Sunday, February 8, 2015

Backpacking ke Cambodia (Kamboja) - Bagian 3

prison s 21, cambodia, kamboja phnomp penh
Foto salah satu tahanan Prison S-21,
sedih banget ya ekspresi nya :"(
Menuju Phnom Penh, 1 Januari 2015

Besok paginya kami dijemput mobil untuk dibawa ke stasiun bis tepat jam 7.30, kemudian diturunkan persis disebelah sebuah bis besar. Inilah bis yang akan membawa kami  ke Phnom Penh. Kami masuk dan langsung ditatap oleh puluhan pasang mata. Mungkin bukan saya yang menarik mata mereka, karena saya mirip dengan orang lokal, tapi Jessica, atau mungkin juga ransel-ransel kami yang besar.


Bis cukup nyaman dan ber AC, tidak seburuk yang saya duga karena harganya yang 63 ribuan, penumpangnya kebanyakan ibu-ibu. Ada seorang ibu dengan 2 anak balita yang membuat suasana ramai (tapi tidak berisik) karena mereka kebanyakan bercanda, walau ada juga bertengkarnya. Seperti bis dari Bangkok yang lajunya bak putri solo lagi jalan, bis ini juga begitu. Geregetan rasanya duduk diam melihat laju mobil yang seperti laju sepeda, siggght.

Pemandangan dijalan adalah dataran panjang dan jalanan kecil yang berdebu, dengan rumah-rumah penduduk dipinggirnya. Bisa diduga bahwa mereka hidup dari bertani, jika melihat ladang dan sawah yang ada disepanjang jalanan. Banyak rumah-rumah itu rumah panggung dengan kaki yang mencapai kira-kira 1.5 sampai 2 m. melihat kondisi tempat, sepertinya tidak ada banjir, saya menduga rumah dibuat begitu untuk menghindari binatang buas. 

Menjelang jam 5 kami mulai memasuki jalan yang agak ramai, kalau melihat jam nya, sepertinya kami akan tiba di Phnom Penh, saya mencari-cari tulisan nama kota itu di plank nama toko-toko tapi tidak ketemu. Hal itu berlangsung lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya menemukan satu, lalu dua. Saya membuka peta yang saya bawa dan berusaha mencocokkan nama-nama jalan dengan yang ada dipeta. Tapi kami tidak tahu bis akan berhenti dimana, jadi kami juga tidak tahu apakah sebaiknya turun atau menunggu sampai stasiun bis. Akhirnya kami turun ketika bis berhenti di (sepertinya) pool nya. Kami menawar tuk-tuk (mereka sepertinya tau penginapan kami) dan ditawari harga $ 15. Harga semakin turun dan semakin turun hingga $ 6 tapi kami ngotot dengan harga $ 2 (itu harga yang kami dengar “wajar”). Kami meninggal pool bis itu dan mencari tuk-tuk lain, kami mendapatkan 1 orang tapi dia tidak tau dimana HostelMad Monkey. Dia mengeluarkan peta dari lacinya dan menyodorkan pada kami, minta petunjuk dimana hostel yang kami tuju. Saya menunjukkan posisinya dipeta, si Bapak mengerti walau akhirnya dia butuh beberapa kali bertanya dijalan, tapi akhirnya kami diantar di hostel yang kami tuju.

Hostel Mad Monkey adalah penginapan terbagus yang saya tinggali selama 20 hari trip ini, saya memang sengaja memilih yang bagus karena saya akan berulang tahun 4 Januari. tempat tidurnya besar, AC nya dingin, kamarnya bersih dan didepannya ada balkon yang bisa buat jemur pakaian, ini penting bgt buat saya, karena saya tidak betah memakai baju 2 kali. Saya mencuci baju setiap selesai dipakai. Kami juga diberi free bir di bar hostel. 

Setelah check in, kami segera mandi dan langsung mencari makan malam. Sulit menemukan apa yang cocok dengan selera, setelah berputar-putar kami akhirnya memilih sebuah rumah makan cina dan memesan ayam goreng campur sayuran yang nikmat sekali, ini makanan terlezat yang saya makan selama trip ini, dan porsinya besar, sampai kami menyerah waktu masih ada beberapa potong lagi, yah dari pada mubazir, terpaksa saya selesaikan :D

2 Januari 2015

Kami pergi mencari travel untuk bis Jessica ke Ho Chi Minh dan juga menguruskan Visa nya. Dia berencana berangkat tanggal 3 Januari, tapi travel agent menyampaikan bahwa kedutaan Vietnam tutup hari itu karena tahun baru. Jadi dia harus menunggu hingga tanggal 5, visa tidak bisa didapatkan diperbatasan seperti di Cambodia. Jessica sangat kesal, karena dia akan terbang dari HCM ke Hanoi tanggal 6 Januari sore, dia ingin menjelajahi HCM selama 3 hari, tapi karena masalah visa ini dia terpaksa harus stay di Phnom Penh hingga 5 Januari. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya kami membeli tiket bis tanggal 4 untuk saya sesuai yang saya rencanakan, dan tanggal 5 untuk Jessica. 


Kami singgah disebuah restoran berkonsep jamur, namanya Ashima Natural Mushroom Hot Pot, kami memesan 1 menu untuk dibagi ber-2 dan 2 buah nasi. Rupanya porsi lauk yang kami pesan tidak cukup banyak, tapi kami memutuskan tidak memesa menu lain. Mereka memberikan jus mangga segar dalam gelas kecil (kurang lebih 5 cm) dan keripik ubi ketika kami menunggu pesanan. Selesai makan, kami diberikan setengah belahan semangka yang dipotong dan diatur dengan manis nya diatas piring. Kami senang sekali, kalau teman-teman ke Phnom Penh, saya sarankan untuk makan disini


Kami kembali ke Mad Monkey dan langsung menanyakan tuk-tuk yang sudah kami booking untuk ke Prison S-21 dan Killing Field. Kami patungan dengan seorang cewek asal Singapore yang sudah menetap di Australia sejak kecil, namanya Rachel. Kami masing-masing membayar $6 untuk trip ini


Hari itu terik sekali, walau dilindungi atap tuk-tuk, panasnya tetap membara, kami menutup tuk-tuk dengan tirai plastik yang disediakan. Banyak debu sepanjang perjalanan sekitar 15 km itu. pertama kami singgah di Prison S-21, tiket masuk $2 tempat ini adalah bekas sekolah yang dijadikan penjara oleh Khmer Merah. Orang-orang ditangkap tanpa alasan yang jelas kemudian disiksa tanpa diadili. Orang-orang dari penjara inilah yang kemudian dibawa dan dibunuh di Killing Field dan dimakamkan secara massa

Ruangan-ruangan (yang tadinya) kelas berisi sebuah tempat tidur besi yang digunakan untuk membaringkan tahanan yang disiksa, tentu saja tempat tidur ini hanya rangka tanpa kasur,  ada sebuah kotak tempat tahanan membuang kotoran. Sebagian ruangan ada kursinya atau besi untuk memasung tahanan. Tempat yang terlihat biasa menjadi menyeramkan karena ada foto tahanan terbaring di tempat tidur itu, dalam kondisi yang penuh luka dan berdarah. Dihalaman depan ada plank besar berisi aturan penjara yang diterjemahkan kedalam bahasa inggris. 


Kami disana sekitar 1 jam lalu kembali ke tuk-tuk yang sudah menunggu dan melanjutkan ke Killing Field. Jalanan menuju pinggiran kota Phnom Penh semakin berdebu. Kami membayar $3 untuk tiket masuk dan $3 untuk audio tour. Titik-titik tempat yang dijelaskan oleh audio tour meliputi tempat truk yang membawa tahanan berhenti, diperiksa, lalu tempat-tempat pembantaian, penguburan, tugu tempat dikumpulkannya tulang belulang korban dll. Sebenarnya terasa kurang terasa lengkap karena bangunan-bangunan yang diceritakan sudah tidak ada, ketika kekuasaan Khmer Merah berakhir, masyarakat menghancurkan bangunan-bangunan itu. Tapi masih cukup mencekam dan sedih, terutama salah satu kisah dalam audio tour mengenai seorang anak yang ditahan oleh Khmer Merah yang bisa selamat karena seorang Bapak tua yang terus-menerus meminta pada prajurit Khmer untuk membebaskan nya. Karena kesal dia dibunuh, si anak bisa lolos dan menyelamatkan diri. Selama dalam tahanan, anak itu selalu mengingat ucapan ibunya yang mengatakan bahwa ia adalah anak yang akan selamat dalam kesulitan apapun. Cerita ini membuat saya tidak dapat menahan air mata. Beberapa kisah dari orang yang berbeda kami dengarkan sambil duduk di kursi disamping sebuah danau. 

prison s 21, cambodia, kamboja phnomp penh
Sisa jenazah yang diangkat dari kuburan masal yang disimpan dalam kotak kaca. Perhatikan sticker penanda berwarna di tengkorak, setiap warna mempunyai arti bagaimana korban dibunuh, dengan tembakan, pukulan dll


Tugu yang digunakan untuk mengumpulkan tulang-tulang yang diangkat dari penguburan massal.
Lambang dipuncak tugu menggunakan naga dan garuda (mereka memakai nama yang sama dg bahasa Indonesia) katanya naga dan garuda selalu ribut, tapi mereka disatukan di tugu ini sebagai simbol kedamaian

Kami disana hingga jam 5 sore, lalu kembali kepenginapan. Dijalan, ketika kami didalam tuk-tuk, kepala seorang bule ganteng nongol dari jendela mobil sambil bilang ke kami: "Hi, you must have been distress after the Killing Field, maybe we can have some drinks together". Kami ngakak bertiga. Cowok itu cengar-cengir. 

Kami meminta pengemudi tuk-tuk untuk menurunkan kami di pasar malam, tapi dia meminta bayaran $3, Rachel menawar $2 tapi dia menolak. Rachel bilang ke kami kalau dia hanya membayar $2 kemarin, jadi diturunkan di hostel dan  pergi lagi ke pasar tidak masalah. Kami cukup jengkel dengan pengemudi tuk-tuk itu, karena menurut kami, dia tidak akan rugi jika menurunkan kami di pasar, apalagi jika kami membayar $2. 

Sampai di hostel, kami turun dan mengambil tuk-tuk lain dengan harga $2, Rachel berhasl membuatnya mau menunggu kami dengan bayaran $4 untuk kembali ke hostel lagi.  Pasar makanan seperti di Indonesia, tempat duduk yang disediakan hanya lesehan. Agak susah memilih makanan, saya melihat banyak tempat makan baru bisa akhirnya memutuskan pilihan, saya memilih kacang panjang yang dibalut dengan tepung lalu digoreng, paha ayam goreng tepung dan udang goreng tepung yang besar tapi ternyata kecil sekali udangnya, tepung pembungkusnya sangat tebal

Kami memakan makanan yang mirip-mirip, ada juga yang makan mi goreng. 2 orang anak perempuan mendatangi beberapa orang turis dan meminta makanan. Si turis memberikan beberapa makanan dengan piring kecil, mereka juga memunguti sisa makanan yang ditinggalkan dan memakan nya saat itu juga

Kami melihat-lihat pasar pakaian setelah makan, tapi tidak ada yang membeli apapun, saya kemudian membeli es krim kelapa yang disajikan langsung didalam tempurung kelapa, dan daging kelapa didalam nya, mirip dengan yang dijual di Bangkok. Kami kembali ke tuk-tuk dan kemudian ke hostel.

3 Januari 2015, Jalan-jalan Dipusat Kota Phnom Penh

Esoknya kami berniat ke Royal Palace, dari Mad Monkey menuju pusat kota tidak terlalu jauh dan jalanan cukup rapi. Kami singgah di beberapa tempat, seperti tugu yang kami tidak ketahui maknanya, dan patung Norodom Sihanouk. Royal palace tutup mulai jam 11 hingga jam 1.30. kami duduk di tepi sungai sambil mengamati keadaan sekitar. Setelah jam 1.30 kami masuk ke Royal palace dan ternyata tidak boleh masuk karena kami ber-2 memakai celana pendek, ada pakaian yang dijual tapi kami tidak berminat untuk mengeluarkan uang sejumlah $20 hanya untuk melihat istana yang kami tak begitu yakin bagus atau tidak. Ya, saya sudah masuk ke royal palace nya Bangkok, saya tidak melihat sesuatu yang terlalu menarik, jadi saya kira yang satu ini juga tidak akan berbeda. Kami pun melenggang mencari mall untuk makan, tapi baru beberapa meter jalan, kami lihat jejeran restoran, mencoba melihat harga dan tidak terlalu mahal. Kami akhirnya makan disana, mi goreng seharga $2 dan juice mangga 1,5

Daerah sekitar Royal Palace, Cambodia
Kami kemudian memutuskan untuk pergi ke Russian Market dengan berjalan kaki, kami tau jaraknya tidak dekat, tapi kami sedang santai dan malas menawar tuk-tuk. Cukup panjang perjalanan, saya kira-kira kami mungkin berjalan sekitar 3 km, tapi tidak sia-sia karena kami mendapati barang-barang lebih murah dibandingkan harga di Bangkok dan Siem Reap. Kami membeli ransel “the wajah utara” 30 liter dengan harga $8. Saat itu rasanya bagai dapat lotre (walau kemudian tali  tas ini robek hanya beberapa hari setelah saya pakai) saya membeli celana “aladin” seharga $2,5. Harga terakhir yang ditawarkan ke saya adalah $3 yang tidak saya beli.

Kami berjalan pulang dan berencana menggunakan voucher free drink kami malam itu. sekitar jam 9 kami ke bar yang terletak di lantai teratas  gedung hostel (sepertinya lantai 5). Suasana remang dan ada beberapa kelompok orang yang sedang mengobrol. Saya bertanya kepada bartender apakah saya bisa mengganti bir dengan coca-cola? Karena voucher yang diberikan tulisannya “free beer” bartender bilang bisa. Saya pun mendapatkan 1 kaleng. 

Kami hanya ngobrol berdua sebelum seorang cowok bertubuh gempal, tinggi,  putih dan berkacamata datang mendekat dan langsung menyapa dengan akrab. Cowok asal Miami, US ini agak bermata sipit, kemudian saya tahu kalau dia ada berdarah campuran suku Indian. Cowok ini banyak bertanya-tanya kepada saya, mulai dari apakah saya muslim? Lalu kenapa saya minumnya coca-cola? apakah saya punya pacar, apakah ada yang saya taksir dikota saya, apakah mantan saya smart atau strong? (serius deh, pertanyaan macam apa ini) saya jawab both, dia tetap memaksa saya harus memilih salah satu. Saya sampai bertanya apakah dia seorang polisi? Dia bilang iya, karenanya saya harus menjawab apa yang dia tanyakann. Nampaknya cowok ini bisa tau kalo gue ini cewek baik, ehem uhuk..uhuk. Dia bilang:  find yourself a good guy before you turn your self into a guy like me. Ini nasehat termanis yang pernah saya dengar dari seorang cowok

Kami ngobrol sampai melewati jam 12 dan saya memberitahunya kalau saya sedang berulang tahun, dia pun mentraktir minuman bernama absynth (nggak yakin ejaan nya benar) minuman nya berwarna orange dan rasanya pahit, yang jelas tidak enak sama sekali. Konon minuman ini sangat keras, tapi 1 setengah shot tidak berpengaruh apa-apa meski buat orang yang tidak pernah minum seperti saya (setengah shot lagi sisa Jessica yang dia paksa harus saya minum).

Dia tentunya bertanya ulang tahun keberapa yang saya rayakan, saya bilang saya malu karena saya sudah tua. Dia pun bilang umurnya 29 tahun dengan maksud mengatakan, hey saya lebih tua, jangan malu. Kemudian dia menebak umur saya 24 atau 25. Dikira lebih muda tuh rasanya kayak abis dapat lotre B-). Cowok lucu ini sangat menyenangkan.

Karena dia berminat untuk ke lombok, saya merekomendasikan dia untuk mendaki Rinjani, saya membuka foto album Rinjani saya di facebook dan menunjukkannya. Dia langsung terpesona dan memutuskan untuk ke Lombok dan mendaki Rinjani.

Cowok ini jelas lah sudah membuat ulang  tahun saya berwarna, kami berpisah malam itu didepan hostel, sayang sekali saya tidak sempat mengucapkan terimakasih atas kelucuan yang dia buat yang membuat ulang tahun saya meyenangkan 


Perjalanan saya berlanjut ke Vietnam

Harga-harga:


Bis Siem Reap - Phnom Penh $ 5 Hostel Mad Monkey $ 7

Tiker Prison S-21 $ 3 + audio tour $ 3
Tuk-tuk ke Prison S-21 dan Killing Field $ 18




No comments: