Monday, July 31, 2017

Tentang Sampah dan Disiplin Masyarakat Indonesia

Lihat tong sampah di pojok kanan atas, begitu dekatnya ke sampah mereka
Event barelang Marathon Desember 2016
Saya sering harus menahan diri untuk tidak berteriak ketika melihat seseorang melemparkan sampah dari mobil, angkot atau motor. Saya sering menahan nafas ketika melihat di objek wisata seperti gunung, danau atau air terjun dikotori sampah pengunjung. Kalau objek wisatanya dikelola, biasanya ada yang membersihkan, tapi air terjun, gunung, sungai, bukit, tidak selalu dikelola. Jadi sampah tidak ada yang membersihkan

Entah bagaimana ceritanya bangsaku ini jadi berpenyakit
kronis begini soal sampah. Hampir semua orang melakukan hal yang sama. Kita tahu kalau ke Singapore orang Indonesia bisa jadi orang-orang yang manis, patuh pada lalu lintas dan membuang sampah pada tempatnya. Mengapa? Karena mereka tahu mereka bisa kena denda jika melanggar. Lalu mengapa pemerintah tidak memberlakukan peraturan denda supaya masyarakatnya yang bandel berubah?

Saya selalu berfikir, pemerintahlah yang bisa merubah kebiasaan buruk ini. Karena kebiasaan kita sudah terlanjur buruk. Pemerintah perlu meningkatkan pendidikan soal ini pada anak-anak disekolah, iklan layanan masyarakat di media, dan sanksi denda atau sanksi pekerjaan sosial misalnya.

Karena kita belum dipaksa dengan denda, saya mengajak semua, dimanapun, ayo kita buang sampah pada tempatnya, bukan hanya ketika berkegiatan di alam

Tentang Sampah

Indonesia menghasilkan 65 juta ton selama tahun 2016. Kantung plastik yang digunakan selama setahun mencapai 10,95 juta lembar, angka ini hanya dihitung dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO). Belum termasuk pasar dan warung-warung. Bayangkan angkanya jika digabung semua. Mengerikan

Mengurangi Sampah Sehari-hari

Kita bisa mengurangi sampah dengan cara

1. Tidak membeli minum botolan kemasan plastik

Bata botol minuman dari rumah, hemat dan anda sudah membantu lingkungan

2. Menolak plastik ketika membeli sesuatu yang kecil

Sering kita diberi plastik ketika membeli sebatang coklat misalnya, demi pelayanan konsumen yang baik kasir biasanya akan memberikan plastik.  Padahal barang yang kita beli bisa muat di tas kita, atau sesuatu yang bisa kita pegang dan bawa pulang kerumah. Yuk kita tolak plastiknya

Sering sekali, bisa dibilang selalu, kasir memisahkan produk pembersih seperti sabun, deterjen dll dengan belanjaan lainnya. Si deterjen dan sabun dibungkus dengan plastik lain, karena katanya bisa tercampur/mengganggu makanan. Menurut saya ini berlebihan. Kontaminasi apa yang terjadi diperjalanan dari swalayan ke rumah? Lebay! Yuk kita minta kasir menyatukan saja semua. karena plastik kecil itu hampir tidak ada gunanya alias tidak bisa dipakai lagi, sedangkan yang besar masih bisa kita pakai untuk pembungkus di tong sampah

3. Sampah dari dapur seperti sisa nasi, potongan tangkai sayur, kupasan bawang, kulit telur bisa dikubur dipekarangan rumah untuk penyubur tanah


3 comments:

Fanny f nila said...

Coba kalo semua orang bisa berpikir begini ya mba.. Kdg aku suka ngeneees banget, pas lg trvaling keluar, melihat negara2 lain bisa bersih, even kayak bulgaria dan serbia yg biasa aja bisa bersih. Malaysia yg serumpun jg bisa bersih.. Kok indonesia ini orang2nya susah bener disuruh bersih. Suami kalo mobil di depannya ketahuan buang sampah sembarangan, lgs di dim berkali2 ama dia. Pubya mobil bisa, tp etika buang sampah kok kyk orang ga berpendidikan :(

Sri murni said...

Budaya membuang sampah sembarangan memang ngeseli bgts mbak. Ini harus dimulai sejak balita utk membiasakab budaya buang sampah pada tempatnya.

afifuddin said...

Apa orang Indonesia harus dikasih contoh untuk bisa buang sampah pada tempatnya ya mbak?