Sunday, May 19, 2013

Jalan-Jalan ke Beijing (Backpacking) - Bagian 2

Tulisan ini lanjutan dari tulisan pertama soal jalan-jalan ke Beijing, Cina

.         Summer Palace

summer palace beijing cina china
Summer Palace, Beijing
Summer Palace yang dalam bahasa Indonesia nya berarti Istana Musim Panas, merupakan tempat berlibur kaisar Cina dan keluarganya dahulu. Tempat ini terdiri danau, bukit dan bangunan-bangunan kuno. Summer Palace ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia atau World Heritage, wikipedia menyebutnya sebagai "a masterpiece of Chinese landscape garden design”.  Keseluruhan kompleks sangat luas hingga keperbukitan, sehingga kita harus naik bukit untuk melihat bangunan dan taman disana. Selengkapnya mengenai tempat ini ada di http://en.wikipedia.org/wiki/Summer_Palace

Saya sudah mencatat bagaimana cara untuk menuju tempat ini seperti ini: naik MRT Line 10, berhenti di Bagou station (stasiun terakhir line 10) lalu berjalan kaki kira-kira 1,5 km, from station you will see river – turn right and walk around the river and follow the crowd

Singkat cerita saya turun di Bagou station, saya keluar dari bawah tanah dan nongol di pinggir jalan yang langsung berada di halte bis. Saya tidak melihat ada sungai, welehh, seperti biasa saya harus bertanya. Saya menghampiri sepasang (mungkin) suami istri yang berusia sekitar akhir 30 hingga 40an, saya memilih yang bertampang muda dengan harapan mereka bisa berbahasa inggris, tapi ternyata mereka tidak bisa. Akhirnya saya menggunakan bahasa andalan saya: Ni ce tau Yihe Yuan? (apakah anda tau Summer Palace?) dia mengerti apa yang saya tanyakan, namun dia tidak tahu saya harus naik apa. Mereka memanggil security dan bertanya, dan tentunya saya tidak mengerti, si ibu meberitahu saya bahwa saya harus naik bis lagi, dan saya akan melihat gerbang Summer Palace disebelah kiri.   Dia menyarankan saya untuk menyampaikan pada supir bis bahwa saya ingin diturunkan di Yihe Yuan. Entah apa yg diucapkan, tapi saya dapat memahami apa maksud mereka. Saya naik ke bis dan mengatakan ke pengemudi nya: Yihe Yuan, dia mengangguk. Bagaimana dengan sungai dan jalan kaki yang ada dipetunjuk yang saya catat? Entahlah, mungkin dulu ada sungai? Karena saya melihat ada pagar tembok didekat situ, mungkin dibaliknya sungai (Soal ini menjadikan kenangan lucu yang kemudian hari selalu membuat saya tertawa mengingatnya, karena petunjuk yang saya catat sama sekali tidak akurat, tapi setidaknya petunjuk itu menunjukkan stasiun MRT perhentian yang benar dan sudah dekat ketujuan saya)

summer palace beijing cina china
Summer Palace, Beijing

Kemudian pengemudi  menurunkan saya disebuah gerbang, belum terlihat apa-apa disini. Saya menuju gerbang itu dan membayar 50 Yuan atau sekitar Rp 75.000 (ada pilihan tiket untuk hanya melihat bagian luar saja, tanpa akses ke istana-istana, saya lupa harganya, tapi tentu saja saya memilih akses kesemua tempat)

Saya berjalan sedikit dan kemudian disambut pemandangan indah sekali, sebuah danau bersih yang luas dan bangunan-bangunan berciri khas arsitektur negri tongkok disekeliling nya. Kompleks sangat luas, saya segera lupa soal bagaimana bingung nya saya menuju tempat ini. Saya berniat menyewa audio tour, namun saya harus kecewa karena  yang berbahasa inggris sudah habis terpakai wisatawan, tidak ada yang tersisa. Terpaksa saya melanjutkan melihat-lihat tanpa alat itu L

Seharian saya berada disana, diantara keramaian orang-orang yang berbahasa asing, 2 kali saya berpapasan dengan kelompok tour berbahasa Indonesia dan sempat berbicang dengan guide salah satu kelompok. Mereka dari Jakarta dan akan ke Shanghai dan Suzhou juga.

Sayangnya saya tidak bisa rekam berapa kilometer perjalanan saya karena tidak membeli karti SIM card Beijing, tapi saya rasa diatas 5 km

summer palace beijing cina china
Summer Palace, Beijing

Ketika akan meninggalkan Summer Palace, di halte bis tempat saya turun tadi, saya bertanya ke seorang cewek yang cantik sekali soal jalan pulang, kejadian langka: dia bisa berbahasa inggris! alangkah beruntungnya saya. Dia menjelaskan pada saya bahwa  halte itu adalah halte terakhir, bis tidak lagi mengambil penumpang disana, saya harus jalan kaki menuju halte selanjutnya dan naik dari sana. Setelah mengucapkan terimakasih, saya pun berjalan menuju arah yang yang ditunjuk si cewek tadi. Banyak sekali bis-bis tour yang parkir, jadi saya harus mencari-cari halte dibalik bis-bis itu, setelah jalan sampai 15 menit, saya tidak juga menemukan halte. Saya berjalan terus mungkin hingga 30 menit ketika saya melihat ada papan tanda MRT. Saya senang sekali, saya tak lagi perlu naik bis.

summer palace beijing cina china
Summer Palace, Beijing
Entah bagaimana informasi yang dijelaskan cewek tadi, mungkin saya melewatkan halte yang dimaksud nya. Ketika berangkat saya menyambung 3 line, kali ini hanya 2 line, hari sudah mulai gelap ketika saya naik ke kereta. Saya tiba di hostel  kelelahan, membeli makan  malam dan langsung bersantai dikamar sambil melihat-lihat foto jepretan saya hari itu di laptop, malam itu saya tidur nyenyak sekali karena kecapean




2.       Tembok Cina/The Great Wall

Saya berencana ke tembok Cina dengan teman yang saya kenal dihostel, dia cewek asal Cina tapi dari kota lain yang datang ke Beijing untuk jalan-jalan. Sebenarnya kami membuat rencana hari Jumat, tapi karena ada ramalan cuaca akan datang hujan dan angin kencang, kami menundanya hingga hari Sabtu. Pilihan hari yang tak begitu baik, karena weekend membuat tembok Cina penuh sesak oleh turis.
Saya beruntung bisa pergi kesana dengan wisatawan lokal,  karena saya tidak perlu ikut tur yang ditawarkan pihak hostel segarga 350 yuan atau Rp. 500 ribu, paket ini termasuk bis, tiket masuk, makan siang  dan guide. Lumayan

Sebenarnya saya punya catatan cara kesana: bus No 635 to Dengshengmen à then transfer to 877, tapi pihak hotel menjelaskan untuk mengambil  bis itu saya harus nyambung beberapa bis. Padahal kemudian saya tahu itu tidak benar
tembok cina great wall of china
Tembok Cina

Kami berjalan kaki sekitar 300 meter ke stasiun bis dan  menunggu bis yang menuju Ba Da Ling. Bis pertama harus kami lewatkan karna keburu penuh, bis berikutnya yang akhirnya membawa kami, ada pembicara dalam tur ini, semacam guide, dia menjelaskan dalam bahasa mandarin, pastinya saya tidak mengerti. Cuaca cerah ketika itu, sepanjang jalan terlihat pohon-pohon yang hampir semuanya tidak berdaun akibat musim dingin yang baru saja berakhir. Ketika perjalanan mulai memasuki area berbukit, kami mulai melihat penampakan tembok cina dikejauhan, perasaan takjub langsung memenuhi saya. Mata saya tak lepas dari kaca jendela yang lebar. Sekitar 1,5 jam kami tiba, tembok yang beken itu ada didepan mata. Kami segera membeli tiket seharga  60 Yuan atau Rp 90 ribu dan saya menyewa audio tour seharga 40 Yuan atau 60 ribu (harga ini saya lupa-lupa ingat euy)


tembok cina great wall of china
Tembok cina, ketika masih ada sisa salju

tembok cina great wall of china
Saya di tembok Cina


Cuaca dingin banget karena angin kencang dan salju masih banyak ditanah, satu hal yang saya sesalkan, karena penuh nya pengunjung, sulit untuk mengambil foto tanpa adanya gangguan dari orang yang melintas. 2 cewek mungil  yang berjalan bersama saya nampaknya senang-senang saja saya mintai tolong untuk mengambil foto saya. Sambil berjalan saya mendengarkan penjelasan audio tour, memang ada nilai plus berwisata dengan audio tour (yang terus terang saya kenal pertama kali ketika saya di Cina). Saya belum pernah lihat barang begituan di Indonesia hehehe. Alat itu menjelaskan lebih mendalam mengenai sejarah Tembok Cina dan fungsi setiap bagian bangunan

3.       Beijing Olympic  Stadium

Karena saya mendengar stadium ini sangat bagus kalau malam hari, maka  saya memutuskan untuk datang 2 kali, pada siang dan malam. Butuh 3 kali menyambung MRT dari hostel saya ke stadium ini. Saya pergi pagi, udara dingin sekali, saya memutuskan tidak membeli tiket masuk karena tidak begitu tertarik. Saya melihat banyak yang berjualan layangan tandem, maksudnya, layangan yang bergandengan ketika diterbangkan. Disebelah stadium berbentuk sarang burung itu, ada Water Cube, tempat olah raga air, saya pernah melihat bagaimana pemerintah Cina membangun tempat ini sehingga sangat tertarik untuk mengamatinya. Kalau saya tidak salah, gelembung-gelembung yang ada pada stadium itu di isi dengan air. Banyak patung-patung disekitar stadium ini, ada juga toilet umum.

Sorenya saya pergi ke Beijing National Museum, namun Karena hari sabtu, tempat itu tutup jam 3, saya tiba sudah hampir jam 4. Dengan kecewa saya kembali ke hostel. Sore itulah satu-satunya waktu yang tersisa untuk ke museum itu, karena besok paginya saya harus berangkat menuju Suzhou. Apa boleh buat :’(

Stadiun Olimpiade Beijing
Stadiun Olimpiade Beijing yang berbentuk sarang burung

Water Cube, Beijing, cina china
Water Cube, Beijing

Saya kembali ke hostel, lalu pergi lagi malam nya ke stadium yang sama. Memang tidak sia-sia saya mendengarkan sarah teman-teman, stadium memancarkan cahaya warna-warni. Walau cuaca sangat dingin mengigit dan saya hanya mengenakan sweater. Malam itu seorang mickey mouse jadi-jadian mendekati saya menawarkan diri untuk foto bareng, saya sangat senang, saya pun berfoto ria dengan dia, dia merangkul dan memegang tangan saya. Setelah selesai, dia meminta uang, mula-mula saya bingung apakah saya harus membayar atau tidak, setelah berfikir sebentar, saya pun menolak, dengan alasan: dia tidak memberitahu sebelumnya. Tentu saya tidak tau bagaimana cara menolak dia, saya hanya menggeleng-geleng sambil bilang no, no dan pasanga wajah batak galak saya. Dia akhirnya diam.
Water Cube Olympic Stadium, Beijing, Cina
Bird Nest, Stadiun olah raga Olimpiade yang mirip sarang burung, Beijing, Cina
Malam itu adalah malam terakhir saya di Beijing, saya kembali ke hostel, tidak lupa membeli makan malam terlebih dahulu. Walau itu malam terakhir, tak ada niat saya untuk menelusuri tempat hiburan malam seperti yang saya rencanakan.

4.       Saya Tak Mau Naik Kereta Kambing Lagi

Saya lupa persisnya di hari apa, saya pergi ke stasiun kereta untuk merubah jenis kereta yang akan saya tumpangi menuju Suzhou. Saya tak mau lagi sengsara selama 12 jam, apalagi batuk saya belum juga sembuh, saya malah semakin menderita karena kontraksi otot yang berlebihan ketika batuk, membuat saya kesakitan dibagian perut. Sakit bukan sekedar sakit, sampai membuat saya harus memegangi perut saya ketika batuk, da membuat saya mengerang-erang ketika batuknya selesai.
Saya sudah membawa jadwal dan jenis kereta yang saya mau dalam buku catatan saya. Proses penukaran tidak mudah walau petugas yang saya datangi ada tulisan “English” nya di counter.


 Pulang


Tiket kereta pulang
Terakhir kalinya, saya naik MRT menuju stasiun Beijing, stasiun yang sempat diberitakan kompas.com sebagai stasiun yang lebih bagus dari pada bandara di Indonesia. Ketika saya disana, ada rombongan atlet sedang akan berangkat, saya tidak tahu mereka menuju kemana, tapi rombongan mereka besar. Waktu saya telah masuk kedalam kereta, saya melihat sepertinya kereta belum akan berangkat, sayapun menyempatkan diri berfoto bersama kereta super cepat ini dari luar. Kecepatan mencapai 306 km/jam (ada layar yang menampilkan speed kereta).

Perjalanan memakan waktu 5.5 jam.  Meski harga tiket “lumayan”, dan kami melewati  jam makan siang, kami tidak diberi makanan atau minumam apapun selama dijalan, bahkan air putih pun tidak. Untung saya punya 2 buah roti di tas saya *sight*

                Kereta cepat yang saya tumpangi pulang ke Suzhou
Sepanjang jalan saya tidak menyia-nyiakan pemandangan langka musim dingin di negri tirai bambu itu, berkali-kali saya meninggalkan tempat duduk dan berdiri disebelah jendela untuk mengambil foto dan video

Selamat tinggal Beijing, one of the best holiday I ever had. Sangat berkesan karena saya traveling ditempat yang tidak saya pahami bahasanya, dan seorang diri.



Seluruh hak cipta foto: penulis blog/Rina


Harga-Harga berdasarkan kurs saat itu 1 yuan = Rp 1500
1 Tiket masuk summer palace 50 Yuan atau sekitar Rp 75.000
2. Tiket masuk Tembok Cina 60 Yuan atau Rp 90 ribu dan saya menyewa audio tour seharga 40 Yuan atau 60 ribu
3. Bis ke Tembok Cina sekitar 6 atau 8 Yuan (lupa)
4. Beijing Olympic Stadium: gratis karena saya hanya diluar saja, kalau masuk sekitar 50 Yuan atau Rp. 75.000
5. Tiket pergi, kereta ekonomi 150 Yuan atau Rp 225.000
6. Tiket pulang, kereta eksekutif (Train G127 Beijing - Suzhou) 523.50 Yuan atau Rp. 785.000

2 comments:

Dee An said...

Iiih kereeen Great Wall... pengen ke sanaaaa *matalopelope

Rina said...

rombongan yg kemarin berangkat dapat 1,5 an udh pp mbak Dian, ayo berburu tiket murah :D