Sunday, February 8, 2015

Jalan-Jalan (Backpacking) ke Vietnam - Bagian 2



Fairy Stream, Mui Ne, Vietnam
Ini adalah bagian ke 2 tulisan ini, bagian pertama bisa dilihat disini. 

Saya meninggalkan mbak Violet galau untuk mencari penginapan, saya sudah mendengar bahwa penginapan di Mui Ne lebih mahal dari pada HCM, karena disana biasanya resort. Saya berhenti di beberapa penginapan dan harganya diatas $ 20. Bahkan Backpacker hostel pun harganya $ 20. Saya nampaknya harus iklas dengan harga sekian, fikir saya. 


Saya bertemu dengan pasangan yang berasal dari Perancis yang tadinya 1 bis dengan kami, mereka juga sedang menyusuri jalan mencari penginapan. Mereka mengatakan bahwa tadi singgah disebuah hostel yang harganya $ 10. Tapi dengan harga berdua di dorm, mereka pikir mereka akan mendapatkan private room. Saya bertanya apa nama penginapan itu, si cowok dengan baik hatinya menurunkan tas ranselnya, meminta si cewek untuk tetap berdiri disana dan mengantarkan saya ke hostel tersebut. Seandainya saya menjadi dia, mungkin saya hanya akan menyebutkan nama penginapan dan arahnya, sekali lagi saya belajar kebaikan dari orang yang benar-benar asing

Saya tidak mau berlama-lama mencari penginapan, begitu saya melihat kamar yang disediakan, saya langsung membayar. Saya juga sekalian booking Sand Dunes tour untuk besok pagi, menyimpan tas dan mencari mbak Violet, rupanya dia sudah berangkat, kami tidak bertemu lagi di Mui Ne. Saya mencari makan siang dan kemudian mencari dimana pantai berada, tanpa menyadari kalau pantai adanya dibelakang penginapan saya, hanya beberapa langkah. Saya tidak tahu bahwa penginapan-penginapan itu dibuat sepanjang pantai. 


Kolam renang hotel saya
Saya segera mengganti pakaian saya untuk berenang, sayang sekali baju renang tidak ada dalam ransel,  celana pendek dan baju tanpa lengan jadi pilihan “terpaksa”. Angin sangat kencang dan ombak cukup kuat, saya hanya berani duduk didekat air dan segera disambar ombak cukup besar. Saya tidak berani berenang. Tapi ombak besar ini sangat menguntungkan orang-orang yang bermain ski dengan layar (entah apa namanya) yang banyak disepanjang pantai. Saya cukup senang dengan adanya kolam renang, walau ukurannya kecil. Saya berenang-renang sampai sore, lalu jalan-jalan sore sambil mencari makan malam. 

Karena harus bangun jam 4.30 untuk tur Sand Dunes, saya tidur lebih awal, tapi ternyata malam itu adalah malam terpanjang yang akan saya alami selama liburan. Beberapa ekor nyamuk berdenging sepanjang malam ditelinga saya. Saya tidak bisa tidur hingga subuh. 

San Dunes (8 Januari 2015)

Jam 4 saya sudah bangun, berganti pakaian dan  turun menunggu di lobby. Jam 5 sebuah jeep datang dan saya segera naik. Udara dingin sekali, saya memakai lengan panjang dan sweater tetap  merasa kedinginan, padahal dibelakang tempat duduk saya, seorang cewek berwajah oriental memakai baju tanpa lengan dan celana pendek sekali. Mungkin dia dari negara dingin, pikir saya. Perjalanan kira-kira 45 menit, kami diberi waktu 40 menit untuk melihat sunrise.


Fishing Village, Muyi Ne, Vietnam

Fishing Village, Muyi Ne, Vietnam
Tidak mudah berjalan diatas pasir Sand Dunes karena kaki terbenam cukup dalam. Ketika berjalan menuju jeep, seorang cowok membawa motor ber ban besar (entah apa namanya). Saya melambai meminta dia membawa saya, dia berhenti dan menaikkan saya, lalu memacu motor dengan kecepatan pembalap. Dipasir yang bergelombang, ada perasaan seakan saya akan terjatuh. Saya berpegangan sambil bertriak-teriak ketakutan. Tapi nampaknya ini malah membuat dia senang dan memacu motor lebih kencang. Saya senang sekali waktu kami sampai dan dia menghentikan motor. 

Rupanya saya terlalu sibuk foto-foto dan menikmati pemandangan hingga ketika saya kembali, group saya sudah meinggalkan saya. Seorang pengemudi jeep mendekati saya dan mengatakan jeep saya sudah pergi dan pengemudinya menitipkan saya kepada dia. Sialan. Walau ada jeep yang akan membawa saya, entah mengapa perasaan ditinggal itu tidak enak. Mungkin karena orang-orag di jeep menjadi orang yang sama sekali asing.

Daging buaya dipajang di depan restoran, ada yang mau?
Perjalanan berikutnya ke Red Sand Dunes, padang pasir yang berwarna coklat kemerahan, warna yang jauh dari merah, tapi entah mengapa diberi nama ‘red’. Tempatnya tidak jauh dari jalan raya, kami diturunkan dijalan raya dan diberi waktu 20 menit untuk melihat-lihat.  Saya tidak begitu tertarik untuk berfoto-foto. Saya Cuma melihat dari pinggiran, disebelah ibu-ibu penjual makanan bakulan. Saya memesan minuman semacam tongseng, tahu lembut dengan kuah rasa jahe, saya membayar 10,000 dong untuk ini. 

Kami melanjutkan perjalanan menuju Fishing Village, diturunkan dipinggir jalan dan diberi waktu 20 menit saja. Posisi laut jauh dibawah jalan raya, kami harus menuruni tangga untuk melihat ratusan nelayan yang menjual tangkapan mereka. Cukup menarik untuk dijadikan objek foto, saya menjadi orang yang terakhir dari rombongan saya yang meninggalkan tempat itu. ketika menaiki tangga, saya melihat supir sudah berkacak pinggang dan memberi kode supaya saya mempercepat langkah saya. Beginilah ikut rombongan tour, waktu terbatas, padahal saya masih ingin berlama-lama disana.

Fairy Stream


Selanjutnya kami ke Fairy Stream, driver kami memberi waktu 40 menit. Perjalanan menyusuri sungai kecil dengan berjalan langsung disungainya. Air sejuk menyentuh kulit kaki kami, dasar sungai berpasis dan bagian terdalam hanya sebetis, jadi sangat nyaman. Dikiri dan kanan sungai tebing-tebing pasir membuat pemandangan menjadi indah, selain melindungi kami dari matahari yang mulai menyengat. Kami berjalan pelan-pelan dan berfoto-foto. Saya tidak perlu terlalu memikirkan apakah saya keasyikan sampai lupa waktu, karena rombongan saya berjalan bersama saya. Tidak mungkin driver meninggalkan kami semua sekiranya kami beberapa menit terlambat. Pada satu titik, sungai menjadi dalam, sehingga kami tidak berniat melanjut untuk melihat air terjun kecil yang ada di ujung. Kami kembali ke jeep

Untuk perjalanan seharga $7 + 10,000 dong di pintu masuk, saya cukup puas dengan tour ini, meski semua serba dibatasi waktu. Kami diantarkan kembali ke penginapan masing-masing, saya tiba dipenginapan sekitar jam 10, saya mencari makan dan packing untuk check out. Setelah barang-barang rapi, saya berenang dikolam yang sejuk dan biru, dilengkapi keripik pisang dan sebotol air. Saat seperti inilah hidup terasa benar-benar indah, perasaan merdeka, sendiri dan menjadi orang asing di tempat yang indah adalah perasaan yang menyenangkan. Sambil berenang, saya berkomunikasi dengan Christy, seorang yang saya kenal dari Backpacke Dunia, yang akan datang untuk ikut tour Sand Dunes dan langsung kembali ke HCM. Saya booking kan tour jam 2 dan dia sudah di bis menuju Mui Ne. Dipinggiran kolam saya melihat sepasang suami istri yang berumur sekitar 50 menjelang 60 tahun sedang berjemur dan saling mengoleskan sun block ke punggung pasangannya. Sejuk rasanya melihat pemandangan begini, memberi harapan bahwa cinta bisa bertahan sampai usia dan gravitasi sudah berkuasa atas tubuh manusia.

Saya selesai berenang menjelang jam 1 untuk check out dan makan siang. Kemudian saya menunggu Christy sambil terus berbalas message. Kami sudah cemas kalau dia tidak akan tiba di penginapan saya waktu  jeep menjemput untuk tour Sand Dunes. Jam 1.45 jeep datang, saya panik dan Christy juga panik. Saya memeriksa posisi dia setiap dia memberitahukan apapun tanda-tanda yang dia lihat dijalan, nama jalan, nama-nama resort, sepertinya sudah dekat. Saya minta tolong agar supir jeep menjemput yang lain dulu. Dia bilang kalau jam 2 Christy tidak ada juga, mereka tidak akan menunggu lagi. Panik panik. 15 menit kemudian jeep nongol lagi, saya bilang teman saya belum datang, saya mwlihat ke jalan dan melihat ada bis yang akan melintas. Mungkin dia di bis ini? Kata supir jeep. Saat itu saya yakin dia tidak di bis itu karena melihat posisi di gps dia masih ada jarak sedikit dengan tempat kami. Rupanya Christy tiba-tiba nongol dari pintu bis, sambil tergopoh-gopoh langsung berjalan kearah kami, saya tawarkan dia untuk meninggalkan tasnya. Jeep langsung berangkat. 

Kembali ke 
Ho Chi Minh 9 Januari 2015

Kami kembali ke Ho Chi Minh jam 2 pagi dan tiba di jam 7.30 an, saya sudah booking sebuah hostel bernama Vinh Hostel, lokasinya tepat didepan Eco Backpacker Hostel tempat saya menginap selama di HCM sebelumnya, saat itu Eco Backpacker Hostel sedang penuh, jadi saya memilih hostel yang sudah saya ketahui letaknya. Saya diberi kamar di lantai 5 yang harus saya naiki dengan tangga, membuat saya semaput ketika sampai diatas, dan, tidak mungkin dilakukan tanpa istirahat ditengah jalan. Kamar tidak ber AC, colokan hanya ada 2 untuk 7 bed. Saya memang tidak begitu memperhatikan review ketika booking kamar ini, karena mbak Violet menginap disini, dan dia tidak menceritakan hal-hal yang tidak memuaskan disana. 

Christy akan terbang ke Hanoi sore itu, jadi dia memutuskan untuk menjelajahi kota dengan ojek, untuk mempersingkat waktu. Dia menaruh tasnya di hostel dan kami berpisah. Saya berjalan-jalan ke kantor pos yang posisinya ternyata disebelah Gereja Kathedral, mosok sih saya nggak lihat bangunan ini waktu saya ke Kathedral beberapa hari yang lalu? mungkin karena gedung yang di cat dengan warna kuning dan putih, jadi bentuknya luput dari perhatian saya, karena tidak terlihat unik atau klasik. menurut saya, gedung tua dan sangat khas Eropa ini mustinya di cat putih polos, untuk mempertahankan kesan klasik/kuno nya. Bagaimana mau terlihat jadul kalau catnya kuning ngejreng gitu. Saya masuk ke gedung pos dan melihat ramainya turis yang sedang mengirimkan kartu pos atau hanya sekedar foto-foto. Kesan klasik lebih terasa didalam. Saya membeli beberapa kartu pos dan mengirimkannya ke beberapa teman. Saya cuma mengingat alamat tempat bekerja dan alamat yang ada di percakapan whatsapp yang kebetulan masih ada di hp saya, saya ingin mengirimkan kepada yang lain juga, sayangnya saya tidak tau alamat mereka (dua minggu kemudian saya dikabari ketika kartu-kartu itu sampai, senang membuat teman-teman senang)

Museum Seni


Saya melanjut perjalanan ke museum seni, meski saya tidak penggemar lukisan atau patung-patung saya tetap ingin kesana. Bisa saya katakan saya tidak terkesan dengan benda-benda yang dipajang disana. 

Semua perjalanan hari itu saya lakukan dengan berjalan kaki, melelahkan tapi menyenangkan, walau saya sempat jalan kearah yang salah

Sore itu saya berjalan-jalan kearah Pasar Ben Tanh untuk melihat stasiun bis tempat saya akan mengambil bis menuju bandara. Saya melihat nomornya di pajang di halte, ok aman. Saya tinggal datang besoknya kesana.





10 Januari 2015

Pagi hari saya sudah sarapan dan berangkat menuju bandara, saya tiba terlalu cepat dan counter check in belum dibuka. Saya menunggu di tempat duduk yang disediakan. Kebetulan saya duduk disebelah cowok bertampang India. Benar saja dia berasal dari India, dia dalam perjalanan bisnis. Kami mengobrol dan dia menanyakan apakah saya pernah ke India, saya bilang belum. Kemudia dia bertanya apakah saya tertarik untuk datang ke India? Jujur saya jawab saya tertarik tapi takut karena membaca banyaknya berita pemerkosaan di India. Dia mengatakan sebaiknya kalau jalan disana ditemani teman pria, kalau bisa penduduk lokal, dan tidak keluar setelah jam 7 malam, katanya perempuan setempat selalu membawa pepper spray (semprotan bubuk merica) kemana-mana untuk melindungi diri. Dalam hati saya berkata, jika sedemikian terancamnya saya ketika travelling, maka saya lebih baik pergi ke tempat lain yang lebih aman, karena saya belum jalan banyak, masih banyak tempat didunia ini yang belum saya jalani, dan tempat-tempat itu masih dalam kategori aman. 

Saya terbang sekitar 2 jam dan tiba di Singapore sore, saya sudah mempersiapkan beberapa nama hostel untuk tempat saya menginap kalau saya tidak sempat mengejar kapal terakhir ke Batam. Ternyata saya tiba di Harbour Front jam 6 an, saya booking kapal berikut yang akan berangkat dan makan meski waktu sudah sangat sempit. Alhasil saya makan mi panas itu dengan buru-buru hinggal lidah saya terbakar. Saya berlari-lari menuju ruang tunggu dan segera naik ke kapal. Dirumah kemudian saya mengetahui kalau emak saya mengalami kecelakaan ketika menggoreng kembang goyang, makanan yang dipersiapkan nya untuk menyambut tahun baru, jadi ceritanya dia duduk di bangku plastik kecil, ketika tangan nya sedang berada diatas penggorengan, kaki kursi plastik itu terpelekok dan tangan nya masuk kedalam kuali n yang banyak minyak panas didalam nya. Dia segera kedokter dan dikasi obat, awalnya luka nampak merah saja, kemudian meleleh dan mengelupas. Kondisi itulah yang saya lihat ketika pulang. Padahal saya menelepon ketika di Thailand, dia tidak menceritakan apapun. Rasa ngeri dan perasaan bersalah rasanya tidak ada gunanya. Sorenya saya langsung menemani emak berobat lagi karena obatnya sudah habis. Dan itu adalah berobat yang ke 3 kalinya :’(

No comments: