Tuesday, January 17, 2017

Cara Menyeberang (Melintasi) Perbatasan Thailand - Laos Dari Chiang Rai


Bis dari Chiang Rai ke Chang Kong
Saya baru tiba di Chiang Rai 28 Desember, sore sekitar jam 5.30. Sebelumnya saya dari Chiang Mai. Saat makan malam dengan teman-teman hostel, seorang cowok asal Spanyol mengatakan akan menuju Luang Prabang besoknya. Setelah mempertimbangkan lama di perjalanan dan waktu yang sudah mendekati tahun baru (saya tidak mau menghabiskan malam tahun baru di bis) akhirnya saya memutuskan ikut dengan Juan, cowok Spayol itu untuk melintasi perbatasan menuju ke Laos.

Kami berangkat sekitar jam 1, kebetulan terminal berada tidak jauh dari hostel, jadi kami cuma berjalan kaki. Pertama naik bis dari terminal ke kota terakhir yaitu  Chiang Kong, bis berwarna merah, kami membayar 65 baht atau Rp 26.000

Supir menurunkan kami di sebuah simpang menuju kantor imigrasi Chiang Kong. Disini sudah menunggu beberapa tuk-tuk yang sepertinya khusus mengantar kesana. Biaya tuk-tuk 50 Baht.

Setelah stempel exit, kami harus naik bis lagi menuju imigrasi Laos. Ada beberapa bis parkir tapi entah mengapa kami harus menunggu sekitar 20 menit disini. Cuaca sangat dingin dan angin berhembus kencang. Saya memakai segala yang bisa menghangatkan diri, mulai sweater, kaus kaki, dan tambahan kain lagi di bahu. Bis kemudian berangkat menuju imigrasi Laos, kami masing-masing membayar 20 Baht, disini saya berpisah dengan teman perjalanan saya, karena saya tidak perlu membuat visa, sedangkan mereka perlu. Saya mengisi formulir, menghadap imigrasi untuk mendapatkan stempel, lalu keluar dan menunggu Juan selesai.

Saya menunggu cukup lama sampai membuat saya berfikir jangan-jangan mereka keluar dari pintu lain dan meninggalkan saya. Akhirnya dia dan bule-bule lain keluar. Kami naik pick up ke terminal bis dengan biaya 100 baht /orang. Sampai di terminal sekitar jam 4 sore, kami harus menghadapai kenyataan kalau bis ke Luang Prabang yang jam 6 sore sudah penuh, jadi harus menunggu bis yang jam 8.30 besok paginya. Walau berat hati, kami terpaksa menginap disana. Kami membeli tiket seharga 682 baht dan mencari penginapan

Bis dari perbatasan Laos menuju kota berikutnya

Ada penginapan didalam terminal. Kebetulan ada kamar yang cukup murah dan tidak telalu jelek amat, ada kasur, kamar mandi, TV dan handuk. Setelah menaruh barang-barang, kami keluar untuk melihat-lihat suasana desa kecil itu.

Tidak banyak yang bisa kami lihat, cuma jalan, beberapa gedung bertingkat dan rumah-rumah. Dipinggir jalan beberapa orang menyapa kami dengan ramah dan menawarkan bir. Juan pertama menolak tapi kemudian mencoba juga. Meski dia sudah mengembalikan botol yang masih berisi, mereka memaksa dia minum lagi. Perkenalan pertama yang cukup manis dengan orang Laos

Besoknya kami berangkat tepat jam 8.30 dengan mobil minivan. Jalanan berkelok-kelok tajam dan berlubang-lubang selama 12 jam. Badan terlempar ke kiri dan ke kanan, dan juga keatas. Hampir semua penumpang muntah. Walau saya mual berat tapi saya berhasil menahan. Traveller Singapore menawarkan obat anti muntah kepada saya yang katanya akan membuat saya "knock out" dalam waktu 30 menit. Tapi ternyata saya tetap melek hingga tiba di Luang Prabang. Saya memang lupa membawa antimo yang sudah terbukti efektif buat menidurkan saya dalam perjalanan bis seperti ini. Entah pil cowok itu kurang ampuh atau jalanannya memang luar biasa.

Toilet Break 

Selain dirumah makan, toilet break sering dilakukan dimana saja supir mau. Mungkin atas permintaan penumpang. Karena begitu bis berhenti, penumpang langsung berhamburan mencari rimbunan semak-semak masing-masing.

Dijalan kami banyak melihat kecelakaan, membuat saya cukup khawatir. Diantara guncangan-guncangan, pemandangan selama dijalan cukup menghibur, kita bisa melihat bukit-bukit hijau dan hutan yang nampaknya belum terjamah manusia. Rumah-rumah kebanyakan berupa rumah panggung dan masih terbuat dari papan. Ada yang besar dan ada yang sangat kecil hingga seperti pondok saja.

Perjalanan berlangsung selama 12 jam. Kami tiba sekitar jam 8 di Luang Prabang










7 comments:

Dian Radiata said...

Bookmarked postingan ini.. Buat bekal nanti kapan-kapan kalo mau ke Laos juga

May Sarah said...

Merinding disco juga aku baca perjalanan kak rina...Jalanan yang berlobang yang bisa bikin mabok.. bis yang yang mengharuskan kak rina menunggu sampai esok karena yang dimau sudah full.. tetapi setidaknya sudah ada bayangan biaya yang harus dikeluarkan

ahmadi sultan said...

"Saya memakai segala yang bisa menghangatkan diri",kasihan babang itu gak dimanfaatkan :)

rina said...

Dian: siiip

rina said...

Sarah: banyak yg tidak terduga kalo jalan-jalan gini, tapi kita harus siap hehe..

rina said...

Ahmadi: haha...ada-ada aja :p

Eka Handa said...

Uhuk, kalo udah lumayan banyak yang muntah, biasanya udara sekitar langsung bau asem.. Krik krik.