Monday, July 10, 2017

Serba-Serbi Perjalanan Filipina

Osmena Peak
Saya ingin menuliskan beberapa hal menarik yang terjadi selama trip saya ke Filipina. Saya ingin mengabadikan kenangan saya dalam tulisan. Karena biasanya saya kaan lupa setelah beberapa tahun, mudah-mudah tulisan bisa mengingatkan jika saya membacanya beberapa tahun yang akan datang

Hampir Tenggelam

Saat snorkeling di Moalboal, saya sebenarnya menyewa pelampung.
Harga pelampung dan snorkel 150 peso karena saya hanya memakai beberapa jam saja (harga normal 200 peso untuk seharian). Sebenarnya saya bisa berenang, tapi saya kurang yakin kalau saya bisa berenang jauh dari pantai. Saat itu karena ingin mengetahui kemampuan saya berenang, saya melepaskan pelampung dan berenang bebas. Lihat, saya berenang tanpa pelampung! kata saya kepada Erika, traveller asal Kanada yang bersama saya saat itu. See! you can do it katanya menyemangati. Pelampung yang mengapung-apung di air diambilnya.
Berenang tanpa pelampung
Setelah beberapa menit saya semakin berani berenang semakin jauh ketengah. Jaraknya dari pantai mungkin 300 meter. Saya hanya berhenti ketika menjelang batas laut yang mendadak sangat dalam (saya sudah berenang hingga kesana dengan pelampung)

Tiba-tiba saya melihat seekor penyu yang sangat besar, saya memandanginya dengan terkesima. Saya memanggil Erika dengan membuka snorkel yang ada di mulut saya. Erika, turtles! kata saya. Dia tidak mendengar, saya mengulanginya lagi. 

Saat itulah karena kurang konsen berenang air masuk kemulut saya dan saya langsung megap-megap. Saya berusaha membenarkan posisi snorkel supaya saya bisa mengambang lagi dengan nyaman (posisi tengkurap di air sangat nyaman untuk membuat kita mengapung). Tapi sudah susah karena alat snorkel sudah dipenuhi air dan butuh dikibas-kibas supaya airnya hilang. Saya berhenti berusaha memakai alat snorkel. Dan berusaha berenang kepinggir. Saya panik, gugup dan ketakutan. Erika, I am drowning! kata saya, berharap dia membawakan pelampung ke saya. Tapi dia hanya memandang tanpa ada reaksi (tapi saat itu saya tidak sadar dia diam, saya pikir dia bergerak kearah saya tapi lambat). Saya masih megap-megap tapi tetap berenang semampu saya. Saya berteriak sekali lagi: Erika, I am drowning! Dia masih melihat kearah saya. Saat tenaga terakhir yang saya kerahkan sudah habis, saya lemas, saya akan tenggelam pikir saya. Saat itulah saya merasakan kaki saya menyentuh dasar laut. Rupanya saya berhasil membawa diri saya ke kedalaman yang cukup buat saya untuk berdiri. 

Erika senyum-senyum, katanya dia kira saya hanya bercanda, karena dia melihat saya berenang dengan sangat baik. Padahal saya berenang karena saya tidak ditolong. Terbayang asuransi perjalanan yang batal saya beli. Biasanya saya membeli, tapi kali ini tidak karena saya menganggap tidak akan ada kejadian apa-apa

Kaki Lecet Sejak Awal Hingga Akhir

Saya memakai sepatu baru saat saya terbang ke Filipina. Sepatunya adalah sepatu olah raga merek Reeb*k. Sebenarnya nggak baru-baru amat sih, saya sudah memakainya 2 kali untuk nge-Gym.  Setiap travelling biasanya memang saya selalu membawa sepatu olah raga, karena saya biasanya pasti melakukan aktifitas outdoor, hiking, trekking atau bersepeda. Saya memutuskan memakai sepatu karena ingin tas saya lebih ringan. Nah saat itu kaki saya sudah mulai lecet dibagian atas tumit. 

Saya kemudian harus memakasi sepatu saat canyoneering. Walau kesakitan, saya tetap memaksakan diri untuk memakai sepatu karena keaadaan medan. Saya selalu kesakitan tapi saya tetap bertahan. Hal ini memperparah luka yang sudah ada.  Setelah kegiatan canyoneering saya menutup luka saya dengan hansaplast. Masalahnya ketika ditempel hansaplast, luka jadi basah. Akhirnya saya membiarkan luka tanpa ditutup apa-apa. Tapi hal ini malah membuat luka saya infeksi, lukanya jadi bengkak dan bernanah, warna jadi pink dan ungu seperti kudis. Saya akhirnya harus minum antibiotik hingga 3 hari, barulah lukanya membaik

Sampai saya menuliskan tulisan ini 10 hari setelah balik ke Batam (10/07/2017), luka saya masih dalam proses penyembuhan

Semua Hampir Semua Orang Bisa Berbahas Inggris di Filipina

Abang Ojek, penjual makanan, pemilik warung makan, kasir swalayan, supir, kenek, semuanya bisa bahasa inggris, iya, SEMUA.

Banyak Orang Yang Membantu Saya Selama di Filipina

Di Manila

Di bis yang membawa saya meninghalkan Ninoy Aquino International Airport saya bertanya ke seorang cowok, tentang tempat saya akan berhenti nantinya (untuk menyambung dengan kereta). Si cowok bilang dia akan memberitahu jika kami tiba disana. 

Kemudian dia bertanya kemana tujuan saya. Saya menunjukkan alamat hostel tempat saya akan menginap. Dia mengatakan tahu daerah itu dan akan menuju tempat yang sama. Dia bilang tempat perhentian bis yang saya sebutkan (info dari hostel) kurang tepat, baiknya kamu ikut saya, katanya. Saya bilang oke. Akhirnya saya ikut dia turun dari bis, berjalan menuju stasiun kereta, beli tiket kereta, naik kereta, berhenti untuk ganti kereta, lalu naik kereta lagi. Kami tiba di kereta tujuan lalu berpisah. Dia bilang dia akan kerja dan dia menunjukkan restoran Jollibee karena saya bilang ke dia saya belum makan siang. Padahal.saat itu sudah nyaris jam 5 sore. Saya tidak bisa makan siang di pesawat karena mereka hanya menerima peso. Saya tidak punya peso sama sekali

Di restoran Jollibee (mirip KaFC) saya memesan makan dan terpaksa duduk gabung dengan seorang pria dari Kanada. Karena tpat duduk kosong hanya diatas. Saya yang saat itu memegang nampan makanan dan satu buah koper tentunya tak mau naik keatas. Pria ini bilang saya adalah  orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang dia kenal. Nampaknya saya sudah jadi history buat seseorang

Di Cebu

Juga dalam perjalanan dari bandara menuju hostel. Bis yang membawa saya tiba di stasiun terakhir yaitu SIM City. Saya bertanya ke seorang cowok soal angkot menuju hostel saya. Dia bilang dia akan menuju tempat yang sama dengan saya. Lalu dia menawarkan saya untuk ikut dia, saat itu dia sedang menunggu Grab yang sudah dipesannya. Saya naik bersama dia. Diperjalanan kami sempat mengobrol soal canyoneering di air terjun kawasan. Dia memberikan nomor kontak guide yang bisa saya hubungi, dan juga nomor hpnya. Katanya mungkin kami bisa hangout bareng, dan jika ada yang ingin saya tanya, bisa menghubung dia. Ternyata kami datang dari Manila dalam pesawat yang sama

Makanan Filipina itu Tidak Pedas

Bisa dibilang, dari semua makanan negara Asean dan Asia yang saya coba, makanan Filipina bukanlah makanan favorit saya. Rasanya kurang pas dengan selera saya, terutama karena tidak melibatkan cabe SAMA SEKALI


Filipina Sangat Katolik

Di Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar kita akan melihat kuil dimana-mana. Di Filipina kita akan melihat banyak sekali gereja. Mobil dan motor dipasang rosario. Di pesawat dan bis, penumpang selalu membut tanda salib didada sebelum berangkat, juga saat terjadi turbulance

Gereja Katedral di Manila, peninggalan Spanyol
Semua Orang Menyangka Saya Orang Filipina

Dan mereka langsung berbahasa tagalog kepada saya. Saya lelah menjelaskan dengan bahasa inggris kalau saya bukan orang Filipina.

7 comments:

citra said...

I love this points sist

Arreza Mp said...

keren perjalanan nya ... luar biasa

Annisa Rizki Sakih said...

jangan lupakan tukang ojek yg baik hati itu kak Rina;)
Semoga kaki kk cepat sembuh ya.. Ganggu banget lecet di kaki itu

Sri murni said...

Nice story kak..... Ngeri ya kl hampir tenggelam di laut. Walau saya bs berenang saya suka panning dgn kedalaman laut....

Rahayu Asda Putri said...

Asyiik. Berarti masyarakat pilipin ramah ramah y kk

Yulia Marza said...

Duh.kalo jalan banyak yang bantu kayak gini..hayuh banget tuh ka Rin.

Rina said...

Yulia Marza: iya mbak, mereka baik-baik dan ramah, dan yang paling penting itu bisa bahasa inggris jadi mengerti pertanyaan kita dan bisa jawab :)