Wednesday, September 9, 2015

Pengalaman Tidak Menyenangkan Dirawat Di RS St Elisa**th

Saya dirawat di RS Elisa**th Batam selama 2 malam sejak tanggal 27 Agustus 2015 (malam) hingga tanggal 29 Agustus 2015 (malam). Berikut pengaman tidak menyenangkan yang saya alami

Ibu saya duduk dilantai karena kursi rusak tidak juga diganti
1. Saya meminta perawat mengganti kursi yang disediakan untuk pendamping karena hampir patah,
tapi tidak ada penggantian hingga saya meninggalkan  rumah sakit. Ibu Saya akhirnya duduk dilantai selama 2 hari saya dirawat disana


2. Saya berkali-kali komplain soal banyaknya pengunjung pasien di sebelah saya kepada perawat, mereka datang tidak hanya di jam berkunjung, dan minimal 2 orang hingga 8 orang. Suara mereka keras dan sangat mengganggu.  Bukankah aturan rumah sakit hanya boleh 1 pendamping? Perawat tidak pernah meminta mereka untuk pergi

3. Tindakan kekerasan diruangan perawatan

            a.  Ada tindakan kekerasan antar sesama penjaga pasien disebelah saya (diruangan rawat yang sama dengan saya), pemukulan yang dilakukan seorang pria terhadap perempuan dengan tendangan dan pukulan keras dan teriakan-teriakan diantara mereka

            b.Saya menekan tombol memanggil perawat. Karena tindakan kekerasan sedang berlangsung maka saya tidak bisa membalas pertanyaan perawat yang disampaikan melalui speaker sebagai jawaban pertanyaan suster, saya menekan tombol bicara agar mereka bisa mendengar apa yang sedang terjadi. Saya takut kekerasan yang terjadi berimbas ke saya, hanya itulah yang bisa saya lakukan. Perawat tidak muncul

            c. Kekerasan demikian ributnya hingga pengunjung lain dari luar kamar kami datang melerai, kemudian  muncul seorang perawat perempuan ikut melerai  mereka

            d. Perawat tidak berhasil melerai hingga security turun tangan mengusir mereka

            e. Saya  menanyakan kepada perawat atas lambatnya reaksi mereka, jawaban nya adalah ada dokter datang sedang inspeksi (dokter harus didampingi)

            f. Saya meminta perawat untuk tidak membiarkan orang yang membuat keributan untuk masuk kedalam ruangan perawatan saya kembali, tetapi perawat mengatakan bahwa pasien disebelah saya perlu dijaga.


Ruangan perawatan saya

 4. Saya diperbolehkan pulang oleh dokter sejak sekitar jam 12 siang tanggal 29 Agustus 2015, proses konfirmasi oleh pihak asuransi membuat saya harus menunggu

a.       Saya menunggu hingga jam 8 malam tanpa diberi makan oleh pihak rumah sakit, mereka juga tidak memberitahu bahwa saya tidak akan mendapat makanan malam itu


b. Tidak ada obat juga yang diberikan, saya yakin mustinya saya sudah meminum obat pada jam 8 malam tersebut

c. Saya pergi ke kantin untuk membeli makan dengan infus dan ditegur oleh pihak security

d. Saya meminta selang infus saya dicabut karena tabung sudah sudah kosong sekitar jam 5 sore melalui mikrofon, jawaban perawat adalah iya

e. 30 menit kemudian tidak ada perawat yang datang melepas selang infus tersebut, saya memanggil perawat lagi dan mengulangi permintaan yang sama, perawat datang dan tidak melepaskan jarum infus tapi menghentikan infus dengan menekan pemutar infus lalu pergi dengan mengatakan “sebentar” namun tidak kembali

f. 30 menit kemudian Ibu saya pergi memanggil perawat untuk mengulang permintaan yang sama namun diberikan jawaban bahwa mereka tidak bisa melepaskan jarum infus karena proses konfirmasi dari pihak asuransi belum selesai, saat itulah saya sadar bahwa tidak dilepaskannya jarum infus saya adalah cara pihak rumah sakit mencegah saya meninggalkan rumah sakit (melarikan diri) Padahal saat itu saya tidak sedang menunda membayar apapun di rumah sakit tersebut

g. Saya pergi kemeja perawat dan meminta jarum infus saya dilepas, perawat dengan enggan mengajak saya kembali keruangan perawatan dan melepaskan infus 

h. Saya dipanggil sekitar jam 8 karena pihak asuransi sudah memberikan konfirmasi akan membayar biaya perawatan saya. saya diminta membayar Rp 80,000 untuk biaya kelebihan kamar dan Rp 327,000,- untuk test Hbsag dan HIV yang tidak dibayar oleh asuransi

Jatah makanan dari rumah sakit
i. Saya menerima obat untuk diminum hanya setelah saya melunasi biaya rumah sakit dan membawa surat pernyataan dari kasir bahwa urusan administrasi sudah selesai, yaitu lebih dari pukul 20.00

Komentar saya untuk pengalaman menginap di kelas 1 rumah sakit tersebut

1.       Saya tidak merasa diperlakukan seperti pasien kelas 1, kebisingan yang terjadi terus menerus jelas-jelas menindas hak saya untuk beristirahat selama masa pengobatan

2.       Entah mengapa perawat tidak pernah meminta pengunjung pasien disebelah saya untuk pergi, mungkin karena mereka pasien kelas 1? Lalu mengapa hak saya sebagai pasien kelas 1 juga di abaikan?

3.       Saya tidak ada menunda pembayaran apapun selama dirawat disana, saya memilih untuk dirawat dengan asuransi Prudential, karena saya punya dan merasa mampu untuk membayar jika ada kelebihan pembayaran. Perlu diketahui bahwa saya mempunya fasilitas BPJS kelas 1 yang memungkinkan saya untuk berobat gratis sama sekali, tapi saya memilih Prudential karena saya menginginkan yang terbaik selama saya dirawat, bukan yang termurah, entah mengapa saya diperlakukan seperti tawanan ketika saya meminta infus saya dilepas

4.       Terus terang saya “memilih” rumah sakit ini karena kemauan sendiri, saya punya sepupu yang bekerja di RS Elisa**th Medan, dan saya tahu  rumah sakit tersebut mengedepankan kemanusiaan dan mempunyai pelayananan  yang baik. Kenyataan nya mungkin saya tidak bisa menyamakan ke 2 rumah sakit yang berada di 2 kota yang berbeda tersebut

No comments: