Friday, January 13, 2006

Aroma Feromon Pemicu Rasa Cinta

BICARA cinta memang seakan tak ada habisnya, mulai dari manusia yang menjelang remaja, dewasa bahkan yang sudah tua pun masih sering membicarakan cinta. Sampai sekarang Cinta masih menjadi sebuah ide yang tak pernah habis untuk dituangkan dalam sebuah karya baik itu puisi, drama, film dan lain-lain. Namun misteri mengapa cinta bisa tumbuh, masih banyak orang yang bertanya. Mulai dari mengapa saya jatuh cinta padanya? Atau mengapa saya harus mencintainya?



Banyak rumus untuk menjelaskan datangnya cinta. Salah satunya hasil penelitian yang menunjukkan bahwa cinta timbul oleh aroma khas feromon yang berasal dari tubuh lawan jenis. Namun konon rasa cinta ini hanya bisa bertahan paling lama 4 tahun.

Seorang pemimpin perang terkenal, Napoleon Bonaparte pernah menulis surat mesra pada istrinya, Josephine ketika dia sedang ada di medan perang "Jangan mandi, saya segera pulang!"

Kala itu tak seorang pun tahu apa maksud dari kalimat tersebut.

Dua ratus tahun kemudian, para ahli baru dapat menjelaskan secara ilmiah perihal kalimat yang ditulis Napoleon tersebut.

Organ penciuman bukan cuma untuk mengendus bau parfum atau bau badan seorang, tapi dapat juga mendeteksi zat pemikat atau penyampai pesan misterius yang disebut feromon. Lewat organ penicum, feromon mampu mengendalikan berbagai macam emosi sampai ke masalah hubungan seksual, termasuk dalam memilih pasangan. Meski baunya tidak nyata-nyata tercium, dan hanya ada sedikit jejak di udara, feromon bisa menentukan siapa yang akan dijatuhi rasa simpati dan siapa yang tidak. Zat kimia itu ibarat "mak comblang" yang tak kasat mata dari cinta pada pandangan pertama atau "cinta yang tumbuh akibat bebauan yang terhirup saat perrtemuan pertama." Itulah sebabnya mengapa orang mengenal jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di negeri empat musim, musim semi yang kemudian dikenal sebagai musim bercinta, ternyata juga membiaskan bau-bauan yang khas. Ketika musim dingin berlalu, mantel dan topi ditanggalkan, maka hidung pun lebih leluasa mencium bebauan tubuh tanpa ada yang menghalangi dan masa "bercinta" pun tiba. Tanpa disadari bebauan rahasia merebak dari balik pakaian paling dalam. reaksinya akan terlihat apabila bebauan itu tercium hidung orang lain.

Bau hormon pemikat yang tercium oleh vomeronasalorgan (VNO)-organ di lubang hidung yang ribuan kali lebih peka daripada indera penciuman-akan merangsang otak kecil yang bertugas mengatur panas tubuh, nafsu birahi, tidur, tekanan darah, dan pernapasan. Organ VNO ini mampu mendeteksi 30 pikogram feromon.

VNO dihubungkan ke otak lewat jaringan saraf. Menurut Luis Monti-Bloch, ahli saraf dari Universitas Utah di Salt Lake City, seperti dikutip majalah Stern, hormon feromon yang tercium oleh VNO dapat memengaruhi detak jantung, napas, temperatur tubuh, dan kelenjar hormon. Setiap kali feromon berhembus, VNO segera bereaksi. Perubahan psikologis pun akan terjadi setiap sepersepuluh ribu detik. "Pabrik" feromon berada di daerah ketiak. Jadi apa boleh buat, zat pemikat cinta itu terpaksa bercampur dengan keringat. namun tidak perlu khawatir, zat kimia itu akan memisahkan diri dari bau keringat pada saat kita berpeluh dan langsung menguap ke udara akibat panas tubuh.

Kelenjar keringat di bagian ketiak akan aktif pada masa subur, tapi paling banyak produksinya pada masa puber dan akan menurun drastis sewaktu tiba masa menopuse.

Makanya, "dalam rangka pemindahan bau feromon, kontak tubuh sangat diperlukan," kata Charles Wysocki, guru besar anatomi di Universitas Philadelphia yang meneliti bahan pemikat itu, setelah dikutip majalah Stern. Jadi bukan tanpa alasan jika wanita suka didekap, sehingga hidungnya langsung dekat ketiak kekasihnya. Sayangnya daya jangkau bau feromon terjauh menurut Charles, hanya beberapa sentimeter.

Mengenakan baju tebal dapat menghalangi terciumnya bebauan itu. Demikian juga jika terlalu sering mandi bisa mempertipis bau feromon. Pantas saja jika Napoleon melarang istrinya mandi.

Feromon juga tercium di sekitar kuping, hidung, dan mulut. Psikolog Winnifred Culter dari Haverfor, Philadelphia memberikan istilah bercinta sebagai mandi feromon. Wanita yang "mandi cinta" sekali seminggu, katanya pun memiliki jadwal menstruasi lebih teratur daripada mereka yang jarang melakukan (copy from somewhere, tapi lupa nama websitenya..hope you like it)

No comments: