Wednesday, February 3, 2010

Obsesi Tubuh Ideal

Saya selalu gelisah mengenai bentuk tubuh saya, merasa tidak nyaman dan selalu mencoba mencapai bentuk tubuh yang lebih baik dan ideal. Banyak hal saya lakukan untuk itu, mengurangi asupan makanan, jogging, fitness hingga angkat beban untuk membentuk otot yang lebih kencang.
Saya memang mempunyai bakat keturunan tubuh subur dari ibu saya, karenanya, berat badan saya gampang sekali naik, apalagi pekerjaan membuat saya lebih banyak duduk didepan komputer. Makanan yang saya makan mungkin tak banyak, tapi sepertinya masih lebih banyak kalori yang masuk dibanding dengan kalori yang saya pakai untuk kegiatan sehari-hari, karenanya berat badan saya perlahan-lahan terus bertambah.



Lemak yang sudah terlanjur menumpuk tak gampang untuk dikikis, usaha-usaha yang saya lakukan hanya mampu mengurangi paling banyak 2 kg, ketika saya lalai sedikit saja dengan olah raga, berat badan dengan cepat naik lagi hingga berat badan sebelumnya.

Suatu hari di April 20018, saya membeli sebuah sepeda gunung (mountain bike), lalu mulai rutin memakainya di jalan raya maupun off road. Saya sangat menikmati olah raga ini, apalagi trip keluar kota dengan teman-teman, kegiatan yang menguras tenaga pun terasa menyenangkan karena diselingi obrolan dan canda. Dengan frekuensi sepedaan yang hampir tiap hari, dalam 6 bulan saya berhasil menurunkan 7 kg. 3 kg kemudian juga saya enyahkan karena load pekerjaan saya ditempat baru sangat tinggi, sepedaan ditambah diet dan stress. Meski sudah berhasil menurunkan 10 kg, saya tetap ingin menurunkan lebih banyak lagi, saya belum puas, saya mulai terobsesi dengan tubuh kurus ideal yang ada dimajalah-majalah, atau tubuh-tubuh ceking yang berseliweran didi mall mall papan atas.

Saya sering memaksa perut kosong pada malam hari dengan tidak makan malam, atau pagi hari dengan tidak sarapan, saya sering sarapan jam 11 pagi, kemudian dilanjut dengan tidak makan siang, malamnya saya hanya makan 1 buah apel, juice buah, setangkup roti dan susu, bahkan kadang hanya susu saja, atau roti saja. Karena memang saya berbakat gemuk, sedikit saja saya melepaskan “rem”, berat badan “terasa” naik, apalagi kemudian waktu untuk berolahraga menjadi terbatas karena pekerjaan.

Pola makan yang berantakan ini berlanjut terus selama berbulan-bulan, mungkin inilah yang menyebabkan radang usus buntu yang kemudian saya derita, walau sebenarnya penjelasan penyebab radang tidak begitu saya mengerti (lihat artikel ini untuk penyebab usus buntu). Tanggal 13 November dini hari saya merasakan sakit dilambung yang saya kira sakit maag. Saat berobat diklinik, dokter menanyakan apakah saya mengidap penyakit maag, saya tidak mengiyakan atau bilang tidak. Saya diberi obat pereda maag dan disuntik Ranitidin (untuk meredakan perih). Selanjutnya saya istirahat dirumah dengan kondisi yang kemudian tidak membaik.

2 hari kemudian (15 November malam) saya dilarikan kerumah sakit dengan kondisi lemah, muntah-muntah dan menangis meraung-raung karena menanggung rasa sakit yang luar biasa.
Rasa sakit itu rupanya karena usus buntu yang sudah pecah, dokter menyatakan tindakan bedah harus dilakukan. Tak terperikan apa yang saya rasakan selama dirumah sakit, diruangan IGD, berpuluh kali perut saya ditekan-tekan dengan jari oleh dokter yang berbeda-beda, entah apa yang membuat mereka tak juga tahu apa penyakit saya, proses diagnosa memakan waktu hingga 24 jam. Seringnya perut saya ditekan bahkan sempat membuat saya berang dan menepiskan tangan sidokter. Pemasangan selang ke lambung melalui hidung dan selang kateter untuk urine tak kalah menyakitkan, tapi saya hanya pasrah sambil bersimbah air mata menahan sakit

Penyakit membuat saya kehilangan 2 kg berat badan, jika saja hal itu bukan karena sakit, saya pasti senang sekali, namun saya telah kehilangan kesempurnaan tubuh yang saya miliki sebelumnya. Saya tidak berbicara tentang gurat bekas luka bedah yang tak sedap dipandang mata (saya memang tak menyukainya), tapi soal luka yang akan banyak mempengaruhi kesehatan saya, saya dianjurkan untuk tidak mengandung selama 1 tahun setelah operasi, bekas luka juga kadang-kadang masih nyeri meski kini hampir 2 bulan berlalu, terutama ketika saya memiringkan tubuh saya secara ekstrim, menurut pengalaman teman-teman yang pernah dibedah, rasa sakit itu tetap akan ada hingga bertahun-tahun. Selain itu, menurut sumber yang saya baca, usus buntu fungsinya untuk daya tahan tubuh, saya belum membuktikan soal ini, tapi mungkin daya tahan tubuh saya takkan sama lagi dengan sebelumnya

Saya hanya bisa mengambil pelajaran, saya ingin hidup lebih sehat sambil bersyukur dengan bentuk tubuh saya sekarang. Diet dengan sehat dan tidak membabi buta dan lebih berhati-hati memperlakukan tubuh, karena saya sudah merasakan akibat kesalahan yang saya lakukan terhadapnya.

Jan 09

No comments: