Thursday, March 17, 2016

Jelajah 5 Pulau Kepri Dalam Sehari

 

Untuk melengkapi cerita saya, terpaksa minjam foto mas Danan
Gerhana Matahari dilihat dari Batam
Gerhana Matahari

Indonesia sedang berbahagia, bertepatan dengan gerhana matahari total di sebagian Indonesia, kita libur nasional untuk hari Nyepi. Kami yang berada di Batam juga kebagian gerhana matahari sebagian lhoo. Saya dan teman-teman punya rencana untuk island hop lagi nih hari ini, maksudnya jalan-jalan ke pulau-pulau yang ada diseputaran Jembatan II Barelang.

Buat yang belum tau nih, Kepulauan Riau punya 2408 pulau besar dan kecil, 30% diantaranya belum mempunyai nama.
Walau tidak semuanya berdekatan dengan Batam, kami sebagai warga Batam bisa menjelajahi ratusan pulau-pulau ini hanya dengan menumpang kapal nelayan.



Balik ke soal gerhana matahari tadi, karena akan tamasya ke pulau, kami sengaja datang lebih awal ke lokasi kumpul karena ingin melihat gerhana di tempat yang lebih terbuka, yaitu Jembatan 1 Barelang yang beken itu. Diperjalanan menuju Barelang saya sudah melihat gerhana, kalau ada awan tipis yang melintas, bentuk sabit matahari malah terlihat jelas, karena tanpa awan cahayanya terlalu menyilaukan. Banyak pemotor yang berhenti untuk menyaksikan matahari yang berbentuk sabit itu, pinggiran jalan penuh dengan motor. Tapi kok nggak ada mobil yang menepi bersama motor-motor yah, apa pemobil kurang tertarik dengan gerhana?  Saya sih melihat sambil jalan terus dan hanya berhenti ketika lampu merah

Sampai di Jembatan, matahari malah sudah terlalu menyilaukan, walau saya memakai kacamata hitam. Menurut yang saya baca, kacamata hitam memang tidak cukup aman untuk melihat gerhana, tapi saya tidak punya film atau apapun yang nyaman untuk dipakai. Mudah-mudahan mata saya nggak apa-apa yaa. Sambil menunggu sebagian teman yang lain datang, kami sarapan disebuah warung didekat jembatan 2.

Pemandangan ketika kami baru saja meninggalkan dermaga di jembatan II
15 menit menjelang jam 9 akhirnya semua merapat dipelabuhan, masih ngaret, mudah-mudahan berkurang lain kali ngaretnya ya gaes.

Pak Daud si empunya kapal/pompong langsung mempersilahkan kami naik, diatas kapal ada 8 buah pelampung sesuai pesanan saya. Saya memang meminta Pak Daud menyediakan pelampung, karena saya ingin perjalanan senang-senang ini berjalan dengan aman dan selamat. Pak Daud meminjam pelampung dari teman-temannya, dan kami menambah biaya sedikit, demi keselamatan ya booo :)



1. Pulau Tanpa Nama

Cuuuusss.. kami mulai meluncur membelah lautan yang hijau tosca, langit hari itu biru dihiasi awan awan putih. Pulau yang kami singgahi pertama adalah Pulau tanpa nama. Pulau ini kecil banget, hanya sedikit daratan yang nongol waktu kami datang, kalau air sedang tidak pasang, pulau ini pasti lebih besar. Kami hanya berfoto-foto lalu lanjut ke pulau berikutnya


2. Pulau Resam

Pulau ini punya pasir pantai yang pendek dan tapi cukup putih. Ada dipan tempat kita bisa duduk yang sepertinya dibuat oleh para nelayan yang singgah disini. Kami duduk santai sambil minum teh disini. Oh ya, saya memang membawa kompor untuk kemping, jadi kami bisa menikmati kopi atau teh.

Ada pohon yang tumbuh di air (atau itu sebenarnya tanah yang sedang digenangi air pasang?), spot yang cakep buat foto. Adalah Joko, selegram nya Batam, yang rela  menyebrang hingga basah, dan musti memanjat pohon mati demi beberapa foto. Demi 6000 sekian follower ya Jok! Gara-gara melihat Joko akhirnya saya ikutan deh susah-susah manjat pohon, demi foto ^_^




3. Pulau Tanpa Nama 2

Kami melintasi sebuah gundukan-gundukan batu warna coklat, pasir dan tanah ada sih, tapi tenggelam oleh air pasang. Kami singgah untuk foto-foto kece

Selanjutnya, cuuus nyari makan siang. Sebenarnya semua kami membawa bungkusan makan siang, tapi karena ada teman yang jalan kepulau-pulau kosong hanya modal botol minuman plastik kecil (katanya sih beli di Jepang), yang isinya tak lebih dari
500ml air, terpaksa kami mencari pulau yang menjual makanan. Kami berlagak hanya membawa makanan cukup buat diri sendiri. Nampak wajahnya muram saat kami mengatakan uang 1 M pun tidak ada harganya dipulau kosong *ngakak*

Dia berinisiatif mengajak Pak Daud untuk mencari pulau yang ada menjual makanan. Pak Daud membawa kami kesebuah pulau di Selat Nenek, yaitu pulau Temoyong. Kami bertanya ke beberapa warung kelontong, mereka mengatakan dipulau itu tidak ada yang menjual makanan selain sarapan, jadi pagi hari sudah habis.

Kasihan teman kami itu semakin gundah gulana. Karena disana ada mesjid, yang muslim pada sholat dulu sebelum melanjutkan ke pulau berikutnya

4. Pulau Tinjul

Kami berhenti di pulau Tinjul untuk makan siang, saya memasak mi instant dan yang lain membuka bekal nasi bungkus masing-masing, yang tidak membawa makan siang kami kasihani dengan memberi sebuah pop mie. Sepanjang memasak teman ini paling banyak komentarnya soal cara saya memasak, yang memotong sayur dengan tangan (tanpa pisau), dll dll, padahal sudah dikasi mie gratis pun, tinggal makan aja, masih aja komentar *no mention*

Tidur dibawah naungan pulau kelapa
Ditempat kami duduk hanya ada pohon kelapa, jadi kurang rindang, walau begitu, selesai makan semua mencari posisi enak untuk tiduran. Memang yang ikutan tidak ada sungkan-sungkan berinteraksi dengan alam, apa saja digelar untuk alas tidur, ada yang membawa mantel hujan, hammock dan sarung. Lalu semuanya berbaring, tapi kelihatannya hanya Muklis dan Joko yang tertidur nyenyak


5. Pulau Bulan, Pantai Gelam

Sejak awal Pak Daud sudah merekomendasikan pulau ini, katanya bagus. Kalau dilihat dari jauh garis pantainya sangat panjang dan bersih
Saat menginjakkan kaki disini, pertama yang kami lakukan adalah meminta izin pada perusahaan pengelola lokasi ini. Kebetulan didekat kapal bersandar ada 2 orang pria yang sedang duduk, entah mereka datang karena melihat kami, atau mereka sudah duduk disana dari tadi. Teman menyampaikan tujuan kita untuk bersantai dipantai dan mereka mempersilahkan

Yes! Pantainya panjang banget, pasirnya putih dan agak-agak bening gitu, mirip kaca yang berwarna krem, bagus deh, saya belum pernah lihat pasir seperti itu. Sayang sekali kami tidak makan siang dipulau ini, karena pulaunya lebih bagus dibandingkan pulau sebelumnya.


Pak Daud bergabung ngerumpi dengan kita

Bergelantungan di hammock dipantai  enak banget lho

Diatas kapal dengan latar Jembatan I Barelang
Lalu kami mulai menggantung hammock masing-masing dan berleha-leha sambil mengobrol. Joko & Muklis menjadi fakir hammock alias tidak punya hammock, mereka tiduran diatas pasir dengan alas ponco motor nya mbak Sarah. Kasihan. Lalu karena keprihatinan tidur di pasir hari itu, akhirnya Muklis memesan hammock dagangan saya :D

Sekitar jam 5 kami pulang menuju jembatan 2, lumayan jauh juga kalau langsung. Karena berangkatnya berhenti di pulau-pulau lain, jauhnya tidak terasa. Mendekati jembatan 1, matahari mulai terbenam dan memberikan warna merah yang bagus. Kami berhenti untuk mengambil foto dan berpose ala-ala abege kekinian, kita pengen eksis juga dong di socmed :D






8 comments:

Chaycya O Simanjuntak said...

Serunyaaaaaa ❤️❤️😍😍

Lain waktu island hopnya sabtu dong.. Biar aye bisa ikutan

sarah eyie said...

Kasiannye pada keletihan dipulau tinjul...hahahah tapi mau lagi kak..kalo ada ngebolang ajak2 ya..

Eka Handa said...

Wkkk.. Kasian banget itu yg bawa botol minuman dari Jepang, 500ml air cuma cukup buat satu jam, uang 1 Milyarnya pun g laku di pulau kosong #NoMention

jalanrina.com said...

Cahaya: bulan 4 yuuk

Rina said...

Sarah: yukk, bulan april ya

Rina said...

Eka: no mention ya :))

mohamad maes fauzi said...

Saya memang meminta Pak Daud menyediakan pelampung, karena saya ingin perjalanan senang-senang ini berjalan dengan aman dan selamat. Pak Daud meminjam pelampung dari teman-temannya, dan kami menambah biaya sedikit, demi keselamatan ya booo :)=====================

saya suka kalimat ini sist, peduli bangaet ama keselamatan...

Rina Rina said...

Mohamad Maes: iya nih..soalnya ga mau senang2 berakhir jadi musibah :)