Thursday, January 29, 2015

Backpacking ke Cambodia (Kamboja) - Bagian 1



Menuju Siem Reap

Saya memesan tiket bis dengan harga 400 baht atau 160 ribu rupiah melalui hostel saya, katanya saya akan dijemput sekitar jam 8 dan saya harus sudah stand by jam jam 7.30. Seperti biasa saya sudah terbangun sejak jam 5 dan sudah grasak grusuk sendiri mempersiapkan keberangkatan sementara kamar dorm gelap tanpa lampu. Saya memang sudah packing malamnya, tapi peralatan mandi dan baju yang saya pakai tidur kemarin harus saya pack lalu dimasukkan kedalam ransel. Saya rasa penghuni lain kamar itu ada yang mengutuk dalam hati dengan segala bunyi kresek-kresek yang saya timbulkan.
Jam 6 lewat saya sudah keluar mencari sarapan, dan saya heran melihat jalanan seputaran Khao San Road sepi dari pedagang makanan, saya pikir saya kepagian. Saya jalan-jalan ke Khao San Road untuk melihat makanan apa yang ada disana, tapi juga tidak ada, setelah itu saya kembali ke hostel dan bertanya ke reception mengapa jalanan sepi dari penjual makanan, diberitahu bahwa memang tutup 2 kali dalam sebulan  setiap hari Senin. Apes banget dah, padahal karna udah hari terakhir saya niat makan-makan yang enak-enak dan bawa bekel makanan buat di bis yang banyak. Akhirnya saya makan mi disalah satu ruko dan kembali ke hostel.

Saya menunggu sampai jam 8.10 tidak ada bis yang menjemput, sementara 2 cewek yang sekamar dengan saya sudah dijemput bis mereka, rupanya kami menggunakan travel agent yang berbeda. Seorang cowok asal inggris juga masih menunggu bersama saya. Sekitar jam 8.30, seorang cowok yang mengaku dari travel  datang menjemput kami, dia naik motor dan mengarahkan kami untuk mengikutinya dengan berjalan kaki, jaraknya sekitar 400 meter. Kami diminta menunggu dipinggir jalan, saya bilang ke orang yang menjemput kami: I think we will pick up by bus from hostel. Dia menjawab ‘you want to go or not? You have to wait here! Saya hanya bisa melongo dengan  keketusan pria itu
Kami menunggu dan terpanggang matahari dijalan itu dengan beberapa orang lainnya hingga jam 10, saya tidak tahu apakah mereka menunggu bis yang sama, mereka saling mengobrol, saya sibuk menghabiskan sisa pulsa saya untuk telepon emak dan buka-buka internet. Akhirnya bis datang, mini bis sebesar L-300 langsung terisi penuh dan cuma saya saja yang berkulit coklat sodara-sodara. Saya duduk dibelakan supir, disebelah saya sepasang kekasih yang sepertinya berbahasa spanyol atau italia (saya masih sering salah menebak ke-2 bahasa ini). Karena mereka selalu ngobrol berdua, saya hanya diam sepanjang perjalanan, padahal dibelakang saya dengar mereka saling kenalan dan bertukar cerita soal trip masing-masing. Saya main permainan tebak aksen dengan diri saya, setiap ada yang berbicara saya menebak orang itu asalnya dari mana, setelah mereka bertanya asal masing-masing baru ketahuan tebakan saya benar atau tidak.

Sekitar jam 3 mobil berhenti disebuah rumah makan, kami diminta menunjukkan tiket masing-masing, semua menyerahkan kecuali seorang cowok, rupanya waktu tanda bayar diminta dan ditukarkan dengan tiket, cowok ini tidak mendapat tiket dan dia tidak menyadari bahwa itu akan penting nantinya, dia naik ke bis dan mobil berangkat. Siapa kira tiket akan diperlukan lagi? Si pria yang meminta tiket menekan dia dengan ucapan-ucapan yang ketus, seakan-akan cowok itu bohong, saya berfikir, apa dia sering dibohongi bule yang naik diam-diam ke suatu bis dengan gratis? Mengapa begitu ketusnya? Saya berusaha membantu dengan menjelaskan padanya kalau ke pria itu tadi dijemput dan menunggu bis bersama saya. Si pria tetap ngotot dia tidak bisa  mentransfer jika dia tidak punya tiket untuk bukti yang akan digunakan menagih ke travel asal Thailand. Si bule mengeluarkan kartu nama tempat dia membeli tiket itu.

Sampai disana ceritanya saya ditarik dari tempat duduk saya dan diajak ke sebuah ruangan, saya bingung sebenarnya tapi tetap mengikuti si pria yang memanggil saya.Di ruangan itu ada seorang pria duduk dengan gaya bak petugas imigrasi, mengatakan bahwa saya kalau mau masuk negara mereka (Kamboja) harus bayar 100 baht. Saya bilang, saya tidak pernah dengar hal itu, saya berasal dari negara Asean dan bebas masuk ke negara asea tanpa membayar. Nampaknya mereka berusaha mendapatkan uang dari saya dengan menguruskan visa

Baiklah katanya, saya disuruh keluar dan melanjut naik bis L-300 yang berbeda bersama 1 orang cowok yang sejak awal dijemput bersama saya dari hostel. Kami rupanya dibawa keperbatasan, sampai diperbatasan saya diberi kode untuk keluar, dia mengucapkan “stamp paspor” yang membuat saya mengerti kalau saya berhenti disini untuk proses stempel paspor, supirnya tidak bisa berbahasa inggris. Saya kebingungan keluar dari bis karena tidak melihat petunjuk apapun yang mirip gedung imigrasi atau turis mengantri. Saya berjalan kedepan sekitar 200 meter, melihat 2 orang bule dan bertanya dimana saya bisa stempel pasport? Mungkin disana, katanya menunjuk kesebuah tempat. 

Saya jalan kearah orang-orang berdiri, rupanya mereka sedang berjalan menuju gedung imigrasi Thailand. Saya langsung ikut mengantri, setelah tiba giliran saya, saya malah dikasi tau kalau warga negara bukan Thailand stempel di lantai 2. Saya naik kelantai 2 dan ngantri lagi, diantrian saya dengar ada yang berbahasa Indonesia tapi malas untuk menyapa. Setelah selesai saya keluar gedung dan berjalan kedepan, tidak ada nampak gedung imigrasi Kamboja. Saya melihat seorang yang (sepertinya) berpakaian polisi atau petugas imigrasi, mereka mengarahkan saya kedepan, saya berjalan terus dan melihat antrian panjang bule-bule, langsung saya mengekor dibelakang mereka. Perasaan saya tenang setelah ada dalam kumpulan itu, rupanya saya sendiri karena saya dari ASEAN sendiri, yang proses visanya berbeda. 

Antrian bergerak lambat, petugas Cuma 2 orang, saya naro ransel saya ditanah, kegagahan saya langsung hilang kalo sudah berdiri-berjam-jam memanggul ransel. Didepan saya sepasang bule asyik berciuman tak berhenti-berhenti, asem! Pemandangan yang cukup asem buat jomblowati akut seperti saya. Tapi memang pasangan itu ada disana biar saya punya kenangan sendiri soal perbatasan Thailand-Kamboja ini 
Selama ngantri, saya tidak melihat orang-orang yang sebis dengan saya, apakah saya ditinggalkan? Apakah mereka menunggu saya? Dimana? Saya cemas, tapi ketika saya memikirkan kemungkinan tertipu dan tidak ditunggu, saya berfikir saya bisa naik bis lain dan membayar. Tidak terlalu buruk, setelah saya menemukan solusi untuk kemungkinan ditinggal, saya jadi santai dan..kembali musti lihat pemandangan “asem” tadi
Sekitar jam 5 stamp paspo selesair, saya mengikuti arah kerumunan berjalan, rupanya bis-bis berjejer didepan sebuah gedung. Saya mengenali seorang pria yang ada di restoran tempat saya terakhir dipisahkan dari teman-teman sebis, dia menunjuk bis besar menyuruh saya naik kesana. Saya naik ke bis dan mencari tempat duduk kosong, seorang cewek mungil duduk sendiri, saya bertanya apakah tempat duduk itu kosong, dia bilang iya. Cewek itu bernama Jessica, berasal dari Brazil, dialah yang akan jadi travel mate saya sejak saat itu hingga Ho Chi Minh.

Kami mulai ngobrol soal hal- hal yang biasa ditanyakan kepada sesama turis lain, sudah jalan kemana aja dalam trip ini dan akan kemana. Dia sudah 1 bulan di Asia, dia memulai perjalanan dari Australia karena dia sedang kuliah disana, dia mulai perjalanan nya dari yang dekat, yaitu Indonesia (Bali), kemudian malaysia, Singapore, Thailand, dia akan ke Kamboja, dan Vietnam, lalu Hongkong dan Jepang. Jadi kami menuju 2 negara yang sama yaitu Kamboja dan Vietnam.

Kami sama-sama berharap tiba di Siem Reap sebelum hari gelap, namun kami sama-sama tau, sepertinya itu tidak mungkin, melihat jalanan yang sepertinya masih dipedesaan, dikiri-kanan jalan banyak sawah dan ladang. Mobil berjajalan lambat sekali, sekitar 30 km/jam. Saya jadi ingat gaya emak saya kalo bawa motor dan saya mengomel dibelakang karena tak sabar. Saya bercanda ke Jessica bahwa saya bisa berlari disamping mobil ini dan saya lebih cepat

Sepanjang perjalanan dari Bangkok, mobil tidak berhenti untuk makan siang dan saat itu menjelang jam 7 malam, saya sangat kelaparan. Jessica juga bilang bis nya tidak berhenti dijalan untuk makan siang, aneh. Sekitar jam 7 malam bis kami yang jalannya seperti putri solo berhenti disebuah restoran yang dikelilingi sawah. Kami memilih menu dan melihat harga ditulis dengan US Dollar, inilah Kamboja, pikir saya. disebuah meja duduk si cowok bule yang bermasalah dengan tiket tadi, dia melihat ke saya, tapi saya lupa-lupa ingat siapa dia, setelah duduk menunggu makanan kemudian saya baru ingat siapa dia, rupanya dia berhasil mendapatkan bis ke Cambodia, entah bagaimana caranya, semoga dia tidak perlu membayar lagi.  Saya memesan nasi goreng ayam seharga $ 3,5. Sepasang turis asal Italia permisi untuk duduk dimeja kami karena semua meja terisi, si cowok tidak bisa berbahasa inggris dan si wanita membantu menterjemahkan untuk kami. Si cowok melucu dengan menggaruk-garuk nasinya dan mencari daging ayam, dia lalu mempraktekkan ayam terbang, maksudnya, tidak ada ayam di nasi gorengnya karena terbang pergi, lucu sekali. Pasangan ini juga cukup nekat, mereka belum ada booking hotel di Siem Reap

Kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang. Sekitar jam 8 kami tiba di Siem Reap dan langsung diserbu pengemudi tuk-tuk, mereka menawarkan untuk tur ke Angkor dihari berikutnya, karena saya baca harga tur ke Angkor harganya $ 12, saya menawarkan harga itu, tapi nampaknya harga sudah berubah, atau karena sekarang sedang musim liburan (high season). Akhirnya kami mendapat harga $ 15 dan diantar ke hostel gratis walau saya dengan Jessica menginap di hostel yang berbeda.
Kami janjian untuk ke Angkor jam 11 siang karena Jessica bilang dia tidak cukup tidur malam sebelumnya jadi pengen tidur sampai siang. Saya tidak keberatan.

Saya diantar ke One Stop Hostel, cukup bagus dan sangat ramai, saya pesan kamar di 6 bed dorm. Saya sempat ngobrol dengan seorang cewek asal Cina yang bahasa inggrisnya payah sekali. Dia sudah berbulan-bulan menginap dikamar itu karena dia bekerja dengan saudaranya. Malam itu karena capek saya cuma keluar untuk beli minum, tapi karena melihat ada tulisan “night market” besar dan bercahaya, saya melipir sedikit kesana padahal tidak membawa uang. Walau naksir barang-barangnya saya tidak bisa beli, saya bilang kepenjualnya saya akan kembali. Boro-boro kembali, saya kehilangan orientasi ketika mau kembali ke hostel, karena ternyata tulisan “night market” ada banyak, saya nanya-nanya pun tidak ada yang tau dimana One Stop Hostel (atau mungkin mereka tidak mengerti). Setelah berputar-putar, akhirnya saya bisa balik ke hostel dan tidur dengan nyenyak sekali. 

30 Desember 2014

Saya bangun dan langsung keluar mencari sarapan. Saya membeli yang tercepat saja, yaitu roti perancis isi daging ayam seharga $ 1. Saya harus menemukan tempat menginap sebelum saya berangkat ke Angkor, karena prubahan jadwal perjalanan saya, saya terpaksa menggeser bookingan hostel saya kehari yang lain, tapi rupanya saya dikenakan tarif baru walau kamarnya sama, karena jengkel, saya cancel saja dan mengambil One Stop Hostel, tapi hostel ini hanya bisa saya book 1 hari saja karena penuh dihari berikutnya. Saya bertanya ke resepsionis kemana saya bisa mencari hostel, dia menunjuk kearah belakang hostel tapi saya tidak menemukan apa-apa. Saya balik ke hostel dan mencari hostel yang kosong melalui komputer yang disediakan untuk tamu, kebanyakan hostel penuh. Saya menemukan sebuah hostel yang punya kamar kosong, melihat posisi mereka di google map, dan menanyakan kepada resepsionis dimana letaknya.

Saya berjalan dan mulai mencari kearah belakang One Stop Hostel, belum jauh berjalan, saya malah menemukan sebuah hostel lain yang menyediakan ruangan dorm dengan harga $5, namanya Boutique Dormitory Konchi-Ke, segera saya bertanya apakah ada kamar untuk saya, ternyata ada. Saya langsung bayar untuk 2 malam. Saya kembali ke One Stop Hostel, lalu mandi dan packing. Lalu saya membawa semua barang ke hostel ang baru dan meminta kunci. Resepsionis cowok yang berasal dari jepang itu tidak mengenali saya, saya bilang saya yang tadi booking hostel, dia melihat saya kebingungan. Saya mengeluarkan kuitansi pembayaran saya dan dia langsung ingat, katanya karna rambut saya beda makanya dia tidak mengenali saya, padahal saya Cuma keramas! :-/

Sudah menjelang jam 11, saya ke One Stop Hostel untuk Check out dan meminta uang jaminan kunci sejumlah $2, dan duduk menunggu tuk-tuk menjemput, sambil online di komputer lagi (karena janjian dengan supir tuk-tuk di One Stop Hostel). Saya kabarin Jessica lewat Whatsapp kalau saya sudah menunggu, waktu jam 11 saya bilang ke dia kalau tuk-tuk tidak datang, saya akan mencari tuk-tuk lain, dia setuju. Rupanya tuk-tuk datang menjemput Jessica duluan lalu menjemput saya. Kamipun menuju Angkor, singgah membeli tiket untuk 1 hari seharga $ 20, dilengkapi foto masing-maing yang diambil saat itu juga. Waktu sampai didepan Angkor Wat, hari sudah menjelang jam 12 siang dan kami kelaparan. Karena tau waktu menjelajahi Angkor tidak sebentar, kami memutuskan untuk makan dulu.

Kami mendatangi restoran disekitar, tapi harganya bikin hidung kami kembang kempis, makanan seperti nasi goreng atau mi berkisar antara $ 6 sampai $ 10. Kami memeriksa menu 3 buah restoran, harganya hampir sama. Kami bergeser ke restoran kecil semacam warteg dan harga nasi gorengnya $ 4, kami menawar nasi goreng itu $ 3, dan si ibu setuju. Untung saya bawa air botolan jadi tidak perlu bayar minum, Jessica harus bayar coke kalau nggak salah ingat $ 1,5. Nasi gorengnya rasanya sama aja  kayak nasi goreng yang kita beli dipinggir jalan dengan harga 8 ribu atau 10 ribu perak di Indonesia.

Mulai kami sampai didepan Angkor, penjual tidak henti-hentinya membuntuti kami untuk menawarkan dagangan, ada yang menjual celana “aladin” ada yang menjual syal, buku, dan mainan anak-anak. Pedagangnya nya ibu-ibu dan anak-anak yang menjual dengan cara menhiba-hiba, mengganggu sekalikarena mereka tidak mau pergi walau kita sudah memberi kode “tidak”
Setelah makan kami langsung menuju Angkor yang ada di tempat kami makan, pengunjung ramai, tapi saya yakin lebih ramai dipagi hari yang karena banyak yang ingin melihat sunrise. Yang kami temui ketika itu mungkin orang-orang yang sejak pagi sudah ada disana

Kita disambut semacam lapangan yang luas didepan angkor, ada semacam danau yang indah disekelilingnya, dan ada juga kolam didepannya. Lalu ada bangunan kecil semacam pintu masuk kedalam, kami seperti dibawa kejaman abad ke 13 ketika candi ini masih digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Angkor terlihat sangat tua, banyak lumut hitam dibatu-batunya, itulah yang membuat kita merasa tempat ini sangat tua, padahal candi itu dibangun pada abad ke 13, bandingkan dengan candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 8, tapi terlihat lebih “muda”. Eh saya harus buat pengakuan kalau saya belum pernah ke borobudur *tersapu-sapu malu*, tapi prambanan udah kok ;). 

Ada beberapa bagian tempat diluar candi yang teduh karena tertutup bayangan bangunan candi, yang membuat kami membayangkan piknik disana, menggelar tikar, duduk atau tidur-tiduran sambil makan cemilan. Kami melihat ada orang yang tidur-tiduran disalah satu teras candi, alangkah nikmatnya. Kalau tidak mengingat tuk-tuk yang sedang menunggu, dan masih banyak candi lain yang menanti untuk kami lihat, pasti kami ikut tidur-tiduran.

Kami melihat kesemua sudut dan berfoto-foto sekitar 2 jam, untuk memasuki bagian tertinggi candi kami dicegat karena Jessica memakai celana pendek dan baju tanpa lengan, jadi saya naik sendiri melalui tangga yang curam. Setelah itu kembali ke pengemudi tuk-tuk yang langsung membawa kami ke candi lain yang berbentuk wajah-wajah. Wajah-wajah tersenyum ini sudah lama memukau saya lewat foto-foto, akhirnya saya bisa lihat dengan mata sendiri. 

Selanjutnya Angkor Tom, candi ini terkenal karena menjadi salah satu set shooting film Tomb Rider yang dibintangi Angelina Jolie, hal yang paling menonjol dari candi ini adalah akar-akar pohon yang tumbuh diantara batu-batu candi.

Saya ingat ada 4 candi yang mustinya kami kunjungi, tapi saya tidak berminat lagi melihat yang ke-4, pengemudi tuk-tuk kami sudah menunggu dan tidak menyinggung soal candi ke-4 dan saya juga tidak bertanya, sore sudah hampir habis. Kami naik ke tuk-tuk dan menikmati suasana sore yang tenang dari tempat duduk kami, dijalan kami melihat danau yang mengelilingi Angkor indah sekali. Sesampainya di hostel, saya dan Jessica berjanji untuk makan malam bareng dan melihat-lihat pasar malam

Lewat whatsapp kami berjanji bertemu di depan Hard Rock Café, lalu kami makan dan minum jus yang kami beli dengan harga $ 1 dipinggir jalan dan duduk di sebuah cafe yang menyediakan tempat duduk diluar, kami berharap tidak diusir tapi kalaupun diusir kami siap karena tidak akan rugi apa-apa :p. Dan ternyata kami aman saja santai-santai disana, walau beberapa kali pelayan keluar dari pintu kami sudah merasa cemas akan diusir. Didepan café banyak pengemudi tuk-tuk menawarkan jasa pada setiap turis yang keluar, mereka cukup ramah menolak ataupun menawar harga. 

Selesai minum jus, kami melihat-lihat barang yang  dijual disekitarnya, hampir sama dengan apa yang dijual dibangkok, tapi disini saya melihat banyak perhiasan perak. Sekali bertanya sudah cukup membuat saya malas untuk membeli, sebuah cincin yang sangat tipis ditawarkan $ 20. Di indonesia saya bisa mendapatkan dengan harga $ 4 barangkali. Begitu saya melengos, sipenjual langsung menyebut $ 16. Saya sudah kehilangan selera. Memasuki beberapa toko perak hal yang sama terjadi lagi. 

Kami mendengar musik yang keras dan mencari asal musik itu. Rupanya musik itu datang dari sebuah tempat, saya tidak tahu namanya pub/club/ atau bar. Kami masuk dan melihat ramai orang berdansa, kebanyakan, kalau lihat tampangnya  sepertinya  mereka turis dari Asia (mirip orang Indonesia), bisa juga penduduk lokal. Ada juga bule tapi mereka tidak seheboh yang saya sebut tadi.  Kami ikutan goyang-goyang tubuh disana beberapa jam. Lalu pulang ke penginapan kecapean. Olah raga yang paling menyenangkan buat saya selama beberapa bulan terakhir ini

 Catatan selanjutnya bisa dilihat disini

No comments: