Tuesday, July 3, 2007

Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (3726 Mdpl) - Bagian 1

Re-post from my previous blog rh1ena.multiply.com, originally posted om Aug 4, '07 10:46 AM
Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebelum meletus 11,000 tahun yang lalu, gunung ini mencapai ketinggian 5,000 Mdpl, namun letusannya melontarkan bagian atas gunung ini hingga menjadi 3726 Mdpl, dan membentuk cekungan yang kini menjadi Danau Segara Anak


 Berangkat (1 Juni 2007)

Jam 3 pagi sebelum alarmku belum berbunyi, aku mendengar suara gaduh, kepalaku masih pusing akibat tidur jam 24.00 karena mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Ternyata suara teman-teman kost yang baru pulang dugem. Semua warga warga kost-an ikutan. Mereka mengucapkan selamat jalan kepadaku, lalu pamit tidur. Mbak Titik menelepon membangunkan aku, seperti permintaanku sebelumnya kepadanya. Dipagi buta itu, akupun mandi

Jam 04.30 suasana masih sepi dan remang ketika aku tiba dipangkalan bis Damri Blok-M – Cengkareng. Tak disangka, ternyata ada teman kantor yang akan berangkat ke Jambi, jadilah sepanjang jalan kami ngerumpi masalah kantor. Sesampai dibandara, saat menunggu giliran cek in, dia masih sempat menemani, lalu kemudian pamit ke ruang tunggu saat aku bertemu dengan rombongan Highcamp yang juga menuju Lombok hari itu. Ada bang Hendri, Bang Kamser dan Yadi.

Setelah cek in, masih tersisa banyak waktu untuk kami sarapan didekat terminal 1A. Lalu Bang Kamser dan Yadi menuju ruang tunggu yang berbeda karena naik pesawat yang berbeda dengan kami. Diruang tunggu, satu persatu teman-teman yang akan naik pesawat yang sama mulai berdatangan, ada Bunda (archa) dan teman-temannya yang akan menuju Semeru (Jawa Timur), rombongan Highcamp (Bang Hendri, Nando, Fedy) akan menuju Tambora, 5 orang teman dari Indosat, aku, Mbak Titik dan Edy menuju Rinjani. Nana (Tim Tambora) yang harusnya naik pesawat Adam Air menghubungi Bang Hendri, menyampaikan bahwa dia ketinggalan pesawat yang jadwalnya jam 06.25



Pesawat kami Delay, hal ini membuat teman-teman dari Highcamp khawatir mengingat mereka harus terbang jam 10.45 dari Surabaya ke Mataram. Sekitar jam 08.30 pihak Air Asia mempersilahkan kami untuk sarapan disebuah restoran tidak jauh dari ruang tunggu. Makanan yang diberikan sangat sederhana, nasi putih, sebuah udang yang berukuran sekitar 7 cm dan sedikit sayur. Tampaknya pihak Air Asia tetap tidak ingin rugi meski melakukan kesalahan. Selesai sarapan, saat kami kembali keruang tunggu, hampir semua penumpang sudah berjalan menuju pesawat, padahal kami tak mendengar adanya pengumuman atau panggilan.

Selama dipesawat, terlihat wajah-wajah cemas ditempat duduk paling belakang :p. Setelah pesawat landing, Bang Hendri berusaha menghubugi pihak Air Asia untuk mempercepat bagasi mereka ke pesawat Lion yang akan ditumpangi. Usaha Bang Hendri berhasil, mereka bisa ikut dalam pesawat. Namun karena salah info, teman-teman dari Indosat tidak berhasil, mereka ketinggalan penerbangan yang sama dengan Bang Hendri.

Terdampar Di Surabaya

Di bandara Juanda kami mendapat kabar dari Nana, bahwa dia akan tiba jam 12an dan naik pesawat malam ke Mataram. Rencana jalan-jalan diSurabaya pun kami batalkan. Kami menunggu Nana. Kami juga memutuskan tidak meninggalkan bandara karena khawatir ketinggalan pesawat, seperti yang baru saja dialami teman-teman. Akhirnya Nana mendarat sekitar jam 11 lewat sekian-sekian. Kami segera berkumpul mendengarkan “jeritan hati” Nana yang harus membayar 1 juta lebih untuk mendapatkan tiket baru.

Teman pendaki Surabaya, Bambang, yang sudah sering menemani kami dalam pendakian didaerah Jawa Timur, datang dengan gaya dan senyum khasnya. Dia memang sedang mengerjakan suatu proyek disekitar bandara. Pertemuan yang meriah sekali. Bambang kemudian membawakan kami nasi bebek. Hidangan yang mengingatkan aku pada Surabaya dan pendakian-pendakian ke daerah Jawa Timur. Tidak lama kemudian Bambang kembali ketempat kerjanya. Kami juga bertemu Drew, teman kantor mas Tofan yang pernah ikutan dalam acara pendakian ke gunung Gede April lalu. Orang Australia keturunan Pakistan ini kembali dari liputan di Probolinggo, namun karena gejolak akibat penembakan penduduk didaerah tersebut, dia ketinggalan pesawat. Kami sempat ngobrol beberapa menit

Jam 17.30 kami meninggalkan Surabaya, Nana dan 5 orang Tim Indosat yang masih menunggu penerbangan mereka. Pesawat Batavia Air yang membawa kami terlihat tua dan kecil. Entah pesawat jenis apa yang kami tumpangi itu. Yang jelas ukurannya lebih kecil dari pesawat-pesawat domestik yang pernah aku tumpangi.

Jam 19.30 waktu setempat, kami tiba dibandara Selaparang, Lombok-Nusa Tenggara Barat. Mobil carteran yang dipesan sudah menunggu. Segera kami menuju desa Sembalun. Di Masbage, kami singgah dirumah Hilal (porter) untuk menjemput logistic yang telah kami percayakan untuk dibeli. Kami disuguhi pecel yang ada kangkung khas lomboknya. Kangkung lombok berukuran lebih besar dari daerah lain. Setelah makan dan mandi, perjalanan dilajutkan kembali. Kami tiba di Sembalun lewat tengah malam, tim porter membawa kami kesebuah rumah kosong milik kenalan mereka untuk beristirahat.

Menuju Plawangan Sembalun (2 Juni 2007)

Jam 5 pagi keesokan harinya, diantara belai angin yang menggigit,  kami bangun untuk bersiap-siap. Packing lalu masak sup bubur instant. Pendakian dimulai jan 07.00, cuaca sangat cerah. Tim Indosat berpisah dengan kami, karena mereka memulai pendakian dari pos pendaftaran. Sebenarnya tubuh tidak cukup segar untuk memulai pendakian hari ini, mengingat sudah dua malam aku tidak tidur cukup. Suasana desa tidak sempat kami perhatikan, hanya beberapa rumah terlihat dipinggiran jalan yang sudah beraspal. Gunung Rinjani terlihat berdiri gagah didepan kami, menjanjikan tanjakan yang pasti aduhai. Perjalanan awal cukup ringan karena jalan yang landai, sepanjang jalan terlihat punggungan – punggungan bukit didominasi ilalang. Pohon sangat jarang sehingga membebaskan mata memandang kesegala arah

Sekitar jam 10.00 kami tiba di pos 1, pos adalah semacam pondok yang terbuat dari papan dengan atap seng tanpa dinding. Disini porter memasakkan mi instant. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan masih dengan semangat membara (halah :p). Kami melewati pos 2, tanpa singgah langsung menuju pos 3. Matahari sangat menyengat. Jalan mulai menanjak sehingga keringat bercucuran ditubuh kami. Disepanjang jalur ada semacam sungai tak berair yang sepertinya bekas aliran lahar. Didasar sungai terdapat pasir berwarna hitam dan abu-abu.

Kami tiba dipos 3 jam 12.30 dan beristirahat sambil makan makanan kecil sebagai pengganti makan siang, lalu berjalan kembali jam 14.00. Jalan  mulai menanjak tinggi. Kami harus mendaki beberapa bukit dengan kemiringan sekitar 50-70 derajat. Karena banyaknya bukit yang harus dilewati dan tanjakan yang panjang, maka jalur ini dinamai “jalur penyiksaan”. Punggungan demi punggungan semakin lama semakin menanjak dan terasa seperti tidak ada habisnya. Gunung mulai ditumbuhi beberapa pohon yang didominasi pohon pinus. Tetapi ilalang masih menjadi tumbuhan utama

Disepanjang jalan kami banyak bertemu turis asing dan porter yang membawakan barang-barang mereka. Porter-porter membawa barang-barang dengan 2 buah keranjang dari rotan yang digabungkan dengan sebuah bambu, lalu kemudian dipikul dibahu. Kita bisa melihat barang-barang berupa sleeping bag (yang ukurannya relatif besar jika dibandingkan dengan ukuran sleeping bag saat ini), tenda, dan makanan. Setiap porter kelihatannya membawa buah nenas, entah mengapa buah ini jadi pilihan utama, mungkin karena lebih awet. Mereka juga membawa ulekan cabe yang terbuat dari batu, kecap dengan botol kaca berukuran besar. Aku berfikir, seandainya saja porter-porter itu mengakali dengan memindahkan kecap ke botol aqua, mengganti ulekan dengan yang terbuat dari kayu, dan berbagai macam cara lainnya, untuk mengurangi beban mereka, mungkin beban mereka tidak seberat saat itu.

Saat istirahat aku sempat ngorol dengan seorang porter. Umurnya sekitar 40 tahun, badannya terlihat kuat dan sehat, kulitnya hitam legam, dia tidak memakai baju, hanya celana pendek dan sendal jepit seperti juga porter-porter lain. Aku menanyakan apakah beban yang dibawanya berat, dia menjawab berat sekali. “kalau ada pekerjaan lain mbak, saya juga nggak mau kerja kayak gini” katanya. Menurutnya bayaran Rp 60,000/hari sangat tidak layak untuk beban yang mereka bawa. “Apalagi untuk turis bule, 100, 000, - juga nggak mahal buat mereka” katanya. Lalu dia mengatakan bahwa porter-porter sudah meminta agar tarif dinaikkan ke suatu badan yang mengatur, diantaranya jumlah upah para porter. Permintaan kenaikan upah tersebut sedang diproses oleh badan tersebut. Entah badan apa yang mengatur hal tersebut, mungkin kementrian kebudayaan & pariwisata?

Sekitar jam 6 kami sampai di Plawangan Sembalun, sebuah plank nama berdiri memberitahukan kami sudah sampai. Disinilah kami berencana bermalam. Tenda sudah hampir selesai didirikan ketika aku tiba. Tempat tenda ditengah apitan dinding tanah yang menghalangi kami dari angin. Malam itu kami disuguhi nasi goreng dengan sedikit irisan telur rebur diatasnya. Menu yang tak terlalu jelek. Aku menginginkan sayur sebenarnya. Tapi tetap menghabiskan sepiring yang diberikan padaku. Berbeda dengan pendakian lainnya, kali ini kami bisa santai didalam tenda tanpa mengurusi makanan. Menjelang tidur kami mempersiapkan bawaan untuk bekal diperjalanan menuju puncak esok paginya; jacket, rain coat, kamera, air minum dan makanan kecil. Jam 21.00, kami mendengar tim dari Indosat tiba. Mereka mendirikan tenda tidak jauh dari kami, disebelah tim Malaysia.

Menuju Puncak (03 Juni 2007)

Jam 02.00 pagi alarm membangunkan. Dengan enggan aku berganti kostum ke pakaian lapangan.yang lembab dan dingin. Udara tidak terlalu dingin, entah berapa suhunya, tapi kami tidak menggigil ketika keluar tenda. Jelas suhu ketika itu masih lebih hangat jika dibandingkan dengan Ranu Kumbolo ketika aku mendaki Semeru awal September 2005, atau kerinci di pos 2, ketika aku berangkat menuju puncaknya.

Pukul 03.00, dengan headlamp dikepala dan jacket membungkus tubuh, kami mulai berjalan. Pertama-tama kami menaiki satu punggungan bukit yang berdebu dan berkerikil. Kemudian punggungan - punggungan lainnya menunggu didepan. Semakin lama tanjakan semakin terjal dan berpasir. Tim pangrango adalah pendaki pertama berangkat, kemudian disusul tim  kembar 5, Indosat. Tim Malaysia yang beberapa diantaranya lebih pantas menghuni panti jompo malah menyalib kami. Titik-titik cahaya senter terlihat didepan dan dibelakang. Saat matahari mulai muncul dan perasaan sabar mulai diuji oleh tanjakan berpasir yang sangat panjang, pemandangan danau Segara Anak mulai terlihat disebelah kanan. Cukup menghibur dan membuat mata ingin selalu memandang. Disebelah kiri terlihat Desa Sembalun, dan punggungan-punggungan yang telah kami lalui dihari pertama. Pemandangan yang paling tidak enak adalah melihat kedepan.

Aku melihat mbak Titik dan Edy beberapa ratus meter didepanku, meski jauh namun terlihat jelas karena tidak ada yang menghalangi pandangan, hal itu membuat perasaan capek bertambah. Ditengah langkah yang terseok-seok, aku berkali-kali berhenti, memandang tak percaya pada jalan panjang yang masih ada didepan mata. Deru angin yang kencang menemani suara kaki ku yang bergesekan dengan pasir dan kerikil.

Sekitar jam 08.30 aku tiba dipuncak dan disambut teman-teman lain yang telah duluan sampai. Kamipun berfoto-foto mengabadikan saat-saat dipuncak.

Ketika kami sibuk beradegan genit dan centil untuk difoto, seekor monyet mendekati puncak, entah dari mana datangnya, dia memegang sepotong buah kelapa sambil mengunyah dan menyeringai kearah kami. Kamipun beringsut turun sambil masih tetap menyempatkan diri berfoto-foto ria. Teriakan Edy dari bawah mengingatkan kami bahwa jalan turun masih panjang.

Jalan turun lebih mudah dibanding ketika kami naik. Dengan mudah kami berjalan dan merosot diantara pasir, meski hal itu menyebabkan rasa tak nyaman dikaki. Kabut menemani ketika kami turun

Sekitar jam 12 kami tiba di Plawangan Sembalun kembali, kami disuguhi nasi goreng lagi (? !&! &*($%##!%*) yang rasanya berbeda dengan nasi goreng pada malam hari. Tak satupun dari kami bertiga yang menghabiskan nasi yang ada dipiring masing-masing. Segera kami bersiap turun menuju danau.

Menuju Danau (03 Juni 2007)

Pukul 14.00 kami mulai berjalan menuju danau. Jalanan sangat curam. Kami harus berjalan ekstra hati-hati karena jurang disebelah kiri jalan. Menurut porter, tiang-tiang yang ada disepanjang jalan sebelumnya dipasangi besi untuk pegangan bagi para pendaki. Namun tampaknya ada yang rela repot-repot melepaskan besi-besi tersebut dari tiang-tiang beton lalu dan membawanya entah kemana, mungkin demi sesuap nasi, entahlah.

Setelah menuruni punggungan bukit yang curam sekitar 2, 5 jam, kami tiba disebuah lembah yang indah dan landai. Tak lama kemudian kami melihat danau dikejauhan. Sekitar jam 17.30 kami tiba didanau. Tenda sudah didirikan porter ditepi danau. Segera kami masuk tenda dan berganti pakaian.

Porter kami memanggil dari luar membawakan makanan, ia membawa 2 piring mi instant rebus, segera saja kami kecewa. Setelah berjalan 2 hari penuh, tentunya makan makanan yang bergizi sangat kami harapkan. Mbak Titik langsung menolak mi tersebut. Aku memakan telur dan sayurnya, lalu mengeluarkan piringnya dan mi yang tersisa keluar tenda. Edi memasakkan makanan instant untuk Mbak Titik. Porter terlihat panik, dia lalu menawarkan ayam bakar yang dibawanya, namun nasi belum matang katanya. Sampai kami tidur, nasi yang dijanjikan belum juga matang. Makanan yang mengecewakan tidak mengurangi nikmatnya tidur malam itu

Catatan ini berlanjut ke Bagian 2

No comments: