Tuesday, January 30, 2018

Catatan Perjalanan Bersepeda Dari Dumai Ke Samosir (Bagian III)

Pertama kalinya masuk kerumah tadisional Batak
Catatan perjalanan sebelumnya bisa dilihat disini dan disini

2 Januari 2018

Sejak 30 Desember sore saya ada dirumah bibi saya, berkumpul dengan semua sepupu dan merayakan tahun baru bersama.

Tanggal 2 jam 10 saya sudah mengayuh sepeda lagi. Tujuan saya adalah Samosir lewat Balige. Saya mendapat info kalau menyebrang ke Samosir bisa dari Balige, 30 km dari tempat saya ketika itu. Tadinya saya kira hanya lewat parapat saja. Jika lewat Parapat, saya harus mengayuh sepeda sejauh 70 km. Setelah bermanja-manja selama 3 hari, rasanya malas untuk mengayuh sejauh itu


Tiba di Balige, saya bertanya dimana pelabuhan pada petugas Dinas Perhubungan yang ada dipinggir jalan. Mereka memberitahu arahnya sekaligus menginformasikan bahwa kapal sudah habis jam 14.30. Padahal saat itu sudah jam 14.50. "Coba saja, siapa tau masih ada" kata mereka. Segera saya memacu sepeda dengan kecepatan 200 km/jam #lebay

Ketika tiba di pelabuhan, kapal terakhir baru saja meninggalkan pelabuhan, saya menatap dengan melas kearah kapal itu sedikit air mata, bak memberangkatkan pacar pergi sekolah keluar negeri dan akan kembali 5 tahun lagi. Seorang cowok, calon penumpang lain juga baru tiba. Ada seorang Bapak melambai-lambai  dan berteriak memanggil kapal kembali. Tapi kapal masih bergerak maju.

Baca juga Persiapan Touring Sepeda Dumai - Samosir

Beberapa detik saya disana, beberapa penumpang yang juga ingin menyeberang ke Samosir berdatangan terus. "Banyak iniiiiii" teriak si Bapak kearah kapal. Pelan-pelan akhirnya saya bisa melihat kalau kapal memutar arah. Saya senang sekali.

Kami semua naik ke kapal, termasuk motor dan sepeda kami. Saya dikenai ongkos Rp 20.000, dan  Rp 10.000 untuk sepeda. Kru kapal membantu saya menaikkan sepeda. Perjalanan sekitar 2 jam, karena singgah di beberapa pelabuhan kecil. Saya turun di Nainggolan sekitar jam 17.30. Segera saya mencari penginapan. Ada sebuah wisma dengan harga Rp 70.000, saya menawarnya  jadi Rp 50.000 #Emak-EmakModeOn. Si Bapak diomelin anaknya karena memberikan harga itu haha. Padahal kamar cuma berisi tempat tidur dan kipas angin. Pada dasarnya kost-kostan sih kalau saya bilang. Saya makan diwarung mi sebelah losmen, lalu masuk kamar dan tidur

3 Januari 2018

Besoknya saya bersepeda lagi kerumah Bang Wanner, senior saya di Mapala. Tadinya pengen naik mobil tapi mobil tak kunjung tiba, ya sudah gowes saja.

Ada kejadian saya diusilin lagi dari warung, teriakan dan ucapan yang demikian keras sampai mengomentari bokong saya. Saya berbalik arah dan berhenti diwarung itu. Si pria itu kabur lewat pintu belakang, tak sempat berkenalan dengan saya. Rupanya suara keras tidak berarti punya nyali. Saya sempat protes ke orang-orang di warung itu karena diam saja atas perlakuan pria itu terhadap perempuan yang cuma lewat tanpa mengganggu orang. Mereka berharap saya maklum karena si pria menurut mereka sedikit "gila". Entah apa arti kata gila yang dimaksud mereka. Buat saya ini adalah pembiaran masyarakat yang permisif terhadap pelecehan terhadap perempuan. Saya meninggalkan warung itu dengan tangan gemetar karena marah


Kapal penumpang di Danau Toba



Mejeng di pinggiran Danau Toba, saya minta tolong seorang cewek yang lewat untuk mengambil foto ini
Saya kira jaraknya  tidak jauh, rupanya saya tiba dirumah Bang Wanner sekitar jam 17.30 sore, setelah menempuh 49 km. Memang saya banyak berhenti karena hujan.
Saya berkenalan dengan keluarganya, Ibu, dan adik-adiknya. Bang Wannernya sendiri tidak disana. Malam itu saya tahu kalau, Bang Nico, kakak senior saya di Mapala  sedang berada didekat saya menginap.

4 Januari 2018

Jam 7 pagi saya meluncur dengan sepeda ke penginapan Bang Nico. Dia akan kembali ke Medan jam 12, jadi saya harus datang pagi. Dia bersama istri, orang tua dan adiknya. Setelah sarapan dan ngobrol kami naik banana boat dan rolling donut. Pertama kali seumur hidup saya main rolling donut, rasanya luar biasa. Kami terlembar keatas, kebawah, kiri dan kanan. Saya senang mencobanya di hari ulang tahun saya. Sesuatu yang baru pas ultah itu meyenangkan. Saya masih ingat tahun lalu saya di Vang Vieng, Laos, melompat ke sebuah danau dari ketinggian kira-kira 6 meter

Kami berpisah Jam 12 dan saya kembali ketempat saya menginap. Ketika memperhatikan facebook ada komentar dari teman saya Esra. Dia sedang ada di Pangururan, 10 km dari saya. Kami janjian saat itu juga dan ketemu sekitar 1 jam kemudian. Sudah tidak bertemu lebih dari 7 tahun. Obrolan kami sangat panjang dan seru.

Bike to Work, Kesulitan Dijalan Dan Pelecehan Verbal

Sorenya setelah mendapatkan motor sewaan, kami pergi ke Tuk-tuk dimana teman-teman Esra menginap. Menurut google map jaraknya sekitar 41 Km dari kami. Saat berangkat sudah jam 18.00, cuaca sudah dingin sekali. Perjalanan mancapai 1,5 jam, terasa lebih lama karena dinginnya. kamipun menyesali keputusan kami ke Tuk-Tuk. Tiab disana kami cuma makan dan mengobrol sebentar. Pukul 22 sudah memacu motor kembali dijalan yang gelap dan sepi. Saya tiba dirumah tempat mengianap jam 12 lewat. Cara yang ok banget untuk menghabiskan hari ulang tahun :p

5 Januari 2018

Ini adalah hari terakhir saya di Samosir. Saya berencana ke Pusuk Buhit, Esra tidak mau diajak ikut karena ada teman yang akan datang. Saya berangkat sendiri dengan motor.


Jalan ke Pusuk Buhit menanjak dan berbelok-belok, ada jurang di kanan kiri jalan, saya segera memutuskan kalau melintasi jalan ini jangan sampai dimalam hari, berarti saya harus kembali sebelum gelap

Semakin keatas semakin banyak terlihat petunjuk jalan ke beberapa objek wisata, ada air terjun, kampung batak dll. Saya singgah di museum geologi. Museum ini memamerkan tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan dalam sejarah Batak, seperti tumbuhan putri malu sebagai pewarna pakaian, bunga Edelweis dll. Ada replika rumah adat batak, alat musik tradisional, batu-batu yang berasal dari letusan vulkanik 300.000 tahun lalu, dan pertunjukan video tentang bagaimana Danau Toba terbentuk. Tidak ada yang membuat terkesan di tempat itu.

Saya melihat staff nya mondar mandir dengan rambut yang digulung dengan handuk, mungkin dia baru mandi. Saya juga ditegur ketika duduk didepan museum geology. Saat itu saya mengambil video time lapse jadi memang santai-santai sambil lihat hp. Seorang staff datang bertanya saya sedang ngapain, seperti mengkhawatirkan saya. Saya agak risih tapi berusaha ramah dan mejelaskan saya sedang mengambil video. Ada 2 buah "kursi" yang terbuat dari batangan kayu yang ditegakkan untuk menjadi tempat duduk, jadi nggak aneh dong saya duduk disana.

Ketika didalam saat mengambil video, dia memanggil-manggil saya, katanya jangan lupa mengambil foto silsilah raja Batak yang ada di dinding, saya berusaha konsentrasi dengan video yang saya ambil, tapi karena abang itu terus memanggil saya terpaksa menjawab Ok bang, ok bang. Padahal kalau saya butuh pasti saya ambil foto itu. Lagian Silsilah raja Batak itu bisa ditemukan dimana saja kok, saya sering lihat. Ini staff ramah apa usil sih

Saya meninggalkan tempat itu untuk menuju Pusuk Buhit. Jalan aspal berakhir berganti dengan jalan tanah. Dengan motor sewaan saya tidak berani menggunakan nya lebih keatas untuk melihat apalah motor bisa naik atau tidak. Kalau motor milik saya, pasti saya bawa naik. Disitu saya berhenti untuk mengambil video timelapse. Beberapa orang melintas membawa tenda dan perlengkapan camping lainnya.

Saya kemudian turun menuju Lembah dimana Desa Sianjur Mula-Mula berada. Namun melihat jalan yang begitu panjang dan hari yang sudah menjelang sore, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan hingga ke desa. Saya kembali ke rumah Esra. Masih sempat saya menjemput sepeda dengan becak motor, dan membayar 40.000 untuk pergi dan kembali. Malamnya saya repacking barang untuk persiapan pulang besok pagi.

6 Januari 2018

Paginya jam 5 saya sudah mandi, mengemas barang terakhir yang saya pakai dan minum teh, Bang  Prince datang menjemput dan kemudian kami berangkat ke simpang untuk menunggu bis

Saya naik Bis ke Pematang Siantar untuk naik bis ke Pekan Baru, dari sana saya naik pesawat ke Batam. Karena naik bis pukul 20.00, saya masih sempat untuk membeli roti Ganda, oleh-oleh khas Siantar  yang sangat dikenal. Antrian tidak seramai yang pernah saya alami sebelumnya, mungkin karena musim liburan sudah nyaris selesai. Hanya disana beberapa menit, saya sudah berhasil mendapatkan pesanan saya

7 Januari 2018

Karena tiket yang mencapai 1,3 juta, saya membeli tiket tanggal 8 Januari seharga Rp 535.000, yang membuat saya harus masuk kerja setengah hari saja. Saya tiba di Pekan Baru dan langsung memesan GoCar ke Rodalink, toko sepeda resmi Polygon, Tujuan saya untuk meminta box untuk packing sepeda. Mereka memberikan box sepeda bekas gratis tapi menawarkan mereka yang packing. Untuk itu saya harus membayar Rp 75.000 jika merk sepeda saya Polygon. Jika bukan Polygon, saya harus membayar Rp 100.000.

Segera saya iyakan dan membiarkan mereka membuka stang, sadel, dll. Setelah semua bagian berada di box, masih ada ruang untuk menaruh barang-barang yang tidak saya perlukan lagi. Jadi saya masukkan 1 pannier, tenda, sepatu dll kedalamnya. Box itu saya tinggalkan di Rodalink, untuk dijemput esoknya saat menuju bandara

Dari Rodalink saya memesan penginapan dan memesan gojek menuju kesana.

8 Januari 2018, Rempongnya Membawa Kotak Sepeda 

Saya memesan GoCar untuk membawa saya dan sepeda tercinta ke bandara, kebetulan saya mendapatkan pengemudi yang membawa mobil jenis Avanza. Pengemudi membantu saya menaikkan sepeda ke trolley. Tiba ditangga saya kesulitan merubah posisi box yang melintang di trolley. Saat-saat begini ini rasanya saya butuh dada untuk bersandar bantuan tenaga pria yang bukan porter. Sayangnya hanya porter yang menawarkan bantuan. Saya belum sadar saat itu, kalau porter itu sekarang gratis dibandara. Saya menolak bantuan mereka tapi mereka tetap membantu.


Kerepotan lainnya saat memindahkan box dari trolley ke x-ray dan mengembalikan dari x-ray ke trolley kembali. Kotak itu beraaat banget.

Saya terbang jam 12 tepat, tiba dirumah, menaruh sepeda dan langsung berangkat kerja. Back to work!

Baca juga Bersepeda sejauh 60 km Ke Pulau Bintan









4 comments:

  1. Salutlah sama kakak satu ini... Luar biasa kapan aku bisa Naik sepeda gini ya

    ReplyDelete
  2. Luar biasa mbak, sepedaan berhari-hari dengan jarak tempuh lebih dari 40 km per hari. Ada aja orang iseng yang suka teriak-teriak kayak gitu ya mbak. Goda-godain. Tapi anggap aja dia memang beneran gila ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  3. Aku pernah ke Gunung Pusuk Buhit Rin. Sampai atas. Bagus pemandangannya. Pas turun dari sana lewat Sianjur Mulamula juga.

    ReplyDelete
  4. Bersepeda di pinggiran Danau Toba itu kelihatannya keren. Bisa menikmati pemandangan Danau Toba!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir, silahkan tinggalkan pesan untuk tulisan ini yaa. Terimakasih