Sunday, February 22, 2015

Jalan-Jalan ke Thailand (Phuket & Bangkok)


Berangkat dengan Bis
 
Karena tiket yang menggila, dan mencapai angka 3 jeti, saya mengambil alternatif bis untuk trip saya ke Thailand. Berangkat dari Pelabuhan Batam Center naik kapal jam 11.40 pagi, lalu menyambung dengan bis dari Johor jam 7 malam. Saya menyiapkan banyak waktu untuk perjalanan dari Stulang Laut (pelabuhan di Johor) ke terminal bis yang namanya Larkin untuk menjaga-jaga siapa tau saya nyasar karena saya akan naik bis umum (bukan taksi).
 



Saya membawa 2 buah ransel, 1 ukuran sekitar 40 liter dan ransel kecil tempat membawa dompet, kamera, paspor dll yang akan lebih aman kalau selalu nempel ditubuh saya. Berbekal ayam gorengan emak untuk  makan siang dan malam saya pun berangkat. Saya sampai sekitar jam 3 waktu setempat, sehingga punya banyak waktu luang, saya menukarkan bukti booking online saya ke counter bis dan mendapatkan tiket (saya beli seharga Rp. 300,000,-), lalu duduk-duduk di Dunkin Donut menunggu waktu berangkat. Menjelang  jam 5 saya menyempatkan diri untuk mandi sore di toilet umum supaya segar di bis nanti.

Waktu berangkat tiba, saya minum antimo dan tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Memang bis yang saya ambil adalah sleeper bus yang menungkinkan penumpang tidur dengan posisi berbaring. Bis sering berhenti di pom bensin dan pak supir mengumukan penumpang boleh ke toilet, saking sering nya saya sampai mikir, jangan-jangan supirnya yang keseringan pengen ke toilet, bukan karena pertimbangan penumpang hehe…Bis juga beberapa kali berhenti di rumah makan yang besar-besar, yang terdiri dari beberapa penjual makanan, semacam food court gitu deh. 




Kehabisan Uang Ringgit
 
Karena cuma singgah untuk ambil bis di Malaysia, saya hanya menukarkan sedikit uang ke ringgit, sekedar ongkos naik bis dan makan. Saya menyesali hal itu, karena di suatu rumah makan, saya ngiler bingits lihat teh manis panas dan tidak punya cukup ringgit untuk membayar nya, saya merasa jadi orang paling malang didunia saat itu. Saya mengorek-ngorek tas dan kantong, akhirnya saya menemukan koin yang cukup untuk membayar teh manis itu (sedih banget ga sih).


Memasuki Thailand, supir bis meminta uang untuk asuransi, karena (katanya) pemerintah Thailand mewajibkan penumpang untuk membeli asuransi. Saya harus membayar (kalau tidak salah ingat) 5 ringgit, saya menjelaskan kalau saya tidak punya uang ringgit lagi, supir menjelaskan bahwa saya tidak boleh masuk Thailand tanpa asuransi. Saya mengeluarkan uang baht dan bertanta apakah boleh saya pakai baht? (sengaja deh saya keluarin uang baht saya yang banyak itu, supaya mereka nggak menganggap saya gelandangan yang tidak punya uang hehe...) Supir menerima baht saya, dia bersama-sama dengan penumpang yang kebetulan berdiri didekat situ menghitung konversi  baht ke ringgit, lalu mengembalikan uang kembalian saya dalam ringgit.

Jam 6.10 pagi kami tiba di perbatasan Malaysia dengan Thailad, kami semua turun untuk mendapatkan stempel imigrasi tanda keluar dari Malaysia. Kemudian di imigrasi Thailand kami harus membawa semua barang kami dari bis untuk di scan. Salah satu proses yang bikin kita males bingits karena masih pagi dan baru saja bangun, tapi apa boleh buat, tetap harus dilakukan. 


Karena bingung soal proses keluar dari bis - pemeriksaan imigrasi - dan dimana naik bis lagi, saya bertanya pada seorang cowok Thailand, yang menjelaskan dengan sabar. Katanya dia adalah penjaga hutan Thailand yang ke Malaysia untuk bertanding bola, dalam rangka apa saya tidak mengerti, dia kesulitan menjelaskannya dalam bahasa inggris

Pagi yang cerah dan baru selesai hujan, kami tiba di Hat Yai, saya meminta untuk diturunkan di tempat saya bisa mengambil bis ke Phuket. Mereka menjelaskan di tempat bis itu berhenti nanti saya bisa mendapatkan bis ke Phuket, baiklah. 


Kami tiba diperhentian bis itu (sepertinya salah satu kantor cabang mereka). Saya turun dan langsung menanyakan bis ke Phuket, staff nya menelepon pihak travel bis ke Phuket dan dikasi tau kalau bis yang pagi jam 8 sudah penuh, bis berikutnya  jam 12 siang. Saya bilang saya tidak mau menunggu selama itu, saya harus sampai di Phuket sore. Mereka menyarankan saya ke terminal dan memanggilkan ojek. Mereka mengatakan saya akan membayar 50 baht untuk ojek. Ojek pun membawa saya ke terminal yang jaraknya kira-kira 10 menit naik motor. Saya langsung nyari counter yang ada tulisan “phuket” nya yang dilengkapi harga, karena saya tidak bisa bahasa Thailand, saya tak mau kena tipu, jadi lebih baik kalau beli yang sudah dipajang harganya. Saya menemukan 1 dan memeriksa 1 lagi untuk membandingkan harga, saya memilih yang lebih murah, 293 Baht (sekitar 117 ribu). Bis akan berangkat 20 menit lagi, saya sempatkan membeli nasi yang sudah dikemas dalam kotak, harganya 30 baht atau Rp 12,000,-

Saya duduk dibangku paling belakang dan karena bis nya ada wifi, saya bisa komunikasi dengan Ibu Komang soal ketibaan saya, dia minta saya turun di kepolisian Thalang. Ibu ini adalah istri manager saya waktu bekerja di Bintan, Ibu orang Bali dan suaminya kebangsaan Singapore. Saya akan tinggal disana nantinya selama di Phuket. Disebelah saya ada 3 orang cewek Thailand yang ramah, mereka dengan sabar menjelaskan  ketika saya bertanya soal tempat saya turun nantinya.

Bis Diperiksa Petugas Sangar

Menjelang sore pemandangan mulai menarik, kami melewati Pha Nga, disisi jalan banyak tebing-tebing menjulang tinggi , yang sebagian besar ditutupi pohon-pohon, indah banget. Tapi karena baru aja ada musibah longsor di Banjarnegara, saya kepikiran juga bagaimana kalau tiba-tiba tebing itu longsor ke jalan, cukup horor juga perasaan waktu itu. selain pemandangan yang menarik, saya juga memperhatikan kenek mobil yang sepertinya masih berusia belasan, yang berpakaian rapi dan bersih. Dia memakai kemeja putih  lengan pendek, dengan celana jeans yang bersih, orang nya sopan dan ramah.

Sekitar jam 3 an, kami memasuki Phuket melalui  jembatan penghubung. Kami berhenti dan beberapa polisi berwajah sangar masuk kedalam mobil dan memandangi wajah-wajah kami. Dia berbicara dengan satu orang cowok (yang sepertinya dalam bahasa Thailand) tas cowok itu digeledah, mungkin semacam pemeriksaan acak, tidak ada yang ilegal dalam tas cowok itu barangkali, mereka turun dan kami melanjutkan perjalanan.

Karena saya sudah bilang minta diturunkan dikantor polisi Thalang, menjelang tempat itu, mereka suruh saya siap-siap. Saya diturunkan dan mejeng didepan kantor polisi dengan gaya petualang sejati, 1 ransel besar, dan 1 ransel kecil, berdiri dengan pede nya.

Kira-kira 10 menit kemudian Ibu komang manggil dari seberang jalan, saya langsung menyeberang dan masuk ke mobil, eh Ibu sendiri, rupanya pak William sedang di salon lagi potong rambut, kami menyusul kesana, menunggu sebentar dan langsung pulang. Ternyata rumah mereka ada 2 kamar yang kosong, dan saya dikasi 1 kamar yang bersih lengkap dengan tempat tidunya. Saya mandi dan diajak makan malam di Laguna Phuket Outrigger, salah satu hotel group tempat Pak William bekerja (tempat saya kerja dulu juga). Akhirnya bisa lihat juga property nya Laguna Holiday Club di Phuket, dulu saya hanya bisa ngiler melihat dari foto-foto. Sayangnya hari sudah malam, pemandangan tidak kelihatan.

Wat Chalong

Paginya saya ditemani Ibu Komang ke Wat Chalong, tidak ada yang istimewa dengan candi ini. Cuaca mendung dan Pak William menghubungi untuk mengingatkan kalau hujan sebaiknya kami tidak usah ke Big Budha yang lokasinya diatas Bukit, hujan yang tidak diharapkan akhirnya datang juga, Pak William telepon lagi untuk melarang kami ke Big Budha, akhirnya kami pulang

23 Desember 2014

Pak William mengajak saya untuk ikut acara pesta natal yang diadakan di sekolah bahasa Thailand tempat Ibu belajar, masing-masing diminta membawa makanan untuk dihidangkan diacara nanti, dan ibu akan bikin sandwich tuna dan ayam. Sore itu saya belajar cara bikin sandwich ala Ibu Komang. Kami ke supermarket besar (lupa namanya) untuk membeli hadiah untuk tukaran kado dan bahan untuk sandwich. Kami makan siang disana, saya makan phad tai yang terkenal itu dan Ibu makan ikan yang dimasak mirip asam pedasnya masakan padang, tanpa nasi (gimana nggak kurus buu)

Sorenya, dengan 2 orang sales, rekan kerja Bapak di Laguna, kami berangkat ke pesta Natal, sampai disana, meja penuh dengan makanan yang dibawa oleh masing-masing yang datang, karena yang datang campuran orang lokal dan pendatang, maka makanan nya pun dari berbagai negara, perpaduan timur dan barat.

Jangan dikira pesta natal nya ada semacam kebaktian atau doa kayak di negara kita, yang ada cuma makan-makan, ngobrol, dan pastinya foto ria. Dan jangan kira yang datang cuma penganut kristen, Budha, hindu dan muslim juga ada.  Obrolan berkisar soal asal dari negara mana, sudah berapa lama tinggal di Phuket, pekerjaan dan travelling. Obrolan semacam ini juga sering dibicarakan   kalangan expatriate, waktu saya bekerja di Cina dulu, juga orang-orang yang kita jumpai ketika travelling. Kami makan-makan sampai perut (ke)penuh(an), lalu pulang


Phi-Phi Tour
(24 Desember 2014)

Saya akan berangkat ke kho Phi-Phi untuk snorkeling, jam 6 saya sudah siap-siap mandi dan sarapan milo. Jam 7.30 sudah stand bye didepan simpang rumah menunggu jemputan. Saya berdiri dijalan itu sampai jam 8 tapi tidak ada mobil yang mendekat. Saya menelepon Pak William (karena dia yang membantu saya memesan tour ini), beliau minta saya menunggu selagi dia menghubungi agen yang menjual paket itu. Sambil menunggu saya berinisiatif menghubungi nomor yang tertera di voucher pemesanan, yang menerima telepon menanyakan nomor voucher yang saya pegang,dia mengatakan nomor itu bukan nomor voucher dari mereka, saya mulai panik, saya telepon pak William yang diangkat Ibu Komang, katanya mobil jemputan sudah on the way. Saya bernafas lega. Tidak lama mobil yang saya tunggu datang, drivernya turun dan menanyakan apakah saya Rina? Saya jawab iya, saya pun naik didepan, disamping supir, dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa si wanita yang menjawab telepon saya memberikan jawaban seperti itu? Mengapa nomor voucher saya tidak dikenali? Sebenarnya masalahnya hanya sedikit keterlambatan penjemputan, tapi jawaban orang yang saya tanya lewat telepon itu cukup membuat gonjang-ganjing hati saya, istilah sekarang galau

Entah berapa kilometer perjalanan menuju pelabuhan, saya tidak ingat persisnya, tapi rasanya sangat jauh dan berkelok-kelok, menjelang jam 10.30 kami sampai, ada orang yang menyambut dan menempelkan sticker di bahu saya, untuk memberi kode masing-masing agen travel yang mengurusi kami. Nampaknya mereka menggabungkan peserta dari berbagai travel agent dan menyewa 1 kapal besar.

Saya melihat sepertinya semua yang dikapal punya teman seperjalanan, cuma saya yang sendiri. Saya mengamati dari balik kaca mata hitam berbagai macam bangsa yang ada dikapal itu, kalau mereka berbicara, saya menebak-nebak asal mereka.

Beberapa pemandangan kadang membuat geli, misalnya: entah dari mana tiba-tiba seorang  wanita yang bertubuh aduhai berdiri sangat dekat didepan 2 orang pria yang mengobrol (aduhai yang saya maksudkan disini adalah aduhai yang berukuran ekstra, semacam ukuran JLO dikalikan 3), pemandangan ini langsung menghentikan obrolan mereka dan mata mereka menatap ke wanita itu mulai dari atas  kebawah. Saya hampir tidak bisa menyembunyikan senyum. Didepan saya ada seorang wanita memakai jilbab, kalau melihat tampangnya sih mirip orang Indonesia, dia dengan (mungkin) suaminya, atau  pacarnya, mereka ngobrol tapi karena suara mesin kapal, saya tidak bisa mendengar cukup jelas untuk menyimpulkan bahasa yang dipakai. Kegiatan rutin solo traveller, diam dan mengamati

Dikapal kami mendapat kopi, teh manis dan biskuit selai nenas gratis, saya memang lapar, tapi biskuit kayaknya nggak cocok untuk jenis lapar yang saya derita, jenis lapar saya agak kronis dan hanya mampu diatasi dengan makanan berat semacam nasi atau mi, karena jam nya sudah menjelang makan siang.

Snorkeling

Kira-kira jam 11.30 kapal berhenti, kami dibagi menjadi kelompok diving, dan snorkeling, masing-masing diarahkan untuk menaiki kapal yang berbeda dengan ukuran  lebih kecil. Kami berlayar sedikit lalu dipersilahkan nyebur untuk snorkeling selama 1 jam. Hanya 1 jam? Saya langsung dongkol. Saya menitipkan tas pada kru dan memberikan kamera, minta tolong mereka ambilkan foto saya (lagi-lagi, nasib jalan-jalan sorangan)

Saya berenang menjauhi kapal dan melihat tidak ada yang bisa dilihat dibawah, saya menjauh kapal dan mendekati  tebing yang ada didekat situ, semakin mejauh semakin banyak ikan dan karang yang bisa dilihat, dasar laut pun semakin dangkal. Karena melihat beberapa orang berdiri disamping tebing itu (rupanya dangkal disana) saya terus berenang kesana.

Saya asyik melihat-lihat ikan warna warni saat saya menyadari sepertinya teman sekapal saya sudah berada di daerah sekitar kapal. Apa saya sudah terlalu lama? Saya langsung buru-buru kembali kekapal karena takut ditinggal, kan nggak lucu kalau saya mengapung-apung disana sendiri dan kapal saya sudah pergi. Sampai dikapal saya bertanya sudah jam berapa saat itu pada kru, mereka bilang masih ada waktu 30 menit lagi, asem, masih banyak waktu!

Karena menuju tebing itu cukup jauh, saya memutuskan untuk berenang disekitar kapal saja. Tiba-tiba saya melihat serombongan besar ikan warna warni, jumlahnya mungkin ribuan. Salah seorang cowok memegang semacam makanan yang disebarkan kearah ikan, sepertinya sih biskuit. Saya tidak tahu apakah biskuit ini yang membuat ikan-ikan itu datang, atau memang ikan-ikan itu kebetulan lewat. Selanjutnya saya sibuk menangkapi mereka tapi tidak ada satupun yang dapat, kesenggol juga tidak, benar-benar lincah mereka. Tidak berhenti saya berteriak wahhh, wowww, didalam air sambil berusaha menyentuh ikan-ikan itu

Setelah saya mengira-ngira waktu, saya rasa sudah jam 1an, saya naik dan mengembalikan perlengkapan snorkeling, membilas badan saya dengan air yang disediakan gentong karet, lalu berganti dengan pakaian kering. Saya lalu meminta kamera dan hp saya dari kru. Kapal meninggalkan tempat itu dan menuju pulau Phi-phi untuk makan siang.  Kami diminta untuk kembali jam 2.30 (saat itu sudah jam 1.30)

Suasana hotel tidak begitu ramai saat saya sampai, rupanya rombongan kapal kami duluan sampai dari kapal-kapal yang lain, namun beberapa menit kemudia  hotel dipenuhi orang-orang yang akan makan siang. Saya diarahkan duduk dengan orang lain yang saya tidak kenal.

Makanan terdiri dari ayam tumis dengan sayur, cumi goreng tepung, ayam goreng, onion ring, tom yum, dan tentu saja nasi. Jam makan yang sudah terlambat dan akibat baru berenang membuat saya sangat lapar. Makanan yang disajikan sangat enak, saya memang hampir selalu cocok dengan cita rasa makanan Thailand. Tanpa malu-malu saya makan dengan porsi besar dan lahap, orang yang semeja dengan saya mungkin melirik saya.Ketika makanan nyaris sirna dari meja makan, pelayan datang menambahkan makanan lagi. Tidak menyesal saya ambil paket tur ini, lebih tidak menyesal lagi kalau waktu snorkeling lebih dari 1 jam


 
Selesai makan saya berjalan keluar untuk melihat-lihat barang dagangan yang dijual untuk turis, harganya tidak murah, jadi saya tidak membeli apapun. Saya sempat panik karena berjalan salah arah dan waktu kembali ke kapal sudah tiba. Sukurlah saya sampai tepat waktu dan  ternyata kapal mengabsen satu persatu penumpangnya, dan menunggu yang belum kembali. Ada yang memotret penumpang dan mencetak foto mereka lalu dijual dengan dilengkapi pigura dari plastik. Karena foto saya cukup bagus, saya pun membelinya seharga 100 baht atau sekitar Rp 40.000,-

Perjalanan kembali saya nikmati dengan melihat pemandangan sepuas-puasnya, para penumpang terlihat kecapean. Kami sampai di dermaga dan pihak travel agent sudah membagi-bagi nama kami kebeberapa mobil untuk diantar ke penginapan kami.

Perjalanan dari dermaga menuju tempat saya terasa lama dan jauh, saya duduk didepan dan ngobrol dengan pengemudinya, obrolan terasa aneh ketika si mas itu mulai mengajukan pertanyaan aneh, seperti apakah saya punya pacar dan mengapa pacar saya tidak ikut liburan (males bingit). Pak William menelepon untuk menanyakan dimana posisi saya, karena mereka akan makan malam dan saya masih jauh, kunci rumah dititipkan ke tetangga.

Dengan sedikit bahasa tarzan saya berhasil mengambil kunci tersebut dari tetangga. Tidak lama setelah saya sampai, Pak William dan Ibu juga sampai, mereka membawakan saya makan malam, they are so nice, saya nggak enak hati menerima kebaikan mereka. Lama saya tidak menyentuhnya, karena perut saya sangat penuh ketika makan di Phi-Phi tadi. Kami ngobrol didepan tv, akhirnya jam 9 lebih saya makan juga makanan yang dibawakan itu.

Piknik Cantik ke Pantai

Hari ini kami akan piknik dipantai dengan Ibu, sebelum saya berangkat ke Bangkok sore jam 6. Pagi-pagi saat saya mencuci baju, Ibu sudah siap-siap membungkus makanan yang akan kami bawa piknik. Pantai yang saya lupa namanya itu berada tidak jauh dari property milik Angsana Group. Pantai tidak ramai karen saat itu adalah hari kerja dan juga mungkin karena posisi nya yang tidak sepopuler pantai semacam Pathong. Kami duduk-duduk dibawah pohon sambil menikmati cemilan dan pemandangan. Kami foto-foto sampai gaya maksimal, mulai gaya centil sampai lompat-lompat. Saya mandi-mandi sendiri saja karena bu Komang nggak mau basah-basahan.

Sorenya saya packing dan diantar Pak William dan Ibu ke stasiun bis. Bis yang mustinya sampai jam 6.30 tiba hampir jam 7.30, saya sempat gelisah. Di sleeper bus itu saya duduk disamping cewek, syukurlah, dan tv yang ada didepan menayangkan acara berbahasa Thailand dan suaranya keras sekali, karena speaker besar ada dibelakang saya. Penderitaan saya berakhir 2 jam kemudian karena nampaknya supir mengerti kalau penumpang sudah akan mulai berusaha tidur, tv dimatikan. Saya yang minum antimo tidur dengan mudah. Saya hanya terbangun 1 atau 2 kali lalu tertidur lagi. Sekitar jam 8 pagi kami tiba di Thailand, kalau tidak salah Mochit terminal. Saya berputar-putar mencari petunjuk arah MRT malah menemukan stasiun kereta antar kota. Saya bertanya kebeberapa orang, banyak yang tidak mengerti, tapi syukurlah 1 orang cewek mengerti apa yang saya tanya, walau dia tidak begitu tahu, dia bertanya ke orang  lain, akhirnya saya tau bahwa tidak ada MRT di terminal itu, saya harus naik ojek atau taksi kesana. Saya pun memanggul ransel saya berjalan meninggalkan terminal.

Didepan terminal saya melihat pangkalan ojek lengkap dengan tarif resmi, saya berusaha menawar tapi tidak berhasil, nampaknya harga itu memang harga tetap, kalau tidak salah ingat harganya 30 ribu perak. Kami melaju diantara lalu lintas bangkok yang padat dan macet. Cukup jauh jaraknya sehingga saya merasa harga yang saya bayarkan memang sepadan. Saya naik MRT lalu melanjut dengan kapal. Karena besar nya sungai Chao Praya, kapal digunakan sebagai lalu lintas sehari-hari disini semacam bis. Kapal akan berhenti di stasiun-stasiun tertentu untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Saya berhenti di stasiun Phra Atit, walau agak kesulitan, saya sampai juga di hostel  


Harga-harga:
Kapal Batam-Johor Rp 250,000an
Bis Johor-Hat Yai Rp 300,000an
Hat Yai – Phuket  Rp 117,000an
Phi-Phi Tour 1200 Baht, sudah termasuk biaya antar jemput ke Thalang, tempat saya menginap waktu itu
Simon Cabaret Show 500 Baht – termasuk antar jemput ke Laguna Phuket (dapat harga diskon)


No comments: