat itu, menuju kepuncak. Jalan kepuncak ditumbuhi pohon-pohon pendek yang merupakan ciri puncak-puncak gunung diketinggian menjelang 3000 mdpl.

30 menit kemudian kami sudah tiba dipuncak, langit cerah dan pemandangan terbuka tanpa penghalang. Terlihat kawah Dempo yang berwarna putih susu kehijauan

Seperti biasa, kami mengabadikan saat-saat dipuncak dengan harapan foto bisa dipajang ditempat-tempat strategis seperti tabloid-tabloid resep masakan atau iklan-iklkan diri diselebaran :p Berbagai macam gaya dikerahkan dengan meminta fotografer bergerak kesana kemari mengikuti gerakan model. 

Kami bertemu dengan Kelompok pencinta alam kampus Unika Atmajaya; Edelweis, dan sempat mengobrol. Dari pembicaraan diketahui, salah satu gadis termanis dikelompok itu ternyata penggemar Bang Hendri. Terlihat dia terbata-bata saat mengetahui pria didepannya adalah Hendri Agustin yang tersohor kepelosok negeri itu

Setelelah puas menikmati pemandangan dan berfoto-foto, kamipun bergerak turun menuju tempat kami menaruh ransel-ransel. Tidak sampai satu jam kami sudah tiba, ransel-ransel aman tak ada yang mengganggu. Hal ini tak mungkin terjadi digunung-gunung ramai pengunjung seperti dipulau Jawa. Setelah repacking sebentar kami langsung turun. Karena sudah membuat janji dengan mobil carteran yang kami minta untuk menjemput kami dikebun teh, Bang Hendri dan Yadi dinobatkan untuk berjalan didepan meninggalkan kami berlima, dengan harapan dapat mengejar waktu janji kami dengan pemilik mobil. 

Akhirnya kami berjalan ber-5.  Aku berjalan didepan dengan Mbak Titik, satu persatu turunan curam kami lewati. Kadang kami heran melihat jalan yang demikian terjal dan hampir tak percaya kami melewatinya semalam, dalam gelap ditambah rasa lelah dan ngantuk. “Emang kita bisa ngelewatin ini yah kemaren?” kataku pada Mbak Titiek. 

Sore menjelang ketika kami tiba dipos dua, kami berhenti untuk mengistirahatkan kaki yang telah bekerja keras. Tanah tempat kami meneduh dibawah fly sheet, berdesak-desakan dan kedinginan semalam telah kering. Kami melanjutkan perjalanan, kali ini aku dan Mbak Titiek berjalan jauh didepan yang lainnya, mereka tidak terlihat sama sekali. Kami tiba dipos Satu dan hanya beritirahat sekitar lima menit. Karena tidak ingin berjalan malam hari dihutan, kamipun melanjutkan. Pos satu sudah lewat, semoga pintu rimba tak terlalu jauh

 Tragedi kumbang Nakal :p

Hari mulai gelap ketika aku melihat tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dipinggiran jalur menjanjikan kami akan segera tiba didesa. Kami sudah menyalakan head lamp ketika sebuah tragedi terjadi. Mbak Titiek yang berjalan sekitar 5 meter didepanku sedang membungkuk mengambil sesuatu dari kakinya, tiba-tiba ia menjerit-jerit entah mengucapkan apa, yang berhasil aku dengar adalah namaku. Aku mengarahkan senter dan sepertinya Mbak Titiek sedang meronta-ronta. Fikiran yang berkecamuk adalah dia dililit ular, tapi aku tak berhasil melihat apapun selain badannya yang memunggungiku. Bukan ular! Fikirku. Entah apa pertanyaanku waktu itu ke Mbak Titiek, tapi dia menjawab, ada serangga yang menyerang. Ya, Aku sempat melihat seekor kumbang terbang menjauh. Menurut ramalan dukun-dukun didunia permistisan, kumbang memang senang dengan cahaya, head lamp Mbak Titiek tampaknya menarik hatinya hingga terjadilah tragedi jeritan tadi. Setelah cukup tenang, kamipun kembali berjalan. 

Sekitar jam 18.45 kami tiba dipintu rimba, tiba-tiba saja hutan berakhir dan yang terpampang didepan kami adalah kebun teh, lega sekali rasanya. Kami duduk disebuah batang pohon yang roboh. Dimana Bang Hendri dan Yadi? Tampaknya mereka sudah pergi kebawah, entah kejalan aspal atau kedesa terdekat (desa/kampung 4). Dingin menggigit karena tempat itu masih cukup tinggi, apalagi baju kami yang basah karena keringat. Bang Hendri mengabari lewat sms bahwa mereka sedang mencari mobil didesa dan menyarankan kami untuk turun.

Tragedi Kebun Teh

Segera kami berjalan turun menerobos kebun teh didepan kami tanpa memikirkan arah jalan yang benar, fikiran kami saat itu adalah, jalan raya tentunya didepan kebun teh ini. Ternyata fikiran kami keliru sama sekali. Mula-mula kami hanya jalan lurus mengikuti alur-alur yang terbentuk diantara phon-pohon teh, lalu kami menyadari kebun teh didepan kami seperti lautan tak terbatas. Meski head lamp kami arahkan kedepan untuk melihat disebelah mana jalan raya, yang terlihat hanya bentangan kebun dan kegelapan. Mula-mula aku melihat semacam garis hitam dikejauhan sebelah kanan, aku fikir itu adalah jalan raya, maka aku mengejak mbak titik kearah kanan. Setelah tiba, kami hanya mendapati perbatasan kebun teh yang tinggi dengan yang pendek, sehingga membentuk garis lengkung hitam. 

Perjuangan dilanjutkan, kami memandang kesemua arah, tapi yang terlihat hanya kebun teh. Aku mengajak mbak Titiek terus kearah kiri karena melihat garis lagi dikejauhan. Mestinya itu jalan, fikirku. Tapi sepertinya Mbak Titiek tidak begitu memperhatikan kata-kataku. Dia berjalan kearah kanan dan menghilang. Aku menemukan ujung kebun yang curam, lalu tidak menemukan Mbak Titiek. Aku memanggil-manggil, tak ada sahutan, aku memanggil lagi, terdengar sahutan, wah…suaranya terdengar agak jauh. Segera aku berjalan kearah kanan menyusul Mbak Titiek. Aku mengajak mbak Titiek ke kiri.

“kok nggak kekiri mbak tadi kan kliatan kayaknya ada garis” 

“o yah? Aku nggak lihat, dikiri tadi jurang”

“emang jurang, tapi kekiri lagi ada jalan kok, curam memang, tapi kayaknya bisa diturunin, balik lagi yuk”

Kami berjalan kekiri sambil aku menunjukkan ke Mbak Titiek garis yang kuduga jalan itu. Kami menuruni kebun bagian yang curam, tiba-tiba dari arah yang kuduga jalan itu muncul cahaya mobil, aku kegirangan. Horeeee…benar itu jalan raya. Masih kegirangan karena cahaya mobil tiba-tiba kami masih dikejutkan lagi oleh 2 cahaya head lamp yang muncuk didekat mobil. Huaaaa… mbak.. mbak… berarti itu bang Hendri dan Yadi. Berarti mereka sudah mendapatkan mobil carteran dan datang menyusul kami kesini. 

Bang Hendri mengarahkan arah jalan kami, kami kebingungan karena sepertinya jalan didepan terjal sekali. Yadi kemudian menjemput kami dan membawakan carrierku. Ohhhhh…my heeeeerrrOOoooo ;;) :-* :-*

Hanya beberapa puluh meter berjalan dijalan tanah, kami sudah tiba disamping mobil yang sedang memutar lagu ajep-ajep. 

Kami menunggu 3 orang lagi, Bang Kamser, Ogen dan Halida. Kecapekan, aku langsung saja duduk diatas tanah disamping mobil sambil memandang bayangan gunung dempo. Tidak lama kemudian terlihata cahaya-cahaya senter dari arah kebun teh, tampaknya mereka kebingungan juga. Yadi memberi panduan dengan head lamp yang dibuat berkedip-kedip, kemudian dia menjemput mereka. 

Setelah mereka tiba dimobil, kami langsung menuju desa Pagar Alam. Jalanan tidak beraspal mengguncang-guncang tubuh kami. Diperjalanan kami singgah untuk mengambil barang-barang yang kami titipkan dirumah Pak Anton. Entah berapa jam perjalanan menuju desa, karena aku tertidur, dan terbangun ketika sudah sampai di travel biro. Kami turun dan aku menyempatkan mengganti pakaian mendaki dengan pakaian bersih. Kami sempatkan mengisi perut diwarung mi tidak jauh dari kantor travel biro itu. Sekitar tengah malam akhirnya kami sudah berangkat melaju menuju Palembang. 

Ac mobil yang dingin menemani istirahat kami diperjalanan. Mobil hanya sekali berhenti disebuah rumah makan tapi kami tidak berniat makan. Saat mobil akan berangkat salah satu dari kami menghayal terlalu lama saat memenuhi panggilan alam, hingga pengumuman beberapa kali dilakukan melalui mike, dan Yadi harus menyusul ke toilet :-p

Jam 04.30 kami tiba dirumah Halida di Palembang. Orang tuanya sudah menunggu dan meyediakan makanan dan minuman hangat. Bukannya istirahat, kami berniat melanjutkan acara dengan berburu foto jembatan sungai Musi. Masih terkantuk-kantuk kami naik lagi kemobil orang tua Halida, kali ini dipiloti oleh Bang Kamser dengan co-pilot Halida. Kami tiba dijembatan dan mengambil foto dari dekat, kemudian mencari tempat mengambil foto jembatan dari jauh. Kami berhenti beberapa kali dan memotret. 

Setelah matahari terbit, berburu foto dihentikan, dilanjut dengan berburu sarapan, kami memilih makanan tradisional Palembang dipasar 16 Ilir. Pasar ini unik karena toko-tokonya yang berwarna-warni cerah. Diperjalanan kembali menuju rumah Halida, kami sempat berkeliling melihat-lihat rumah-rumah tradisional Palembang yang berbentuk rumah panggung. Rumah terbuat dari kayu dan semuanya terlihat sudah dimakan usia. 

Dirumah Halida kami bergantian mandi, tidur dan makan. Sekitar jam 12 kami berangkat mencari oleh-oleh dan langsung membawa semua tas, karena akan langsung menuju Bandara. Diwarung pempek Vico di Jl DI Panjaitan, kami makan dan memesan oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Rekor pemboyong terbanyak dipegang Mbak Titiek dengan jinjingan terbesar, terbanyak dan terberat.

Masih terlalu cepat untuk cek in, tapi kami sudah berada dibandara. Halida dan Ayahnya pamitan pulang, kami menyalami dan mengucapkan termakasih kepada mereka. Rombongan tinggal 6 orang, sama seperti ketika berangkat, padahal dikhawatirkan Ogen akan menghadapi masalah karena pembajakan tiket yang dilakukannya. Sekitar jam 17.00 kami tiba dibandara Soekarno-Hatta, bergegas pulang, bersiap diri untuk nguli lagi, esok 

(jam-jam dalam catper ini kurang lengkap, maklum jam tangan ditinggal di Jakarta karna talinya putus :-D) 

3 comments:

sarah eyie said...

semakin ingin kesana... tak mendaki pun tak apa..setidaknya bisa liat view nya secara langsung

leofold butar-butar said...

perjalanan yang sangat mengenangkan pengen ke gunung ini tapi ga tau kapan

Rina said...

Leo: mungkin nanti kalau sudah mengecil tubuhmu? wkwkkw >_<