Saturday, December 26, 2009

Catatan Perjalanan Pendakian Argopuro, It's Heaven on Earth - Bagian 1

Seorang Mahasiswa Asal Bandung bernama Vincent dinyatakan hilang pada akhir Januari 2006. Pencarian yang dilakukan tim SAR, Kopasus, dan tentu saja oleh teman-teman seorganisainya MAHITALA Universitas Parahyangan belum mebuahkan hasil hingga akhirnya ditutup pada tanggal 28 Maret 2006. Namun Mahitala bertekad untuk melanjutkan pencarian terhadap rekan mereka.

Hari pertama (07 April 2006), Keberangkatan ke Surabaya

Bergegas berjalan meninggalkan kantor, hari ini aku izin pulang lebih awal supaya bisa tiba dibandara tepat pada waktunya. Berjalan meninggalkan kostan, aku memanggul 1 buah ransel ukuran 50 liter dipunggung dan satu daypack didepan yang membuat aku menjadi pusat perhatian, seperti biasa aku berusaha tak perduli.


Di bis, aku mulai cemas memperhitungkan jam tempuh ke bandara, mudah-mudahan nggak telat dengan keadaan macet seperti ini. Kali ini aku akan berangkat dengan Mbak Titik dan Edi, aku mengirimkan pesan menanyakan posisi mereka, ternyata aku berangkat lebih dulu sehingga berposisi lebih dekat ke bandara. Akhirnya sampai dibandara jam 19.10, segera aku cek in dan memberitahu Mbak Titik lewat sms. 

Masih ada waktu, aku mengisi perut dengan bakso malang dibagian depan bandara dengan harga bandara tentunya. Setelah itu aku berdiri didekat barisan penumpang Air Asia yang sedang antri untuk cek in, menunggu munculnya mbak Titiek & Edi. Karena yang kutunggu tak juga tiba, aku memutuskan menunggu di ruang tunggu. Tidak lama kemudian mereka muncul sudah lengkap dengan kostum tempur pendakian.

Kedatangan kami dibandara Haji Juanda sudah ditunggu Hendra, teman pendaki dari Surabaya. Dia bersedia menyediakan waktu untuk menjemput dan memberi tempat untuk menginap dirumahnya. Kami mendapat info, bahwa rombongan Nana, Bang Asdath dan Mas Joko yang sudah tiba dibandara pagi harinya sempat kesulitan menemukan terminal Bungur Asih (Purabaya) dimana mereka memutuskan untuk mencari hotel tempat menginap. Malam itu kami berbincang-bincang dengan tuan rumah sebelum tidur.

Hari kedua (08 April 2006), Menuju Baderan                       Setelah sarapan dengan menu yg disediakan tuan rumah, kami pamitan untuk berangkat menuju baderan. Kami mendatangi hotel tempat Nana-Bang Asdath-Mas Djoko menginap, kemudian tim Cilegon: Budi Dkk muncul lalu kami berangkat menuju terminal beramai-ramai. Diterminal, semua tim akhirnya berkumpul, sudah menunggu Lukma-Imel yang berangkat dengan pesawat pagi, cepot, Bubun, Rian, Kris dan Ivan yang naik kereta jumat malam.

Setelah penantian yang panjang terhadap Sulis, akhirnya team berangkat dengan bis menuju Besuki, Situbondo dengan di iringi hujan . Suasana meriah dimulai di bis ini, canda mulai terdengar, celaan mulai hadir. Berbahagialah mereka yang duduk didepan, karena karena beberapa kali tumpukan ransel jatuh menimpa kepala kami yang duduk dikursi paling belakang. hikzz…

Kedatangan kami di Besuki disambut ribuan burung yang terbang dilangit. Mungkin burung-burung itu bermigrasi ketempat lain, beberapa teman mengabadikannya dengan handycam. Pasukan mulai berpencar mencari logistik untuk pendakian, belanja dimulai dari bawang, telor, hingga spritus untuk bahan bakar memasak.


Sebelum naik ke mobil yang mengantarkan kami ke desa Baderan, terlebih dahulu kami mengisi perut masing-masing. Beberapa orang mengerumuni warung tenda sate madura, yang lainnya memilih untuk menikmati sop sapi. Saya yang kebetulan menikmati sate ayam, berkesempatan makan gorengan hangat dengan sambal petis yang enak luar biasa dengan harga hanya Rp 300,- per buah. Dengan rasa dan ukuran seperti itu, minimal kita harus membayar Rp 700 di Jakarta. Ibu penjual bakwan itu menanyakan asal dan tujuan kami, “kalau datang ke Besuki lagi, jangan lupa singgah disini yaaa…” katanya ramah


Angkot penuh sesak oleh kami, setiap sudut di isi maksimal, bahkan hingga lantai. Menggerakkan kaki pun sulit sehingga kami harus pasrah merasakan kram selama di jalan. Hujan turun membasahi ransel-ransel yang di ikat di atas mobil, juga membasahi tubuh yang kurang beruntung mendapat tetesan dari dinding dan kaca mobil. Sesampai nya di desa Baderan, kami segera menuju pos PHPA sambil dengan enggan membawa ransel yang kuyup.

Malam itu pos PHPA mejadi meriah dengan hadirnya kami, seluruh ruangan di isi dengan ransel-ransel dan manusia. Beberapa orang terlihat antri untuk mandi, ada yang repacking, ada juga yang ngobrol. Suasana menjadi penuh gelak tawa ketika penyamaran seorang jungle king terkuak. Sungguh kasihan korban-korbannya hehehe…

Ketika mengisi buku daftar pendakian, segera saya membalik buku tersebut ke bulan Januari, dengan pemikiran bahwa tentunya Vincent, pendaki yang hilang akhir Januari lalu menuliskan namanya disitu. Benar saja, Vincensius, mendaftarkan pendakiannya pada tanggal 21 Januari dengan menggunakan sebuah pensil, menuliskan alamat organisasinya, nomor telepon termasuk juga nomor telepon genggam miliknya. Ia juga menuliskan bahwa ia akan turun dari Desa Bremi.

Perasaan haru, sedih, kasihan, campur aduk dalam benakku. Menyaksikan tulisannya mempertegas padaku bahwa hilangnya Vincent bukan hanya sekedar berita yang biasanya aku dengarkan sambil menyantap makan siang, dia ada dan nyata. Dia adalah sebuah jiwa yang sama seperti aku dan teman-teman yang lain, yang mempunyai resiko hilang dihutan rimba. Kami tak tahu kapan nasib baik akan meninggalkan kami. Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaanya? Fikiran bahwa ia akan sulit bertahan hidup selama 2 bulan lebih di hutan rimba membuat hatiku ngilu. Berkali-kali aku menelusuri setiap lekuk tulisan tangannya…



Aku mengirimkan pesan kepada Joan, kakak angkatan Vincent yang sempat aku kenal karena kami pernah tinggal dalam pondokan yang sama. Dia mengatakan bahwa saat itu mereka sedang Merayakan Dies Natalis Mahitala yang akhirnya menjadi acara yang penuh dengan cucuran air mata karena hilangnya Vincent. Titip doa untuk adikku di puncak ya rin, kata Joan dalam pesannya. Malam itu aku mencari secarik kertas untuk menuliskan sebuah doa untuk Vincent.

Aku, Nana dan Mbak Titiek memutuskan untuk menyewa tenaga porter untuk membantu meringankan beban kami, keputusan ini kami ambil karena mempertimbangkan lama perjalanan, yang tentunya tidak akan bisa kami nikmati kalau membawa beban terlalu berat. Ternyata keputusan ini sangat-sangat berguna, disamping beban yang menjadi ringan, kami juga dibantu oleh Mustakim, nama porter kami, untuk menunjukan jalan menuju danau Tunjung.

Beberapa orang yang belum tidur membahas masalah hilangnya Vincent dengan salah seorang penjaga PHPA yang sempat mengenalnya selama beberapa hari. Ditengah asyiknya pembahasan kami, tiba-tiba tercium aroma yang sangat tidak enak. Entah siapa orang yang menghembuskan aroma itu, mereka yang sudah tidurkah? atau salah satu yang masih terjaga? Siapapun dia, yang jelas dia mampu membubarkan kami. Dengan omelan masing-masing kami beringsut keruangan lain lalu bersiap tidur.

Hari Ketiga (09 April 2006), Menuju Pos Mata Air I

Rasanya hati tidak tega melihat dua karung yang terisi padat oleh barang-barang kami. Aku berusaha mengangkatnya sedikit untuk merasakan seberapa berat beban porter nantinya. Pikulan itu hanya bergerak sedikit ketika aku sudah mengeluarkan semua tenaga. Aku pun menanyakan pada Mustakim, apakah dia biasa membawa beban seberat itu. Anggukannya yang sungkan-sungkan semakin menambah rasa nggak enakku.


Perjalanan di mulai dengan berjalan melintasi ladang-ladang penduduk, belum lewat 1 jam pertama, kami berhenti menunggu seorang teman yang ketinggalan dibelakang. Akhirnya diketahui bahwa bebannya terlalu berat. Kami berhenti dan menghubungi pos PHPA minta dikirimkan 1 orang porter lagi namun porter yang diharapkan sedang tidak ada. Akhirnya bebannya dibagi ke ransel teman-teman yang masih bisa diisi.

Perjalanan selanjutnya ditemani rintik-rintik hujan yang kemudian memang rajin mengiringi kami hingga akhir pendakian. Lembah yang kami pijak berhadapan dengan lembah yang didinding-dindingnya mengalir banyak sungai. Mata mulai disuguhi pemandangan indah. Jalan tidak terlalu menanjak, hingga ke pos Mata Air I.

Malam sudah menjelang ketika kami tiba di pos Mata Air I, masing-masing mulai mendirikan tenda dan memasak. Menurut keterangan mereka yang turun mengambil air, jalan menuju kesana sangat terjal dan licin. Malam itu terdengar dengkuran dari tenda-tenda disebelah kami, tapi yang paling nyaring tentunya dengkuran dari tenda sendiri, Garempa kelihatannya kecapekan hari ini

Hari Keempat (10 April 2006), Menuju Cikasur

Pagi hari acara masak kami ditemani oleh lagu-lagu dari MP3 Ivan, Bob Marley, Dewa 19 , Samson, U2 dll ngamen buat kami. Disana sini terdengar suara-suara sumbang yang mencoba menemani MP3 bernyanyi. Terik matahari membakar punggung kami yang sedang meramu menu sop tanpa daging. 

Sekitar jam 11 kami mulai meninggalkan pos Mata Air I, Jalur tidak terlalu menanjak, Tri atau yang biasa dipanggil Gagap merelakan diri membawa ransel Ivan setelah kemaren dia rela membawa ransel Garempa yang tinggi menjulang. Alangkah baiknya dikaw gav… Panas matahari dipagi hari ternyata hanya sebentar, kami kemudian kembali disirami hujan. Menjelang alun-alun kecil kabut turun sangat tebal, yang memberikan pemandangan sedikit menarik. Aku yang sedang sendiri mengabadikan kabut yang menyelimuti hutan ketika itu.

Kami sampai di alun-alun kecil dan mendapat informasi bahwa Cikasur masih harus ditempuh sekitar 1 jam lagi. Hujan masih turun. Didepanku aku melihat Tri/Gagap berjalan tanpa ransel, ternyata dia kembali lagi karena merasa teman-teman yang dibelakangnya tertinggal jauh. Kami menjumpai beberapa padang rumput yang semula kami kira Cikasurr, tapi kami kembali melanjutkan perjalanan karena tidak menjumpai teman-teman yang berjalan lebih dulu. Apakah kami akan menuju Cisentor? Pikirku yang waktu itu tidak tahu bahwa padang rumputyang kami lewati bukanlah Cikasur.


Setelah melewati 2 padang rumput (cikasur palsu) akhirnya kami sampai di Cikasur asli jam 17.30. Pemandangan indah yang hanya pernah aku saksikan lewat sepotong foto, akhirnya terpampang bebas didepan mata. Hamparan rumput membentang luas, dengan bukit-bukit sebagai pembingkainya. Budi, Herry, Bubun dan Rian sudah sampai, sedangkan yang lainnya belum kelihatan. Kami memasak welkam drink di pondok untuk teman-teman yang belum tiba.

Malam itu sebagian tim tidur diatas pondok, sedangkan yang lainnya masih setia dengan pasangan pada malam sebelumnya didalam tenda masing-masing.

Bersambung ke Bagian 2

2 comments:

Lina W. Sasmita said...

Huhuhu...Argopuroooo *kejer nangis saking envy-nya

Rina said...

takkan lari gunung dikejar hehe :D