Monday, December 19, 2016

Gajah Di Pelupuk Mata...

Beberapa bulan lalu saya membeli sebuah buku berjudul “Alive” tentang bagaimana korban kecelakaan pesawat carteran bernama “Fairchild” yang jatuh dipegunungan Andes pada tahun 1972, bertahan hidup. Buku ini ditulis oleh Piers Paul Read.  Read sama sekali tidak terlibat dalam kecelakaan ini. Dia menulis buku dengan cara mewancarai semua korban selamat.
Di awal jatuhnya pesawat, banyak penumpang yang selamat, namun ada yang luka-luka, mulai luka ringan hingga parah. Meski ada beberapa diantara penumpang selamat adalah mahasiswa kedokteran, karena keterbatasan obat, makanan dan kondisi tempat istirahat mereka, yaitu di runtuhan pesawat,  kemudian banyak yang akhirnya meninggal. Selain itu mereka juga kena longsoran salju, yang menambah daftar kematian dari yang sebelumnya saat pesawat jatuh.

Buku itu menjelaskan bagaimana mereka mengatasi krisis demi krisis, pertengkaran demi pertengkaran,  rengekan dan kebosanan, hingga rasa lapar yang akhirnya memaksa mereka untuk memakan tubuh teman-teman mereka yang telah meninggal. Kita bisa melihat penulis menggambarkan kejadian-kejadian dan tindakan karakter orang-orang yang ada disana. Wawancara dengan 16 korban selamat itulah yang membuat gambaran kejadian tersebut cukup utuh. Dari penjelasan penulis kita punya pendapat mengenai seseorang di buku itu; baik kita menilainya tangguh, keibuan, manja atau cengeng. Penulis menggambarkan karakter setiap orang dengan cukup baik, hal ini diakui oleh 15 orang lainnya. Tapi ada 1 orang yang selalu tidak setuju dengan gambaran yang ada dibuku mengenai seseorang, yaitu orang itu sendiri. 

Rupanya masing-masing mereka tidak melihat diri sendiri sebagaimana orang lain menilai. Ini dialami oleh semua tokoh. Hal ini menjadi gambaran dasar kita bahwa cara kita melihat diri kemungkinan besar berbeda dengan cara orang lain melihat kita. Mungkin karena beda Point of view atau sudut pandang. Penulis juga menuliskan mengenai perbedaan persepsi ini dalam bukunya, dia mengatakan hal ini menggambarkan bahwa manusia memang bisa menilai orang lain tapi gagal menilai diri sendiri

Membaca buku ini membuat saya melihat diri saya. Kita melihat diri kita. Mungkin saya dan orang disekitar saya sama dengan ke 16 orang dalam buku ini. Tidak menilai diri sendiri dengan cara yang sama dengan orang lain. Cukup membantu saya untuk memahami konflik saya dengan orang lain. Dimasa lalu saya merasa, kok gue sih, kok dia yang marah, mustinya gue yang berhak marah, bukannya dia yang salah?

 Sekarang saya berusaha mengatakan: Oke lah, mungkin saya tidak merasakan apa yang dia rasa, pastinya dia melihat dari sisi yang berbeda dengan saya. 

Cukup membantu saya memahami konflik, kami mungkin orang yang sama-sama gagal melihat diri kami sendiri


4 comments:

Agus Saputra Asad said...

Ah jd pengen baca bukunya

Rina said...

boleh dipinjam kok Asad ;)

Eka Handa said...

Ia Kak, sekarang baiknya lebih wise dan memperbaiki diri supaya dikemudian hari tidak terjadi konflik dengan orang sekitar. Apa yang menurut kita bener, belum tentu benar bagi orang lain dan sebaliknya.

Mengalah bukan berarti kalah, tapi lebih kepada menghargai dan menjalin hubungan baik, biarlah waktu yang mendewasakan diri, dan kita akan terus belajar memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat ^-^. Semangat kak.

ahmadi sultan said...

Pinjamin dong bukunya !!!