Thursday, November 30, 2017

Review Film: Marlina Si Pembunuh

Saya baru saja selesai menonton Film Marlina si Pembunuh. Mendengar ada Garin Nugroho dibalik film ini seperti menjadi jaminan bahwa film ini akan menjadi tontonan menarik, meski biasanya pesimis dengan film-film Indonesia lainnya. Film yang banyak mendapat pujian dan memenangkan beberapa penghargaan di ajang film internasional ini sudah menjadi film "incaran" dan saya tunggu-tunggu kedatangannya




Baca ringkasan film ini dibawah ini (sumber google):

When a young widow is raped and and her cattle are stolen, she fights back and kills several of her attackers. She embarks on a journey of redemption and empowerment, but the ghost of one of the men she killed returns to haunt her.
Release dateNovember 16, 2017 (Indonesia)
Film dibuka dengan Marlina didatangi oleh seorang laki-laki kerumahnya. Laki-laki ini membicarakan hutang Marlina dan mengatakan akan mengambil harta miliknya untuk melunasi hutang itu. Pria ini juga menyampaikan bahwa Marlina harus melayani 7 pria teman-temannya. Jenazah suami Marlina ada diruangan yang sama dengan mereka ketika pembicaraan ini terjadi. Jenazah seperti orang duduk dengan tenang. Saya yang tidak mengerti mengenai ini, kebingungan mengapa jenazah itu ada disana. Setelah mencari informasi (setelah film selesai) kemudian saya tahu bahwa adat Sumbawa memang biasa menunda penguburan karena alasan biaya

Menyadari ancaman mengerikan didepannya, ketika memasak, Marlina meracuni makanan yang disajikannya kepada pria-pria itu. 4 diantaranya tewas. Tapi ada 1 orang bernama Marcus yang sedang tidur dikamar tidak ikut tewas. Niat Marlina untuk juga meracuninya dengan membawa makanan ke tempat tidur gagal karena makanan itu tumpah. Pria itu kemudian memperkosa Marlina.  Ketika perkosaan sedang terjadi, Marlina memenggal kepala pria itu dengan golok yang berada dikamar itu

Marlina membawa kepala pria yang dipenggalnya kekantor polisi. Perjalanannya menuju kantor polisi tidaklah mudah. Ia harus berjalan kaki, dan menumpang angkutan umum berupa truk yang jarang lewat. Dia harus mengancam supir dengan parang supaya supir mau membawanya dengan penggalan kepala ditangannya kekantor polisi.

Diperjalanan Marlina masih harus berhadapan dengan 2 orang kelompok pemerkosanya yang tidak ikut mati (tidak ada dirumah Marlina ketika ia meracun yang lain). Mereka ingin membalas dendam. Dia bersembunyi dibalik semak dan melanjutkan perjalanan dengan kuda yang ditemukannya.

Sesampainya dia di kantor polisi dia harus menunggu polisi yang sedang bermain tenis meja. Bayangkan setelah kejadian mengerikan yang dia alami dia masih harus menunggu petugas hukum selesai bermain tenis. Ketika proses pelaporan dilakukan, Marlina harus menghadapi kenyataan bahwa:

1. Polisi belum akan datang memeriksa tempat kejadian (Rumah Marlina) karena belum ada kendaraan. Polisi mengatakan bahwa kendaraan akan ada besok

2. Polisi mengatakan Marlina harusnya diperiksa/visum, tapi saat itu tidak ada dokter, dia harus menunggu hingga bulan depan. Saat itu kita penonton yang tahu visum pemerkosaan harus dilakukan saat itu juga jadi gemas dan marah. Beginilah birokrasi yang kita semua hadapi ketika kita mengalami masalah di negeri ini.

3. Ucapan polisi yang mengatakan "belum jadi toh?" ketika Marlina mengatakan dia diperkosa adalah ucapan mengecilkan musibah yang dialami oleh Marlina. Seolah mereka saat itu sedang membicarakan hal-hal kecil yang tidak penting.

4. Ketika Marlina menyampaikan ciri-ciri pemerkosanya dengan kata-kata  "kurus, tua" Polisi mengatakan: dia kurus dan tua kok kamu bisa diperkosa? Victim blaming dan meragukan keterangan korban.

Marlina keluar dari kantor polisi dan menangis tersedu-sedu. Dia sadar pertolongan yang diharapkannya dari pihak berwajib tidak akan dia dapatkan. Saya sebagai orang Indonesia sadar bahwa apa yang digambarkan film ini soal birokrasi di Indonesia memang begini adanya, lambat dan berbelit, bahkan mungkin bisa jadi lebih buruk dari yang digambarkan film ini.

Film ini menggambarkan keadaan perempuan-perempuan yang menjadi korban atas kesemena-menaan  pihak-pihak, termasuk keluarga (suami), kegagalan sistim melindungi mereka, dan mitos-mitos patriarki yang merugikan perempuan.

Digambarkan dalam film ini bahwa masyarakat Sumba percaya bahwa  wanita hamil yang melahirkan melewati waktunya adalah akibat ia berhubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Tokoh Novi yang mengalami keterlambatan kelahiran padahal sudah 10 bulan mengandung diabaikan suaminya ketika membutuhkan perlindungan, bahkan dipukuli, karena suaminya menganggap Novi berselingkuh.

Kedua perempuan ini akhirnya menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Tidak ada yang membantu selain mereka berdua. Film ini mempunyai kritik tajam untuk birokrasi dan dunia patriarki. Semoga yang menonton dapat menangkap pesan yang disampaikan film ini

O ya, pastinya penonton akan terpukau dengan pemandangan Sumbawa yang diperlihatkan film ini, banyak bukit-bukit savana diperlihatkan, dengan pengambilan gambar dari jauh. Garin Nugroho memang keren kalo soal beginian.

Saya langsung membayangkan mengayuh sepeda saya dijalan kecil diantara bukit-bukit itu, lalu membuka tenda dan ngeteh disana *menerawang*






3 comments:

Desy Oktafia said...

Waah..
menarik kak review film nya.
jadi pengen nonton.
tapi cari tempat dulu buat nyembunyiin Khalid.
hahahaha

Annisa Rizki Sakih said...

Beberapa minggu lalu baca twitnya Ika Natassa memuji film ini setinggi bintang bahkan sampe bayarin 10 orang yg nonton setelah dia @ 100rb. Saya penasaran banget. Ternyata memang super keren ya Kak Rin.. jd tambah penasaran

Annisa Rizki Sakih said...
This comment has been removed by the author.