Tuesday, March 27, 2007

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Pulosari (1346 Mdpl) By Chow Fun Gone Wrong

Catatan Perjalanan ini di copy dari multiplynya mas Tofancatatan buat pembaca, SEBAGIAN BESAR ini catper ini adalah keterangan palsu yang dibuat untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu :p tapi karena aku lagi malas bikin catper, yahhh terpaksa deehh copy paste :-)



Di dalam tenda, disela-sela hujan yang terus turun malam itu, benakku seperti terdampar dalam gravitasi nol, dan pertanyaan itu muncul lagi, “kali ini apa lagi yang membawamu kemari dan membiarkan tubuhmu digigit dingin tanah lembah, rimbunnya hutan dan kabut yg kerap menyelimuti lereng ini ? “aku masih terus bermimpi tentang puncak-puncak tinggi itu “ jawabku


Dejavu


Pagi hari dua tahun lalu, saat pertama kali singgah di warung kecil, di ujung jalan desa Cilentung, jalan berbatu dihadapan kami masih basah karena hujan sepanjang malam hingga dini hari. Sisa sisa gerimis kecil, dan kabut yang membatasi jarak pandang kami hanya beberapa meter kedepan akhirnya  menyurutkan langkahku untuk membawa si kecil ke puncak pertamanya


Sabtu siang kemarin 170307, dari jalan berbatu yang membelah kawasan persawahan desa Cilentung, kami bisa melihat dengan jelas garis pantai yang menghubungkan kawasan daratan dengan perairan laut selatan. Gunung  Aseupan dan gunung karang tampak berdiri kokoh berdampingan dibelakang kami. Di depan kami tampak Gunung Pulosari yang menjadi tujuan kami siang itu. . Beberapa kawan dari Cilegon yang menemani kami, Samsul, Ambon
, dan iyol cuma berkata, baru kali ini mereka menemukan cuaca yan g begitu cerah setelah berkali-kali menyambangi puncak 1300 meteran ini

Jarak tempuh normal sampai ke puncak gunung Pulosari adalah 3-4 jam, segera kami melaju pada lintasan jalur yang membelah kebun pohon kopi, berlanjut dengan kebun coklat, persemaian pohon durian milik penduduk sebelum akhirnya kami tiba di pondok yang juga merupakan pos satu pada jalur pendakian Gunung Pulosari. Menurut samsul, para penduduk setempat berencana untuk menanami kawasan lereng gunung ini dengan pohon duren, mungkin 5-6 tahun lagi katanya, para pendaki gunung yang sekaligus duren lovers bisa memuaskan hasratnya akan duren itu di gunung ini (maksut gue buah duren beneran loh) . Masih menurut Samsul dalam beberapa tahun terakhir ini penduduk kian jauh merambah ke bagian atas kawasan hutan gunung Pulosari. Aktifitas perambahan mereka dikhawatirkan akan semakin mereduksi kawasan hutan yang berfungsi untuk menyimpan air untuk tumbuh butir butir padi yang ditanam dibawah sana


Sesuai dengan rencana, dalam satu jam pertama kami tiba di curuk Ciputri, kami memilih untuk terus berjalan. Target untuk bisa sampai di puncak atau paling tidak kawah,  lebih menarik perhatian kami dari pada menyentuh  air jernih yang mengalir bebas di kawasan curuk itu. Setelah air terjun, kami masih melintas kawasan ladang penduduk yang cukup terbuka, sampai-sampai  angin dingin yang bercampur dengan uap air itu menyapa kami dengan bebas. Selepas ladang, kami berjumpa dengan beberapa pendaki yang tengah beristirahat diujung tanjatan. Ada
tatapan sedikit aneh dari mereka saat melihat besarnya ransel-ransel yang kami bawa. Sepertinya mereka berpikir bahwa kami adalah orang-orang yg cukup serius, bila dibandingkan dengan tampilan daypack minimalis yg mereka pertontonkan ke kami. Usut punya usut ternyata gunung ini merupakan salah satu tujuan favorit buat para rempakem. Terjadi perbincangan cukup menarik saat mereka bertanya kami dari mapala mana, dan apakah kami masih kuliah atau tidak, ah biar ransel dan tengtop yang ngibul deh…



Senja belum mulai saat kami tiba di kawasan berbatu yang terus mengeluarkan suara desisan air belerang yang dididihkan dibawah sana
. Sesekali selimut uap itu berubah menjadi kian pekat saat kabut juga turun di kawasan tersebut. Tepat di sebuah sudut yang menjadi lintasan para pengunjung, ada sebuah warung tenda yang dibuka disana.  Kami harus menunggu beberapa saat sebelum bisa merasakan sepotong pisang goreng panas dan segelas kopi hangat disana. Butuh upaya yang cukup luar biasa untuk bisa menyalakan kayu-kayu lembab yang menjadi bahan bakar tungku darurat itu

Pisang goreng ketiga baru saja masuk ke mulutku saat dua orang anggota tim yang sengaja mencecerkan diri dibelakang Rina dan temannya tiba menyusul kami . Saat itu pulalah dia baru tersadar kalau dia meninggalkan tas kecil yang berisi 3 hand hone dan sebuah dompet tempat seluruh hartanya tersimpan. Wajah cerianya lantas berubah menjadi pias kebiru-biruan. Ditemani Budi aku menuruni kembali lintasan itu, mencoba menemukan tas kecil berwarna coklat yang pastinya rina juga sama sekali tidak ingat dimana dia meletakannya.., petunjuknya cuma satu dibawah pohon besar.. ???


Tas berwarna coklat berhasil kami temukan di sela-sela akar pohon besar tidak jauh dari air terjun, 3 hp dan sebuah dompet tidak jadi berpindah tangan, bayangan untuk mendapatkan treo baru musnah seketika J


Senja baru saja meretas saat kami kembali dari jogging sore itu (baca ngeSAR tas) ..   sisa-sisa cahaya matahari tampak menerobos selimut uap belerang. Jauh diatas rina tampak terus berusaha menjejakkan kakinya ke titik tertinggi di kawasan ini, entah untuk mendapatkan spot terbaik untuk mengabadikan senja ataukah .. hmmm…  mendekati sekumpulan brondong yang tengah bertelanjang dada diatas sana
?  heran tajem amat sih penciumannya, padahal udara di sekitar ini benar2 terkontaminasi dengan uap belerang, tapi indera penciumannya untuk yang satu ini, patut diacungkan jempol

Akhirnya kabut benar-benar menutupi kawasan ini, kami memutuskan untuk bermalam di sekitar kawah. Dengan pertimbangan, situasi di puncak sudah cukup crowded dengan tenda-tenda team yg lain, sesuai keterangan ibu pemilik warung, beberapa team yang tiba lebih awal sudah mendaki menuju puncak sepanjang pagi dan siang. Malam itu kami mendirikan tenda di tepi aliran sungai kecil, dengan  bunyi gemericiknya terus menggema ke tenda kami sepanjang malam. Malam itu dua perempuan indo Batak, lulusan akademi masak Bonapasogit bertindak sebagai koki untuk 5 laki-laki yang lapar. Seekor anjing kampung yang melintas di depan tenda kami nyaris saja meregang nyawa, berubah menjadi saksang, secara tangan-tangan mereka begitu terampil dengan menu khas lapo, ngga janji deh kalau mahluk itu lewat lagi besok


Seiring dengan merayapnya malam, butiran hujan jatuh kian banyak menimpa atap tenda, kami seperti dinina bobokan oleh symponi hujan yang berpadu dengan gemericik aliran sungai yang mengalir dekat tenda kami. Rencana kami untuk melakukan summit jam 4 pagi, Cuma tinggal rencana saja, hujan deras pagi-pagi itu betul-betul menghalangi kami untuk keluar dari comport zone dalam sleeping bag kami masing-masing. Janji segelas milo hangat dan roti isi sosis pagi itu juga menguap begitu saja.. berganti dengan sebait mimpi yang lain.  Etape terakhir menuju puncak, adalah bonus yang menarik buat kami semua. Lintasan yang masih basah, berbatu dengan kemiringan 60-70 derajat, dengan bekas-bekas longsoran di sana
sini cukup untuk memicu adrenalin kami mengalir deras pagi itu. Sesekali bahkan kami harus melakukan scrambling pada lintasan batu besar yang minim pegangan.  Dipuncak kami disambut oleh ribuan titik-titik air yang begitu bersemangat menyapa kami, sampai-sampai butiran airnya cukup untuk menggetarkan tubuh kami semua. Tak ada yang bisa kami lihat dari atas sana dalam keliaran hujan seperti itu, bahkan saat tetes terakhirnya habispun, sekeliling kami masih dikelilingi kabut tipis. Selepas dua batang rokok, dan adegan So Hok Gie yang gagal,  kami memutuskan untuk turun, melepaskan diri dari dingin yang mulai membekap kami siang itu. Bayangan tentang sepotong pisang goreng hangat dan segelas kopi hangat  membuat kami bergegas untuk meninggalkan puncak yang tengah diselimuti kabut

No comments: