Tuesday, April 12, 2016

Trekking di Dam Muka Kuning/ Air Terjun, Batam

Gerbang masuk ke hutan, tempat parkir kendaraan
Minggu kemarin, saya dan Liza sedang kepengen trekking, teman-teman yang lain nampaknya sedang kurang berminat untuk keringatan. Kami memutuskan untuk tetap jalan, walau cuma berdua

Tempat yang kami pilih adalah Dam Muka Kuning, dengan pertimbangan, tempat ini biasanya ramai dikunjungi pada hari minggu, mengingat kami hanya berdua dan tidak ada pria *ngenes*jones*

Kami memulai perjalanan dari Kampung Aceh, yaitu pemukiman diseberang pintu 1 Batamindo Industrial Park (diseberang Plaza Batamindo). Motor bisa dibawa sampai ke gerbang masuk, disana ada masyarakat setempat yang menjaga parkir dan memungut biaya Rp 5000/motor. Memang ini bukan retribusi resmi, tapi setidaknya motor ada yang menjaga ya... Kami membayar karena mereka meminta pembayaran di awal, lalu meninggalkan motor disana. Oh ya, penjaga parkir ini tidak selalu ada lho, pernah dulu saya kesana, tidak ada yang menjaga/memungut biaya parkir, memang saat itu sepi pengunjung. Jika tidak ada penjaga, teman-teman bisa menitipkan motor di rumah-rumah penduduk, mereka sudah biasa dititipi, dengan biaya tentu saja. Waktu kemping beberapa bulan yang lalu, untuk 1 malam, kami membayar 10.000

Kalau tidak musim kering biasanya ada air dibawah jembatan ini

Ini bukan pertama kalinya saya ketempat ini, tapi setiap perjalanan mempunyai cerita tersendiri, pertama kali, kami masih harus berjalan kaki dari Plaza Batamindo karena tidak ada yang menjaga parkir di tempat kita bisa memarkir motor sekarang, jadi perjalanan lebih jauh dan lebih lama. Pernah saya kemping disini dengan teman dan ponakan saya,  pernah juga ramai-ramai mandi dan saya membawa kompor kemping, jadi kami masak-masak dan minum teh. Kali ini karena berdua, kami jadi lebih banyak berkomunikasi dengan kelompok lain. Hal positif yang juga sering disebut jika kita solo travelling

Yang paling menonjol dari perjalanan ini adalah keringnya DAM Muka Kuning dan air yang mengalir di sungai jauh berkurang dari biasanya, belakangan memang Batam jarang dicurahi hujan, jadi danau-danau sumber air minum kota Batam banyak yang mengering. Padahal saya membaca tahun ini La Nina akan terjadi, yaitu curah hujan yang terus menerus, sayangnya itu belum terjadi di Batam, ramalan memang menyebutkan La Nina akan terjadi mulai pertengahan tahun

Langit cerah
Sehari sebelum perjalanan ini, hujan mengguyur Batam, jadi, tanah agak basah, tapi hanya sedikit jalan yang becek, hampir keseluruhan cukup nyaman dijalani. Cuaca pun cukup sejuk. Suara-suara binatang dan gesekan daun-daun terasa sangat menyejukkan fikiran. Kami bisa berjalan dengan santai dan sesekali ngobrol dengan orang yang berpapasan dengan kami. Tanjakan segera membuat kami ngos-ngosan dan mengucurkan keringat.



Danau kecil dan air terjun















Total perjalanan hanya sekitar 1 jam untuk tiba didanau kecil itu, kami langsung duduk di batu-batu lebar yang ada dipinggir sungai. Kami menaruh bekal makanan dibatu, dan rupanya hal ini mengundang serombongan monyet mengintai kami. Mereka mendekat saat kami berjalan meninggalkan makanan kami, yang membuat saya menghalau mereka dengan melemparkan batu. Mereka menjauh sebentar lalu datang lagi, hal ini membuat kami membawa makanan setiap melangkah haha.. Suatu saat kami lalai, salah satu monyet berbadan paling besar sudah menyentuh plastik makanan kami ketika Liza menjerit, si monyet kaget dan kabur ketakutan, dahsyat juga suara Liza. Ada sekelompok pesepeda juga disana sedang beristirahat, saya melihat sekitar 6 sepeda. Mereka menjelaskan jalan yang di lewati menuju tempat ini, yaitu lewat Tiban.

Kami ikut melihat-lihat mas-mas dari Aquascape mencari lumut, rumput, ikan dan udang untuk aquarium mereka, saya juga mengambil beberapa ikan dan udang untuk aquarium dirumah, tapi sayang, mungkin karena guncangan diperjalanan, hanya 2 ekor udang yang bertahan hidup, lebih baik mereka hidup di sungai itu dari pada mati sia-sia :(

Menjelang pulang, kami diajak makan oleh group aquascape, dengan malu-malu meong kami makan ikan bakar pemberian mereka. Mereka berjanji akan mengajak kami kalau mereka jalan-jalan ke hutan lagi


Sungai yang volume airnya menurun karena musim kemarau

Di perjalanan pulang, kami bertemu sekelompok pria yang sedang beristirahat di batang kayu mati yang melintang. Ada beberapa mobil mungil berbentuk jeep didekat mereka. Saya menyapa dan meminta mereka menunjukkan bagaimana mengendalikan mobil kecil itu. Mereka dengan senang hati menunjukkan pada kami. Bapak-Bapak ini dari komunitas RC Remote Control Adventure, mereka bersedia berbagi cerita soal hobby mereka.

Liza bersantai sambil mengambil foto

DAM Muka Kuning, air menyusut karena kemarau




Hari itu kami menambah pengetahuan deh soal berbagai hobi dan komunitas yang ada di Batam.  Terimakasih buat semua, trekking hari itu terasa menyenangkan

Video trekking ini bisa dilihat disini











2 comments:

Dian Radiata said...

Iya ya.. keliatan banget kalo damnya kering.

Rina Rina said...

Iya, biasanya air terjunnya deras