Thursday, May 26, 2016

[Jangan Bilang Emak Saya] Bertualang Sendiri ke Pulau Bintan Nan Sunyi (Bag - 1)

Inilah motor yang menemani perjalanan saya selama 2 hari di Pulau Bintan
Judulnya terinspirasi dokumenter National Geographic yang berjudul "Dont Tell My Mom", soal trip berbahaya yang si pelakunya berharap tidak ada yang memberitahu Ibunya. Saya juga begitu, jangan bilang emak saya ya kalau kali ini saya akan jalan sendiri, sorangan, bukan apa-apa, saya tidak mau membuat dia kepikiran. Saya memang lagi pengen aja bertualang sendiri.

Indonesia bahagia lagi, tanggal merah berturut-turut 2 hari, Kamis dan Jumat, jadi jika digabung dengan Sabtu dan Minggu, kita akan libur 4 hari berturut-turut, asyik banget kan. Tapi sejak sebulan lalu saya sudah pusing *baca: galau* mikirin akan kemana. Mengapa pusing? Karena saya nggak punya budget liburan saat ini. Kalau punya budget, saya mah nggak pusing, malah mungkin nambah liburan dengan cuti, tinggal booking tiket ke Jepang, Amrik atau yurop sana, nambah deh cuti 6 hari, supaya komplit 10 hari. Tapi kan hidup ini bukan selalu soal liburan, tapi juga soal tabungan yang kosong, rencana-rencana yang masih di angan dan juga soal banyaknya pengeluaran bulan lalu. (Ini ngomong apa sih? Saya juga bingung). Mulai ngelantur deh. Maaf

Kemana? kemana? kemana? *Ayu Ting Ting*
Saya lalu browsing soal Pulau Kundur, sebuah pulau yang masih terletak di Kepulauan Riau, mengapa ke Kundur? karena saya sedang ingin ke tempat agak sepi dan berinteraksi dengan masyarakat, pantai yang tidak populer mungkin, bukit kecil mungkin, yang penting sepi dah. Saya sudah berangan-angan aja bagaimana suasana disana, duduk disamping tenda sambil minum teh hangat, lalu ngemil kacang, atau tidur di hammock dengan angin yang bertiup sepoi sepoi

Tiket roro saya dan motor
Setelah mencari info sana sini, saya mendapat informasi bahwa kapal roro (roll in roll off) Batam-Kundur sedang diperbaiki dan tidak akan beroperasi selama sebulan. Saya segera mencoret Kundur dari daftar, karena rencana saya kali ini adalah membawa motor. Tidak lama saya berfikir untuk mengalihkan rencana ke Pulau Bintan, ada beberapa tempat disana yang belum saya kunjungi. Saya pun mulai mencari informasi online dan membuat itinerary

Hari ke 2 liburan saya berangkat dengan membawa sebuah ransel dan mengikatnya dibelakang motor. Oh ya, saya meminjam motor abang, karena motor saya hanya bisa dipakai didaerah Free Trade Zone Area (FTZ Batam), artinya tidak bisa dibawa keluar pulau Batam

Jam 9.30 saya sudah bergerak dari rumah, mengisi bensin hingga penuh, lalu mengikatkan ransel di tempat duduk belakang dengan tali plastik (tali rafia). Saya singgah di Ruko Mega Legenda untuk membeli cemilan dan masker untuk melindungi saya dari debu dan asap selama perjalanan


Jalanan sepi yang saya lewati

Horror di Perjalanan

Setibanya di punggur saya langsung membeli tiket, Rp 31.000 untuk motor dan 20.000 untuk dewasa. Seingat saya beberapa tahun yang lalu, motor hanya 15,000 sama dengan tiket dewasa. Tempat menaruh kendaraan di kapal sudah nyaris penuh, saya masih bisa menyelipkan motor saya diantara 2 buah truk, seandainya bukan kendaraan kecil seperti motor, saya pasti harus menunggu kapal roro berikutnya

Saya mencatat, kapal mulai berangkat jam 11.30 dan tiba persis jam 12.30. Ada sedikit gerimis ketika kami tiba di Tanjung Uban. Saya segera memacu kendaraan saya mencari jalan menuju Pantai Trikora. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya saya mendapatkan jalan yang tepat. Setelah melewati kota, tidak terlalu banyak persimpangan, jadi tidak terlalu perlu memikirkan arah, hanya memacu motor. Tiba di persimpangan Sungai Kecil saya beristirahat sambil makan disebuah warung yang menjual soto, sambil memanfaatkan kesempatan bertanya pada pemilik warung, kemana arah menuju Pantai Trikora.

Setelah Sungai Kecil, jalanan yang saya lalui sangat sepi, hanya beberapa kali berpapasan dengan orang lain yang naik motor atau motor, tapi sungguh, saat itu saya tidak terbersit membayangkan apa jadinya kalau tiba-tiba ban motor saya kempes, mungkin karena kejadian itu terlalu menakutkan.

Suatu ketika saya melihat hujan datang dari depan kearah saya, saya beruntung disebelah jalan ada pondok kecil semacam/mirip pos security, saya menaruh motor persis disamping pondok itu lalu duduk menunggu hujan berhenti. Kira-kira 20 menit kemudian hujan agak reda, masih ada gerimis kecil, saya pun memacu motor saya lagi. Kira-kira 10 menit kemudian hujan lebat kembali, dan saya berhenti disebuah bengkel yang sedang banyak motor singgah untuk menghindar hujan juga seperti saya. Mereka remaja belasan tahun yang mengingatkan saya pada Yuyun, seorang remaja berusia 14 tahun yang diperkosa  14 orang remaja yang sebagian masih berusia belasan. Mereka memberi petunjuk lagi tentang jalan menuju Trikora, katanya sih tinggal 20 menitan lagi. Asyik, sudah dekat

Setelah hujan reda saya melanjutkan perjalanan lagi, please deh hujan, jangan datang lagi, saya lelah kamu gangguin diperjalanan ini. Dipersimpangan terakhir yang harus dilalui, saya salah jalan lagi dan harus kembali ke jalan semula untuk menuju jalan yang benar

Selanjutnya, dari persimpangan itu, jalanan sangat horror, bukan jelek atau rusak, tapi karena kesunyian yang luar biasa. Ketika ada motor mendekat, saya akan berpindah ke jalur kanan karena cemas. Saya cuma melihat 2 atau 3 motor selama 30 menit di perkebunan sawit itu. Perasaan antara takut, takjub dengan keindahan pemandangan bercampur aduk. Tapi dilain sisi saya juga senang dengan kesunyian itu.

Pantai Trikora

Begitu keluar dari perkebunan sawit, saya segera melihat Pantai Trikora, ada pondok-pondok kecil menghadap laut yang bisa dipertimbangkan untuk tempat menginap. Saya bertanya pada pemilik pondok apakah saya bisa menginap disana, boleh katanya, dengan biaya 40,000 rupiah, menggunakan toilet Rp 2000 dan mandi Rp 3000. Saya bertanya apakah rumah disebelah sana (menunjuk sebuah rumah yang berjarak sekitar 100 meter) adalah sebuah keluarga dan mereka akan menginap disana malam itu? Si Bapak bilang iya. Sip, saya segera memutuskan tempat itu cukup aman untuk menginap sendiri karena ada "tetangga"

Pizzaria di Pantai Trikora, hanya Rp 50.000
Pizzaria, Pantai Trikora
Saya duduk dan menikmati pemandangan sebentar, lalu memutuskan mencari makan malam. Saya mengendarai motor lagi, tidak sampai 10 menit menyusuri jalan raya, terlihat plank bertuliskan "Pizzaria". Cukup sering dengar soal Warung pizza ini, karenanya saya cukup penasaran dan memang ingin mencicipi dalam trip ini. Padahal tadinya sebenarnya hanya mencari warung nasi. Saya segera masuk dan masih membiarkan tas ransel  terikat di motor, lalu memesan Tuna Pizza dan es teh manis, atau orang Batam menyebutnya teh obeng. 

Pesanan agak lama datangnya karena memang pengunjung sedang ramai. Oh ya, pengunjung duduknya ditempat terbuka, dibawah pohon-pohon, pantai terlihat jelas. Saya melihat sebuah rombongan besar sedang berkumpul, mereka memakasi kaos yang seragam dengan tulisan "SMANSA". Mungkin maksudnya SMA Satu, entah Batam, entah Tanjung Pinang

Pizza saya datang dan langsung saya makan dengan lahap, saya memang sangat lapar, rasanya tidak terlalu istimewa, tapi roti nya memang garing karena jenis yang disajikan adalah pizza Italia. Saya membayar Rp. 50.000 untuk pizza itu dan 20.000 untuk es teh manisnya. Itu adalah teh manis termahal yang pernah saya minum seumur hidup saya


Si ganteng yang melayani pesanan sambil bernyanyi
Diperjalanan kembali kepantai, saya bertanya kepada beberapa pemilik pondok, berapa biaya kemping disana, ada yang menyebut tidak tahu karena suami sedang tidak ada, ada yang menyebut 100,000. Saya.memutuskan tetap menginap di tempat semula. Hari sudah menjelang magrib ketika saya mendirikan tenda. Saya memutuskan tidak memasang fly sheetnya karena tak mau repot, kalaupun hujan, tinggal pindah ke pondok pikir saya

Saya menghampiri rumah yang ada didekat situ dan menyapa si Ibu, kemudian menyampaikan saya akan kemping disana (sambil.menunjuk tenda), dan saya meminta Ibu itu untuk mau mendengar jika ada suara dari arah tenda, dan datang membantu. Dia bilang iya. Saya terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa akan ada teman yang datang, karena tahu reaksi yang akan muncul dan malas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang (saya duga) pasti muncul jika bilang saya sendiri. Kami mengobrol sebentar, lalu saya kembali ke tenda.

Suasana tempat duduk di Pizzaria, Bintan
Saat merapikan di tenda, Ibu itu datang dengan 4 anaknya untuk mengobrol, kami duduk di pondok sambil makan kacang dua kelinci *bukan iklan*. Obrolan kami antara lain soal kasus Yuyun, seorang siswa berusia 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh beramai-ramai. kebetulan si Ibu punya anak seusia Yuyun yang ikut duduk bersama kami. Saya juga sempat bertanya berapa kilo ikan yang bisa didapatkan suaminya sebagai nelayan setiap malamnya. Ternyata bisa mencapai 1 ton dan penjualannya bisa jutaan. Pantas saja saya selalu melihat rumah nelayan selalu bagus-bagus. Kembali saya meminta si Ibu untuk datang kalau ada apa-apa, si Ibu mengatakan ada anjing yang menjaga kami, anjingnya memang ada bersama kami ketika itu

Malam Yang Horror

Menjelang tidur, saya sempat chatting lewat WhatsApp dengan teman-teman di Batam, saat itu baterai hp sudah nyaris mati, lalu tidur sekitar jam 9. Sekitar jam 12 malam terbangun karena anjing si Ibu disebelah menggonggong terus menerus. Angin tidak bertiup lagi, saya merasa gerah tapi tidak berani membuka tenda. Tapi ada jendela tenda yang terbuka untuk ventilasi. Anjing terus menggonggong, saya mengambil senter dan memastikan pisau lipat yang saya sengaja sediakan dipojok tenda ada ditempatnya. Anjing mendekat kearah saya sambil terus menggongong. Saya membayangkan seseorang tiba-tiba membuka tenda saya. Horror itu berlangsung terus hingga jam 3 pagi ketika saya tertidur lagi.


Tenda saya di Pantai Trikora, Bintan
 
Perjalanan saya di rekam dengan GPS, terlihat 2 kali saya melenceng dari jalan yang benar


Paginya saya terbangun dan melihat hari sudah terang, lalu pergi sarapan di warung yang berjarak sekitar 300-400 meter dari tenda agar bisa men charge hp. Setelah memesan saya bertanya apakah bisa men charge hp. Si ibu bilang listrik mati sejak semalam. Hiks, ya sudahlah. Saya sarapan dan kembali ke tenda untuk mandi di kamar mandi yang disediakan untuk penyewa pondok. Teman saya Cahaya berniat menyusul tapi bingung akan menggunakan kendaraan apa. Saya membayar biaya sewa pondok tapi si Ibu menolak karena katanya saya tidurnya di tenda. Akhirnya saya menyodorkan Rp 10.000, saya bilang saya sudah memakai kamar mandi mereka. Selesai packing saya memacu kendaraan ke arah Lagoi, tujuan saya adalah Treasure Bay

Di malam ke-2 di Bintan, saya akan menjalani malam yang lebih horror dari pada lolongan anjing semalaman. Tunggu tulisan bagian ke 2 ya :)

 





Wednesday, May 25, 2016

Alasan Mengapa Batam Itu Kece

Logo Welcome to Batam diatas Bukit
Kemarin ada lomba twit yang diadakan oleh mas Danan, teman di Blogger Kepri. Isi twit musti soal Batam dengan hastag #BatamKece. Hadiahnya sebuah jaket keren berwarna merah. Memang bukan uang puluhan juta, tidak juga jutaan, tapi kami para blogger banyak yang ikutan dengan semangat

Tips Persiapan Libur Lebaran

Bulan puasa sebentar lagi. Dimana-mana sudah terdengar pembicaraan soal mudik, buka puasa bersama, pesan tiket mudik dan liburan, bahkan rencana membeli baju lebaran sebelum toko membludak.

Di negara kita, Hari Raya Idul Fitri biasanya semua orang akan berlibur, bisnis akan rehat, perusahaan tutup, dan semua orang merayakan hari kemenangan. Waktu berkumpul dengan keluarga besar dan saling mengunjungi biasanya beberapa hari saja, sisa liburan biasanya kita akan berlibur bersama keluarga keluar kota. Makanya pengunjung objek-objek wisata akan membludak, jalanan menuju kesana pun macet.

Seni Dan Rasa Dalam Makanan Barletta

Fruit Egg Tart & Quiche Lorraine (foto: Ahmadi)
Da Vienna Boutique Hotel mengundang Blogger dan media dalam peluncuran Barletta Restaurant dan Lounge yang berada di lantai 2 hotel tersebut. Sabtu sore sehabis hujan  yang mengguyur Batam, saya berangkat menuju Da Vienna yang berada di Baloi, Batam. Saat saya datang teman-teman sudah ramai sedang menyicipi cemilan sambil mengobrol dengan management Da Vienna.

Monday, May 23, 2016

Raih Ijazah Impian Dengan Kuliah Online



 
  • "Aku pengen kuliah lagi nih, tapi nunggu anakku gedean dikit, nggak mungkin ditinggal masih kecil gini"
  • "Pengen kuliah lagi, tapi jam kerja masih sering sampai lewat jam 5, jadi mau ambil kuliah sore atau malam pun susah"
  • "Pengen deh lanjut S1, tapi kerjaan saya sering musti travelling keluar kota, gimana mau kuliah"
Sering dengar yang begini kan teman-teman? Iya, saya juga

Sunday, May 22, 2016

Terpikat Asyiknya Harris Resort

Tulisan ini lanjutan dari tulisan pertama mengenai Media & Blogger gathering di Harris Hotel Batam Center dan Harris Resort Waterfront

Kami tiba di Harris Resort Waterfront dengan disambut welcome drink jahe dan jeruk dingin dan tari-tarian oleh staff Harris Resort. Mereka mengajak kami untuk ikut menari poco-poco, beberapa blogger kemudian  ikut menggoyang tempat itu. Teman-teman dari media seperti biasa hanya senyum-senyum saja, blogger memang paling heboh ya! Kemudian kami disambut oleh General Manager Harris Resort Marina Mr. Romaine Huet

Tahu Goreng Medan, nggak malu mengakui kalau saya nambah sampai dua kali

Hari Seru Dengan Harris Hotel & Resort

Harris Hotel Batam Center
Hari minggu, 15 Mei kemarin saya dan teman-teman Blogger Kepri menghadiri Bloggers Day & Media Gathering yang diadakan oleh Harris Hotel. Tujuan acara ini adalah buat ngenalin Harris Hotel Batam Center & Harris Resort Marina beserta fasilitas dan program promo yang ada ke masyarakat. Gathering ini dihadiri oleh blogger dibawah naungan Blogger Kepri dan berbagai media cetak dan elektonik. Nah, selain dijelasin soal promo dan fasilitas, kita juga dipersilahkan buat mencoba fasilitas-fasiltas itu. Asyik banget ya...