Menuju Siem Reap
Saya memesan tiket bis dengan
harga 400 baht atau 160 ribu rupiah melalui hostel saya, katanya saya akan
dijemput sekitar jam 8 dan saya harus sudah stand by jam jam 7.30. Seperti
biasa saya sudah terbangun sejak jam 5 dan sudah grasak grusuk sendiri
mempersiapkan keberangkatan sementara kamar dorm gelap tanpa lampu. Saya memang
sudah packing malamnya, tapi peralatan mandi dan baju yang saya pakai tidur
kemarin harus saya pack lalu dimasukkan kedalam ransel. Saya rasa penghuni lain
kamar itu ada yang mengutuk dalam hati dengan segala bunyi kresek-kresek yang
saya timbulkan.
Buat teman-teman yang belum pernah ke Thailand, mungkin mikir seperti apa makanan Thailand, jangan khawatir anda akan kesulitan mencari makanan yang cocok dengan lidah anda. Karena makanan Thailand itu bener-bener bahannya sama dengan makanan kita, mungkin karena kita mempunyai cuaca yang sama, jadi tumbuhan yang tumbuh disana pun sama dengan disini.
Saya membaca (lagi) sebuah artikel yang menyarankan pembacanya untuk berhenti menggunakan facebook, sebelumnya saya juga pernah baca artikel yang mirip. Ada beberapa alasan yang diungkapkan diantaranya, waktu yang terbuang sia-sia, kecanduan yang membuat kita lupa dengan orang yang ada disekitar kita, perasaan tidak bahagia ketika melihat orang lain yang hidup “terlihat sukses”, dan saya setuju dengan efek negatif yang disebutkan
 |
| Saya di Tiannamen Square, Beijing |
Rencana
Saat saya merencanakan perjalanan ini saya sedang tinggal dan bekerja di
Suzhou, Povinsi Jiangsu. Perjalanan ke Beijing akan
menjadi perjalanan terakhir saya di Cina, karena saya akan kembali ke
Indonesia, saya tentunya tidak ingin meninggalkan Cina sebelum melihat tembok
yang terkenal itu
Selama 1 tahun di Cina, saya naik 10 kg! Kok bisa? Disana saya menikmati mencoba berbagai makanan, jiwa petualangan saya tersalur disini, melalui petualangan kuliner.
 |
| Ini paket makanan di restoran dekat kantor, harganya sekitar 20 Yuan (atau 30 ribuan, berdasarkan kurs saat itu), terdiri dari 1 porsi nasi, 1 mangkok sayur, kari ayam, tahu yang dicetak kayak agar-agar |
Death leaves a heartache no one can heal, love leaves a memory no one can steal. ~From a headstone in Ireland
Sebenarnya saya sudah membuat sebuah tulisan mengenai kepergian Bapak semenjak beberapa hari kepergiannya. Saya berusaha menggambarkan bagaimana hari terakhirnya bersama kami