Sunday, May 19, 2013

Jalan-Jalan (Backpacking) ke Beijing - Bagian 1

tiannamen square beijing cina china
Saya di Tiannamen Square, Beijing
Rencana

Saat saya merencanakan perjalanan ini saya sedang tinggal dan bekerja di Suzhou, Povinsi Jiangsu. Perjalanan ke Beijing akan menjadi perjalanan terakhir saya di Cina, karena saya akan kembali ke Indonesia, saya tentunya tidak ingin meninggalkan Cina sebelum melihat tembok yang terkenal itu 


Sebenarnya saya pernah membuat rencana untuk ke Beijing dengan seorang rekan kerja yang adalah cewek asal Suzhou,  pastinya akan banyak membantu karena saya  tidak bisa berbahasa mandarin. Tapi apalah daya akhirnya dia pindah kerja dan jadwal travelling saya tidak cocok dengan jadwal dia yang nota bene karyawan baru, yang pastinya tidak mudah untuk cuti.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk berangkat sendiri, 1 tahun di Suzhou sudah membuat saya terbiasa nyasar, bertanya sepatah 2 patah kata mandarin yang saya tau: ni ce tau (apakah kamu tau?) wo pu ce tau (saya tidak tau). Kadang saya harus menelepon teman saya untuk mencari arah atau memberitahu saya harus naik bis apa untuk kembali ke apartemen. Sering kali itupun harus dilakukan dengan memberikan telepon ke orang disekitar saya yang tidak saya kenal, untuk memberitahu teman saya lokasi saya saat itu, ribet kan? Yah memang, tapi pastinya saya mampu bertahan 1 tahun disana, di negri yang tidak saya pahami bahasanya. Saya sering bertandai-andai sekiranya ada software yang bisa di download ke otak saya supaya saya bisa mengerti sedikit :-/

Untuk menyusun rencana perjalanan, saya banyak menggunakan sumber-sumber online seperti tripadvisor untuk objek wisata yang dituju, dan website  pariwisata  cina yang dikelola pemerintah, informasinya cukup update lho. Saya bisa mendapatkan informasi jalur bis, jalur MRT dan lama perjalan dari web-web tersebut. Saya mencatat detail transportasi menuju tempat yang saya tuju, nama tempat tersebut dalam bahasa mandarin dan  huruf pinyin (huruf cina) nya. Mancatat pengucapan dalam bahasa mandarin dan huruf pinyin sangat berguna  jika saya nyasar, saya harus menyebutkan nama mandarin tempat yang saya tuju atau menunjukkan huruf pinyin tersebut agar mereka bisa  menunjukkan arah. Menyebutkan nama tempat dalam bahasa inggris jarang dipahami penduduk setempat (kecuali bagi mereka yang bisa berbahasa inggris tentunya, yang sangat jarang saya temui)

Nama-nama tempat yang akan saya kunjungi adalah sebagai berikut:

1. The great wall/tembok cina
2. Tiananmen Square
3. Olympic Stadium/ Bird Nest (stadium olimpiade yang berbentuk sarang burung)
4. Summer Palace 
5.  Forbidden Palace
6. National  Museum of China
7. Beijing Capital Museum
8. Hutong (Old Street) 
9. Hou Hai, tempat nongkrong malam, life music, makan dan minuman
10. Sanlitun, masih area hiburan malam 
11. Wudaokou, commercial center tempat belanja

Saya memang hanya 6 hari disana, tapi saya membuat daftar yang lebih banyak sekiranya saya punya waktu lebih, atau saya bisa mengunjungi lebih dari satu tempat dalam 1 hari.  Saya mencatat detil “how to get there” atau “bagaimana cara menuju kesana ke semua tempat ini dalam buku catatan saya

Tidak lupa saya memperhatikan ramalan cuaca disana, karena Beijing berada dibagian utara, cuacanya lebih dingin dibandingkan Suzhou yang sudah menikmati sedikit matahari ketika itu (Maret). Ramalan cuaca memperkirakan cuaca siang terendah 11 derajat dan tertinggi 17 derajat. Sedangkan cuaca malam antara -1 hingga 5 derajat. Saat itu Suzhou bahkan sudah mencapai 20 derajat pada siang hari
Done!

Kereta

Saya berencana menggunakan kereta api  yang merupakan pilihan transportasi sangat bagus di sana. Saya memeriksa jadwal  kereta secara online dan memilih yang  sesuai dengan jadwal perjalanan. Berangkat malam jadi pilihan supaya saya tiba pagi di Beijing. Saya memutuskan untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi karena murah, dengan harapan kereta cukup nyaman. Dalam perjalananan ke Nanjing dan Shanghai, saya sudah merasakan betapa bagus dan cepatnya kereta kelas D, jadi menurut saya ketika itu, kereta ekonomi mungkin bukanlah pilihan yang jelek-jelek amat. Mungkin tak seburuk kereta ekonomi di Jawa, pikir saya, bahkan kereta ekonomi dijawapun saya bisa naiki dan sampai ditujuan dengan tubuh utuh.


beijing stasiun kereta china cina
Pramugari kereta Beijing dengan kostum musim dingin

Perjuangan Membeli Tiket 

Saya mencatat nama dan jadwal kereta yang saya mau dan pergi ketempat penjualan tiket. Dan pembelian tiket ini membutuhkan perjuangan tersendiri karena penjaga counternya TENTU SAJA tidak bisa berbahasa inggris. Dengan bahasa tubuh dan bantuan beberapa orang mahawiswa yang kebetulan ada disana, saya berhasil membeli tiket ekonomi pp (Walau kemudian pulangnya tiket saya ganti menjadi tiket speed train)

Penginapan
Beijing Heyuan International youth Hostel

Saya memilih sebuah hostel ditengah kota bernama Beijing Heyuan International youth Hostel dan memilih kamar dengan penghuni 6 orang (shared room) dengan harga 70 Yuan/malam, atau sekitar Rp. 100.000/malam. Saya melakukan pembayaran dengan bantuan teman, dengan memakai kartu kreditnya. Saya mendapatkan konfirmasi melalui email dan juga melakukan komunikasi dengan pihak hostel mengenai bagaimana cara saya menuju kesana.





Kamar hostel tempat saya menginap

Berangkat

Saya naik kereta kelas ekonomi  jam 19.06, harga kereta 170 Yuan atau sekitar Rp. 255.000, dengan membawa satu ransel  berukuran 40-50 liter dan 1 daypack tempat laptop dan berbagai kebutuhan saya selama dijalan. Saya tidak bisa membawa sedikit pakaian  karena cuaca yang masih berada dikisaran 11-17 derajat celcius. Meski tau Beijing lebih dingin, saya tak sudi membawa-bawa jaket tebal, saya hanya membawa sweater hitam saya, walau tidak tebal, sweater ini juga tidak tipis-tipis amat. (Namun akhirnya sweater ini tidak cukup hangat buat saya, terutama ketika berada di Tembok Cina yang berada diketinggian itu)

Kondisi kereta kurang lebih sama dengan kereta ekonomi di Indonesia, bedanya disini tidak ada penjual asongan mondar-mandir. Saya dengar  KAI pun juga sudah tidak membiarkan  pedagang masuk kereta sekarang

Saya duduk disebelah seorang Bapak, dua tempat duduk didepan saya pun di isi 2 orang pria. Mereka senyum-senyum ketika menyadarai seorang lao wai (orang asing) duduk dekat mereka. Cuaca sangat dingin dan saya sedang batuk parah, sepanjang jalan suara batuk saya mengiringi tidur orang-orang segerbong. Kondisi toilet bau dan membuat anda tak ingin kesana lagi. Ada tempat pengambilan air panas dimana-orang-orang pada bikin mi instan gelasan. Andai saya tau, pasti saya akan bawa mi gelas juga, pikir saya. Tapi untungnya saya membawa roti untuk bekal.

Tiba di Beijing saya berusaha keluar dari stasiun dengan mencari tanda-tanda yang menunjukkan jalan menuju MRT. Saya keluar dan kebingungan karena tidak ada tanda-tanda MRT. Dijalanan masih ada salju, rupanya turun salju di malam ketika saya menuju kesana. Saya tidak tahu apakah salju itu yang membuat cuaca menjadi sangat dingin.

Setelah bertanya dengan bahasa mandarin ala kadarnya, ditambah bahasa tubuh, saya menemukan sebuah pintu masuk MRT kebawah tanah, memang pintu yang tidak terlalu menonjol, tak heran saya kesulitan menemukannya. Saya lalu mencari kereta yang menuju hostel saya, saya menggukan kartu kereta yang diberikan teman saya. Hanya 2 yuan (Rp. 3000) kemana pun, wow, saya belum pernah naik MRT yang  mengenakan harga flat dimanapun di Cina, biasanya semakin jauh jaraknya, harga juga semakin mahal, Malaysia dan Singapore juga demikian. Semua tas harus melewati scan seperti dibandara. Ini juga pertama kali saya mengalami pemeriksaan semacam ini di MRT

Saya memegang peta lokasi hostel saya ditangan, meski tak terlalu sulit, saya masih tetap harus bertanya pada seseorang dimana lokasinya. Hostel itu berada di sebuah gang, dimana ada juga beberapa hostel yang lain. Saya check in, memberikan lembaran bukti booking dan paspor, serta membayar lunas untuk 5 malam. Saya diberi kunci locker, seprai, selimut, lalu diantar ke kamar saya. Kamar kosong ketika itu, saya segera menata barang-barang saya dalam lemari lalu mandi dan bersiap-siap menuju tujuan pertama saya: Tiannamen Square

1.       Tiannamen Square

Tiannamen Square adalah sebuah lapangan dipusat kota Beijing, disini ada  monumen untuk pahlawan revolusi Cina, memorial hall Mao Zedong, lapangan ceremonial Partai Komunis Cina, dan Museum Nasional Cina. Selain tempat-tempat tersebut, Tiannamen Square terkenal karena sebuah peristiwa demonstrasi pada tahun 1989 yang dilakukan sekitar 300.000 orang. Demontrasi itu berakhir tragis karena menewaskan ratusan orang hingga ribuan, walau pemerintah Cina hanya menyebutkan angka 241 orang (218 penduduk sipil yang 36 diantaranya  mahasiswa) 10 orang tentara, 13 orang polisi) dan 7000 orang luka-luka. (sumber: Wikipedia)



Dari hostel hanya perlu satu kali naik MRT untuk mencapai lapangan ini. Saya tidak tahu sebelumnya bahwa lapangan ini berdekatan dengan Forbidden Palace dan Beijing National Museum. Seandainya saya tau, pasti saya menggandengkan Tiananment Square dan Forbidden Palace dalam hari yang sama di rencana perjalanan saya. Keluar dari stasiun MRT menuju ke lapangan ini tidaklah mudah karena saya harus keluar dulu dari stasiun, semua jalan dipagar dan saya kebingungan mencari-cari jalan untuk menyebrang


Tiannamen Square, Beijing
Suasana lapangan ketika itu sangat ramai, banyak rombongan-rombongan turis berseliweran. Lapangan bersih dan tertata rapi, banyak monumen-monumen berdiri disana. Setelah puas melihat-lihat dan berkeliling, saya kembali ke hostel karena hari juga sudah sore.

Diperjalanan menuju hostel saya singgah membeli makan malam. Ada banyak makanan dijual disekitar tempat itu, saya suka makanan yg mempersilahkan kita memilih berbagai macam sayur, daging dan bakso yang direbus, dijajakan dengan tusuk sate, kita bisa memilih yang kita mau, lalu meminta mereka untuk merebuskan. 

2.       Forbidden City

Forbidden Palace, Beijing, China
Forbidden City adalah istana kerajaan dari Dinasi Ming hingga Dinasti Qing (tahun 1420-1912, sumber wikipedia). Berada dipusat kota Beijing, istana ini menjadi rumah dan pusat kegiatan politik pemerintah Cina selama 500 tahun.

Jika anda hendak kesini, gandengkanlan kunjungan anda dengan Tiannamen Square, karena mereke bersebelahan. 

Perjalanan saya dimulai dengan naik MRT line 2 lagi dan berjalan kaki sambil bertanya-tanya dimana bekas istana itu, rombongan anak-anak muda berjumlah 5 atau 6 orang hanya cengengesan ketika saya tanya, nampaknya mereka tidak bisa berbahasa inggris. Lalu saya bertanya lagi ke orang lain dan dia mengarahkan saya untuk menyebrang melalui jalandi bawah tanah. Saya membayar tiket masuk 40 Yuan atau Rp 60.000,-


Kompleks Forbidden City, Beijing, susunan bangunan 
berbentuk kotak dengan lapangan ditengahnya 

Salah satu sudut di Forbidden City

Pintu masuk istana berupa gerbang tinggi yang terbuka, jika tertutup, bisa dibayangkan bagaimana terasingnya tempat ini dari dunia luar. Saya membeli kartu remi bergambar tempat-tempat wisata Beijing yang dijual seharga 5 Yuan atau Rp 7500, saya membeli 2 buah. (Kemudian dari teman dihostel  saya tau bahwa kartu ini mustinya bisa dibeli dengan harga 2 Yuan. haha...asem, saya kena tipu)
Begitu melewati gerbang, pengunjung langsung berada di sebuah lapangan yang dikelilingi bangunan dengan bentuk petak, yang kemudian tersambung lagi dengan bentuk bangunan yang sama dibelakang. Jadi semua berupa kompleks kotak-kotak yang selalu mempunyai lapangan ditengahnya. 

Menurut Wikipedia, istana ini mempunyai 9999 ruangan, jumlah yang yang dibuat mendekati kesempurnaan (10.000). Kaisar tidak membuatnya hingga jumlah sempurna yaitu 10.000 karena mereka merasa nomor kesempurnaan tersebut adalah milik Tuhan atau mahluk yang menguasai mereka. Konon dikamar-kamar yang banyak ini kaisar menyimpan selir-selirnya.
Gentong dari Tembaga


Dilapangan-lapangan yang ada terdapat gentong-gentong penampungan air yang terbuat dari tembaga. Mereka juga mempunyai patung-patung besar, alat yang dipakai untuk menunjukkan waktu (jam) dan barang-barang lain yang disimpan dalam ruangan, seperti keramik, pakain raja, perhiasan dan lain-lain. Walau pengunjung ramai  dan berisik, tak bisa dipungkiri, kita terbawa dalam imajinasi, ketika seorang kaisar masih ada dan memerintah di istana ini, dikelilingi prajurit, pelayan dan selir.

Salah satu benda di Forbidden City, kayaknya buat bakar dupa ya (saya nggak yakin)

Lanjut ke Jalan-Jalan (Backpacking) ke Beijing - Bagian 2



3 comments:

Chaycya O Simanjuntak said...

Kudu ah kesini..

Lanjutan 2nya mana???

Rina said...

Bagian ke 2 itu ada link nya paling bawah tulisan

Rina said...

Cahaya: ada linknya paling bawah