Wednesday, May 17, 2017

Tragedi Demi Tragedi Pejalanan Myanmar

Semua perjalanan punya cerita sendiri. Tapi entah mengapa trip kali ini banyak kejadian tak terduga yang membuatnya jadi "berkesan". Untuk saat ini bisa senyum mengingatnya, tapi jangan ditanya pas kejadian

Ketinggalan pesawat di KLIA
Tragedi 1: Ketinggalan Pesawat

Caritanya kami udah saling mengingatkan untuk web check in, tapi mungkin karena rempong urusan kerja Putri dan Benia tidak melakukan web check in. Web check in dilakukan saat kami tiba di KLIA. Merasa sudah web check in, kami santai leyeh-leyeh sambil minum coklat panas di salah satu cafe. Saat kami akan masuk, mereka tidak bisa masuk karena tidak ada print-an bar code yang digunakan di pintu masuk. Mereka harus kembali dan dan print bar code. Saya dengan mas Danan bisa masuk dan kami menunggu mereka.

Kami tidak tahu bahwa selain melakukan print di mesin, mereka ternyata disuruh membongkar tas untuk diperiksa petugas. Alamak. Sambil melihat kebelakang terus mencari mereka dengan mata, akhirnya kami berjalan duluan dan tiba di ruang tunggu sekitar jam 6.20  Pintu sudah ditutup. Kami meminta tolong petugas yang ada untuk menanyakan apakah kami masih bisa ikut, Tidak bisa!

Cepat menerima kenyataan. Kami segera membuka aplikasi booking untuk memeriksa penerbangan berikutnya hari itu. Adanya jam 8 dan 17.50. Yang jam 8 sudah sangat mepet. Putri dan Benia muncul jam 06.55, cukup jauh dibelakang kami.

Akhirnya kami membeli tiket baru seharga 970 ribuan untuk penerbangan sore, hari itu juga

Cerita menempuh perjalanan darat dari Malaysia hingga Vietnam (3 Negara, 7 Kota) 

sumber: cartoonsmix.com
Tragedi 2: Booking di hari yang salah

Kalau ini sih keteledoran saya. Karena paniknya ketinggalan pesawat, saya buru-buru booking, tapi dihari berikutnya. Padahal maksudnya kami akan membeli tiket dihari yang sama. Harga tiketnya 830rb an, yang harus hangus tanpa bisa di refund. Kemudian saya pun harus booking tiket baru seharga 1 juta an

Perih 2 kali :"( :"(

Kalau masih bisa dibilang untung, untungnya saya booking buat sendiri, coba kalau saya booking buat 4 orang. Mungkin saya sudah stress dan perlu bantuan psikiater buat penyembuhannya. Sakkkiiit...

Tragedi 3: Digigit Lebah

Kejadiannya saat kami berteduh saat menuju sebuah kuil. Kami berhenti disebuah rumah makan terbuka yang cuma ada atap dan kursi-kursi (tanpa dinding). Yang pertama digigit mas Danan. Dia tidak tahu apa yang mengigitnya di betis. Karena kami melihat seekor semut ditanah, kami menyimpulkan dia digigit semut. Sampai kemudian saya digigit juga di paha, dan melihat lebah terbang didekat kaki saya. Rasanya sakit banget

Tragedi 4: Ditabrak Motor

Kejadiannya di Bagan, kami singgah di salah satu kuil tua yang cukup besar. Ada seorang ibu datang menawarkan dagangannya. Kalau tidak salah dagangannya celana gajah gitu. Dia bersama anaknya yang berumur 5 atau 6 tahun. Saat motor rupanya tidak di 'off' kan kuncinya oleh Putri. Si anak yang berdiri disamping motor meng 'gas' motor dan langsung menabrak bagian belakang mas Danan. Untung mas Danan banyak bantalan penahan alami ya boo. Walau benturan kayaknya keras, dia tidak terlalu mengeluh sakit. Atau mungkin dia menahan derita dalam diam. Tapi kami cukup shock. Si ibu langsung melipir pergi setelah memarahi anaknya

Tragedi 5: [Nyaris] Ketinggalan Barang didalam Bagasi Bis

Waktu kami sampai kembali di terminal bis Yangon (kembali dari Bagan). Kami merasa sudah memegang tas kami masing-masing. Putri sadar kalau ternyata masih ada 1 tas lagi yang belum ditangan sekitar 3 detik bis berjalan meninggalkan kami. "Eh, tas belanjaan mana? katanya panik". Dia lalu berlari mengejar bis dengan kecepatan 150 km/jam. Kami cuma melongo ketika bis dan yang mengejar menghilang di belokan.

Rupanya, karena banyak belanja, Putri dan Benia memakai 1 tas untuk menaruh barang mereka yang sudah tidak muat di ransel. Karena sebelumnya hanya memegang 1 tas, mereka lupa soal tambahan 1 tas ini

Putri muncul dari kejauhan memgang tas belajaan itu. Rupanya kejar-kejaran berakhir happy ending





Bis dari terminal ke pasar Bogyoke
Tragedi 6: Bis Mogok, Dikala Hujan

Dari terminal, kami akan ke pasar Bogyoke untuk membeli kain-kain yang kami tawarkan kepada teman-teman. Saya bertanya kepada kenek bis dimana kami bisa mengambil bis. Sambil menjelaskan dia menunjuk arahnya. Walau tak mengerti apa yang dia bilang, kami berjalan menuju arah itu. Disana berjejer bis-bis yang ngetem, dan pada setiap supir atau kenek saya bertanya: Bogyoke? Akhirnya kami menemukannya

Bis usang yang tempat duduknya sebagian dari triplek, dan sebagian busa yang sudah robek. Di awal bis berisi sedikit penumpang. Setelah beberapa lama, penumpang penuh sesak di isi penumpang berdiri. Sama seperti bis di Jakarta. Bedanya di usia bis.

Hujan turun lebat ketika akhirnya bis mogok. Mungkin karena tidak kuat menahan beban. Mereka mencoba start berkali-kali dan menyuruh penumpang turun. Waktu bis jalan lagi, penumpang naik lagi. Berjalan beberapa meter, bis mogok lagi, kali ini sepertinya untuk selamanya karena kenek meneriakkan sesuatu dan penumpang turun semua.

Kami akhirnya keluar bis ditengah hujan lebat, dan naik taksi dengan harga 3000 Kyat atau 30 ribu rupiah.
 

Longyi Myanmar jualan saya
Tragedi 7: Tragedi Pasar Tutup

Supir taksi menurunkan kami di pasar yang masih tertutup pagarnya. Kami menunggu sambil melihat pasar lain dan sarapan hingga jam 9 sesuai dengan penjelasan supir taksi

Jam 9.20 pagar tak terlihat dibuka. Akhirnya kami berusaha mencari jalan lain. Rupanya ada pintu yang bisa dimasuki, Dan jreng jreng... ternyata pasar sepi, sunyi senyap seperti kota mati. Kami bertanya pada seorang cewek yang melintas, dia mengatakan pasar memang tutup setiap Senin. APPPPAAAA? *jeritan kami ketika tahu*

Kami berusaha menemukan barang yang kami cari dipasar sebelahnya tapi tidak berhasil. Pesanan puluhan kain gagal dibeli. Kami kembali ke bandara dengan hati perih

***

Rincian Biaya Perjalanan Myanmar Selama 1 Minggu

Pengalaman Menginap dari Hostel ke Hostel

21 comments:

Bagir Abunumay said...

drama oh drama.... tiada cerita perjalanan tanpa adanya drama ya kk rin.. 🙈🙈🙈

Chairudin Lukman said...

Drama is never ending story...

rina said...

Bagir: lebih banyak memory kalo ada tragedi haha

rina said...

Chairudin: haha begitulah :)) :))

Annisa Rizki Sakih said...

Puk puk Kak Rina.
Syukurlah, ada juga bagian happy endingnya. Minimal kakak tambah "kaya" pengalaman + berbagi info utk yg ikut baca,supaya lebih serius buat web booking dan googling waktu operasi tempat wisata

inozzz said...

Hahahaha.. untung jalan berempat betenya byk yg nanggung

Chaycya O Simanjuntak said...

Too many drama.. ga tau apa aku harus simpati atau ngakak.. yg jelas bacanya simpati sambil kadang ngakak.. wkwk

Pandu Aji Wirawan said...

njiiir drama banget ceritanya. Kalau aku kemarin di Myanmar sempat juga ada drama, bus nggak ontime lalu buff ketinggalan di bis serta naik satu taxi kecil buat bertujuh sampai bandara dengan selamat :D

Ceritaku bisa di baca di Drama Menuju Bangkok

Semoga enggak kapok ya mbak?

danan wahyu said...

bagimu drama bagiku ujian dari Tuhan

rina said...

Annisa: thanks ya, iya nih, tambah kaya pengalaman, ga pernah ketinggalan pesawat jadi pernah wkwkwkw

rina said...

Inozzz: bener banget, dan juga bisa mentertawakan kebododohan bareng :p :))

rina said...

Cahaya: kalau bacanya malam jangan keras2 ketawanya sis, ntar dikira kunti :p

Alid Abdul said...

Tapi balik modal kan bisa jualan longyi ratusan ribu hahaha

cucum suminar said...

Sedih banget ceritanya, tp gpp buat pengalaman. Pernah juga disengat lebah, tp justru bagus semua pusing hilang 😀

Eka Handa said...

Oh my, so many drama kak. Sebelum pergi kak Danan juga udah kesleo tangannya, nah ini malah ketabrak motor. Semuanya bener2 ngeselin ya, pasar tutup, ketinggalan pesawat, digigit lebah pula.

Haryadi Yansyah said...

Kalau mau dibilang "untung" lagi, udahnya berita pedih itu dapat ditulis menjadi tulisan blog kayak gini hahaha. Pengalamanmu kaya kak!

omnduut.com

rina said...

Alil Abdul: Kan gagal karna pasarnya tutup :(

rina said...

Cucum: disengat lebahnya ga seperih ketinggalan pesawat kok mbak :D

rina said...

Eka: udah kayak sinetron la pokoknya Eka :))

rina said...

Omnduut: haha...yah...setidaknya orang bisa senyum bacanya...saya juga sentyum kalau ingat-ingat, tapi nggak senyum lho waktu kejadian

Lina W. Sasmita said...

Kata pepatah atau bukan bilang begini:
Kesialan di pagi hari bisa mendatangkan kesialan berikutnya. Kalau dihubung-hubungkan ada nyambungnya sih.