Tuesday, October 4, 2016

Terharu Biru Menyaksikan Sejarah Kuala Lumpur di MUD Show

MUD Show Kuala Lumpur Malaysia
mudkl.com
"Aku nangis lho tadi" kata Tari, seorang blogger asal Jakarta. "Sudah dua kali nonton, nggak sedikitpun saya merasa bosan" Kata Ahmad, teman blogger dari Batam. "Pemainnya sebagian berbeda dengan yang saya tonton pertama kali kata Ahmad lagi menambahkan"

Mereka ngomongin apa sih? Kok sampai ada nangis-nangisan gitu?



Ceritanya kami baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan teater, namanya MUD Show. Show yang ditampilkan adalah semacam cerita yang dibawakan dengan dialog, nyanyian dan tarian. 

Bagaimana alur ceritanya? Ini saya ceritakan secara singkat yaa...

Mamat, Meng dan Mutiah datang ke daerah bertemunya dua buah sungai, yaitu Sungai Lumpur (sekarang namanya Sungai Gombak) dan Sungai Kelang. Pertambangan timah telah membawa mereka untuk mencoba peruntungan di Kuala Lumpur, untuk mencari peluang dan kehidupan baru. Mereka berbagi mimpi dan tentang masa depan yang mereka harapkan sejahtera.

Diceritakan kemudian Meng mencoba untuk menjadi penambang di Ampang. Mamat menyambut anaknya yang baru lahir melalui kenduri yang menampilkan sisi kebersamaan masyarakat ketika itu

Singkat cerita, pada tahun 1881 kemudian mereka mengalami kebakaran  yang dahsyat yang melenyapkan hampir seluruh kota Kuala Lumpur. Digambarkan mereka saling bahu membahu mengambil air dengan ember, dan mengopernya secara estafet. Musibah tidak berakhir disitu. Hujan turun dengan deras. Banjir besar berlumpur kemudian menyapu apapun yang tertinggal.

Apakah mereka menyerah? Tidak. Kuala Lumpur dibangun kembali dengan nilai kerendahan hati. Frank Swettenham, Perwakilan pemerintah Inggris ketika itu, menetapkan pada tahun 1882 bahwa pembangunan kembali Kuala Lumpur hanya boleh menggunakan atap genting dan batu bata. Sebuah daerah baru dibuka untuk memproduksi batu bata untuk mendukung kebutuhan saat itu - daerah ini sekarang dikenal sebagai Brickfields. Musibah besar inilah kemudian yang menjadi tonggak awal berdirinya Kuala Lumpur yang sekarang. Scene terakhir di warung teh membawa kita pada harapan tentang apa yang akan dibawa masa depan untuk ketiga sahabat ini?  Demikian cerita singkat dari pertujukan itu.

Pertunjukan ini menampilkan sandiwara, lagu dan tarian yang ditampilkan dengan apik. Akting mereka sangat menawan. Eskspresi wajah pemain benar-benar seperti manusia yang tidak berakting. Mereka terlihat girang saat memerankan orang yang sedang senang. Dan sedih ketika memerankan tokoh yang sedang berduka. Ada 2 orang pemain yang sampai meneteskan air mata dengan deras ketika berperan sedih, saat mereka menghadapi musibah. Saya jadi hampir menangis juga

Peran pembantu yang berfungsi sebagai cameo juga tidak kalah serius. Tarian dan gerakan diperagakan dengan sepenuh hati. Ada yang melakukan tarian serupa akrobat, dengan kayang, dan salto. Saltonya dilakukan perempuan lho.

MUD Show Kuala Lumpur Malaysia
Hujan mengguyur Kuala Lumpur. foto: uninreupyo.moxo.sk
Kesedihan akibat kebakaran foto http://fuguetastic.com

MUD Show Kuala Lumpur Malaysia
mudkl.com
MUD Show Kuala Lumpur Malaysia
Penonton (paling kiri) diajak menjadi salah satu pemain yang mengaduk dodol
MUD Show Kuala Lumpur Malaysia
Blogger Asean berpose dengan pemain MUD KL

Ketika musibah banjir lumpur ditampilkan, lumpur dihadirkan dalam bentuk kain. Kain ini menggulung dengan dahsyat seluruh pemain, hingga menutupi kami yang menonton. Kita seakan merasakan sesak dan gelapnya digulung oleh ombak lumpur ketika itu. Boleh juga usaha mereka untuk membuat imajinasi kita terbawa ke suasana ketika itu


Di sela-sela akting,para pemain melakukan dialog dengan penonton. Menanyakan asal penonton. Bahkan 2 orang pentonton diajak untuk memerankan cameo. Diakhir pertunjukan, semua penonton diajak naik ke panggung untuk ikut menari dan menyanyikan lagu terakhir. Mereka juga mengajak penonton untuk berfoto bersama


Pertunjukan yang telah memenangkan sebuah penghargaan ini berlangsung selama 1 jam, menampilkan 3 etnis utama yang menonjol di Malaysia; India, Cina dan Melayu.  Etnis inilah yang ikut membangun Kuala Lumpur

Cerita mengenai pencapaian, harapan, komitmen, persahabatan, kekuatan dan perjuangan hidup orang-orang di sebuah kota ini sangat layak untuk di tonton. Pasti akan mampu membuat anda terharu, jika tidak meneteskan air mata

Maap yak teman-teman, foto dari hp saya kebanyakan tidak cukup bagus, rupanya kamera hp kurang bisa mengambil gambar pentas beginian. Foto dari hp saya cuma yang kedua dari bawah, silau deh gara-gara lampu panggung tertangkap. Jadinya saya ambil foto dari website lain ^_^

Masih belum yakin mau nonton show ini atau tidak? coba baca ulasan mereka yang pernah menonton show ini disini
 

"Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall". Confucius
Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall. Confucius
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_history.html
Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall. Confucius
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_history.html
Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall. Confucius
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_history.html
Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall. Confucius
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_history.html


Tiket: RM 84.80 untuk warga asing atau sekitar 275 ribu rupiah
Show 2 kali sehari, yaitu jam 15.00 dan 20.30 

Tempat:
Panggung Bandaraya (dekat Dataran Merdeka)
Jalan Raja, 50350
Kuala Lumpur, Malaysia.

Perjalanan sebelumnya di Citrawarna 2016 bisa disimak disini

#Kunjungan ini adalah bagian dari Familirization Trip yang diselenggarakan oleh Kementrian Pelancongan & Kebudayaan Malaysia & Gaya Travel Magazine

21 comments:

batam event said...

Teater tentang sejarah, masih di hidupkan. Keren yah.

Arreza Mp said...

teater ini seperti sejarah hidup manusia yang di ulang ulang

Chaycya O Simanjuntak said...

Boleh dibilang mereka kreatif untuk menghidupkn sejarah sebagai bagian dRi promosi wisata ya

Rina said...

Batam Event: iya mas, jadi nambah deh pengetahuan soal sejarah KL

Rina said...

Arreza: hehe...seru tapinya kan mas?

Rina said...

Chay: iya, kreatif kan, itulah yang kurang dari bangsa mu Chay, eh bangsa kita ya ^_^

sri murni said...

Wah keren informasinya..... mereka kreatif bangets menampilkan sejarah yang banyak orang menganggap suatu hal yang membosankan menjadi teaterikal yang menyenangkan.

Rina said...

Sri Murni: iya mbak, biasanya sejarah kan membosankan ya..kalo yg ini seru, lucu, dan bikin terharu :)

sarah eyie said...

baca jalan ceritanya aku pasti menangis juga nontonnya.... sediih

ahmadi sultan said...

Malaysia pintar mengemas acara yang bisa mendatangkan turis!

mohamad maes fauzi said...

Mungkin disini semacam ketoprak atau lenong ya...?

Evi said...

Aku dua kali nonton, dan gak habis-habis terpesonanya. Musik, koreo, dan akting pemainnya, wow! :)

Rina said...

Mbak Sarah: saya recommend banget nonton ini, pasti nggak nyesal. Saya mau ngajak emak nonton ini :)

Dian Radiata said...

Penasaran banget pengen nonton...

Dian Radiata said...

Penasaran banget pengen nonton...

Agus Saputra Asad said...

duh sedih juga ya baca ceritanya...duh jadi penasaran pengen nonton langsung

Batam Dine said...

Keren yah.. Next trip kesana mampir ah..

Happy Tummy Traveller said...

Wah seru nih petualangannya.. Sebenarnya sejarah Indonesia ga kalah keren yah.. Cuma publikasinya aja yang kurang..

Rina said...

Dian & Asad: kalo ke KL nonton deh, pasti ga nyesel

Rina said...

Minyak Kemiri: kan ada tuh dijelaskan, mengikuti familirization trip :

#Kunjungan ini adalah bagian dari Familirization Trip yang diselenggarakan oleh Kementrian Pelancongan & Kebudayaan Malaysia & Gaya Travel Magazine

Rina said...

Adriana: lihat disini videonya ya

https://www.youtube.com/watch?v=IHrTq1GSIdk