Tuesday, July 19, 2016

Bike to Work, Kesulitan Dijalan Dan Pelecehan Verbal

Bike to work batam sepeda sepedaan
Bike to work dengan simerah

Saya musti memulai dengan cerita, betapa naiknya berat badan saya belakangan ini. Sejak Libur Natal & tahun baru kemarin total 4kg lemak bertambah di tubuh saya. Tidak Langsung sih naik 4 kg. Saat cuti dan berlibur akhir tahun saya "menabung" 2 kg, selanjutnya bertambah pelan-pelan. Ini membuat saya tidak nyaman, berpakaian tidak terlihat ok, rok dan celana terasa sempit dibagian pinggang.

Untuk mempersingkat cerita, saya meminta kembali sepeda yang dipinjam abang saya, karena ingin bersepeda lagi
untuk mengurangi berat badan. Sudah lupa persisnya sejak kapan sepeda ini dipinjam, tapi mungkin sudah hampir setahun. Tapi saya sudah tidak bersepeda selama paling tidak 1,5 tahun.

Saya service terlebih dahulu karena rantainya suka pindah-pindah sendiri, membuatnya tidak nyaman dikayuh. Bottom bracketnya dan Cassette/sprocketnya harus diganti (Saya sampai google nih untuk mencari nama terakhir itu karena memang kurang mengerti nama part part sepeda) Saya membayar 280 ribu untuk perbaikan ini. Sepeda saya memang sudah sangat tua, saya memilikinya sejak 2008. Wajar dia sudah sakit parah *ngelap air mata*


Bike to work batam sepeda sepedaan
Bike to work pagi
Saya sudah mencoba bersepeda dari Batu Aji ke Baloi sejauh 12,99 km dan berjalan dengan baik, saat itu memang hari minggu, jalanan tidak terlalu ramai. Kemudian saya mencoba bike to work. Ada kejadian yang membuat saya tersadar dari fikiran yang sempat lupa kalau: bersepeda itu sangat tidak mudah dikeramaian jalan raya, apalagi dipuncak keramaian orang pulang bekerja, yaitu pukul 5 sore.

Kejadian pertama terjadi saat "U turn", saya yang merasa minor segera menepi ke kiri setelah berbelok kekanan. Sementara pengendara lain tidak mau menunggu saya yang bergerak lambat. Lambat karena saya mempertimbangkan motor yang mungkin melaju kencang ketika saya minggir kekiri setelah berbelok kekanan. Saya tentunya tidak secepat motor, akibatnya mereka tidak sabar menunggu. Jika saya tetap berada diposisi kanan, saya merasa salah karena sebagai kendaraan lambat, tidak tepat saya berada di kanan

Kejadian kedua dilampu merah Sei Panas (KFC Gelael).
Bike to work batam sepeda sepedaan
Bike to work (back home)
Saya menuju kearah nagoya, jadi berhenti di perempatan yang menanjak. Ketika berhenti disitu, sudah ada banyak motor didepan saya. Awalnya posisi saya paling kiri, tapi lama kelamaan semakin banyak motor berhenti dikiri saya, mustinya tidak boleh ada kendaraan berhenti disitu karena menghalangi kendaraan untuk belok kiri jalan terus, tapi ya tahu sendiri kebiasaan berkendara kita. Semua dilanggar asalkan mereka bisa sampai ketujuan dengan cepat. Saya ditengah motor-motor, padahal saya selalu ingin dipinggir agar aman.

Lampu berubah hijau, saya berusaha maju lurus, tapi saya membuat mereka tidak sabaran. Saya berhenti dan turun dari tempat duduk untuk menepi kekiri. Tapi satu motor dikiri menggilas kaki saya. Semua tidak ingin kehilangan 1 detik pun waktu lampu hijau. Saya tidak sempat marah kepada yang menggilas kaki saya, karena terlalu bingung dan tetap berusaha menepi. Setelah berada dipinggir saya maju pelan-pelan. Motor-motor ganas itu melewati saya dari kanan. Piuhhh, mengerikan sekali

Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa melewati U turn dengan aman. Setiap saya bersepeda dijalan raya, ini selalu terjadi, U turn selalu tidak mudah dan berbahaya. Pemotor yang tidak pernah mau menunggu dan selalu memperlakukan saya sebagai pengganggu, terlihat dari klakson mereka.

Saya sudah sering membaca berita di group Bike  to Work Batam yang memberitakan kecelakaan yang dialami pesepeda. Biasanya mereka ditabrak. Mengerikan memang kebiasaan berkendara dinegri ini :(

Gangguan Verbal

Sepanjang yang saya ingat, saya selalu mendapat gangguan verbal dari pria dijalanan saat bersepeda, tidak terkecuali hari ini. Saya perlu menekankan bahwa gangguan ini selalu dari pria. Pemotor yang mendekati saya dari samping sambil bilang hayo, hayoo, teruuuss, terusss. Kenek angkot, para pria dipinggir jalan yang meneriakkan "olah raga ni yee" dan kata-kata lain sejenis. Ada juga yang sampai membanting-banting meja mereka sambil berteriak. Saya yakin pesepeda pria tidak mengalami hal ini. Mungkin karena saya perempuan.


Bike to work batam sepeda sepedaan
Jalur Bike to work saya
Entah apa yang membuat para pria ini melakukan hal itu. Iseng? Buat saya itu adalah bagian dari cat calling (silahkan google istilah ini), Salah satu bentuk pelecehan verbal. Yang jelas saya sangat tidak nyaman dengan teriakan-teriakan yang diarahkan ke saya itu. Saya berfikir untuk mendatangi pria yang melakukan itu (untuk yang tidak berkendara) untuk menjelaskan yang mereka lakukan adalah pelecehan dan saya bisa melaporkan mereka ke polisi. Mengapa para pria ini merasa perlu melakukannya?

Selain pelecehan verbal, saya pernah mengalami pelecehan fisik ketika bersepeda dijalan raya, hanya sekali. Pria bermotor gede mencolek bagian belakang saya sambil tetap memacu motornya. Saya hanya bisa bengong tak berdaya. Mungkin dilakukan oleh pria sakit. Saya tidak begitu mengingatnya karena sudah sangat lama dan tidak pernah terjadi lagi. Semoga tidak terjadi lagi. Tapi gangguan verbal yang terjadi berulang-ulang ini sungguh mengganggu

Bagaimana pengalaman bersepeda dijalan raya teman-teman?

Batam, 19 Juli 2016












12 comments:

Roy Vandi Tambunan said...

Mesti nya harus ada jalur sepeda ya dibatam. Kalau tak salah siapa itu yang pernah ngucapin mau buat jalur sepeda

Lina W. Sasmita said...

Iya aku paling gak bisa kalau harus belok di U turn Rin. Ngeri.

www.jalanrina.com said...

Roy: diucapkan saat kampanye? Haha :p

www.jalanrina.com said...

Lina: iya Lin

Silviana Noerita said...

Saat di Malang dulu saya juga sering bersepeda kalau lagi mau beli tiket kereta di stasiun. Sebetulnya bisa juga beli di mart franchise hanya saja sengaja mau ke stasiun sambil olahraga sore hari pulang kuliah.

Sayapun merasakan ketidak adilan lho karena menjadi minor diantara yg lain. Dari semenjak belum ada jalur sepeda sampai sudah ada jalur sepeda, rasanya sama saja. Sering diumpat karena dianggap mengganggu, sengaja dikagetin, sengaja si pengendara mobil/ motor pencet klakson lama, dll.

Jadi yg perlu dibenahi itu adalah mental pengendaranya kali ya. Agakny perlu test psikologi juga ketika pembuatan SIM.

Semoga gak kapok bersepeda.

www.jalanrina.com said...

Bener banget, kebiasaan berkendara kita yang "parah". Sudah terbiasa begitu, mau ngapain aja dijalan tidak ada yang menilang, most of the time

Unknown said...

saran aja klo di u turn ambil sisi paling kiri luar biar tidak menghalangi motoris dan nyebrangnya harus sabar, klo di lampu merah kfc gelael dr arah simpang frengki saya biasa langsung ambil kiri lewat u turn tp pastikan yg dr arah batam centre belum hijau biasanya lebih cepat

Rina said...

Terimakasih Om sarannya, nanti saya coba. Memang harus sabar ya...Salam gowes :)

ahmadi sultan said...

ngeri memang pengendara di batam ini. padahal pesepeda dan pejalan kaki seharusnya didahulukan

www.jalanrina.com said...

Ahmadi: iya mas, dijalan terancam terus

baja ringan yogyakarta said...

wah, untung saya nggak pernah ada kekerasan secara verbal mbak. Mungkin karena saya laki-laki dan karena ada di Jogja kali ya

Rina said...

Iya mas, mereka mana berani sama laki2, kalo perempuan kan nggak bisa melawan