Wednesday, January 17, 2018

Catatan Perjalanan Bersepeda Dari Dumai Ke Samosir (Bagian II)

Melintas di Gunung Tua. Foto: Yasir Harahap
Catatan Perjalanan ini adalah lanjutan catatan bagian pertama, yang bisa dilihat disini


Day 5, 26 Desember

Teman-teman SCC mengatakan group GOPAL (Gowes Palatu) sudah menunggu saya di Pos Pantau Mudik Desa Sihopok, Tapanuli Selatan. Saya diberitahu bahwa yang akan saya jumpai di Pos ini adalah anggota club sepeda yang kebetulan adalah Polisi

Saya tiba di Pos Pantau sekitar jam 5, disambut dengan hangat olah mas Yuspan dan Ito Sidabutar.
Mereka menempelkan stiker GOPAL di sepeda saya. Pak Sidabutar juga memberikan pompanya untuk mengganti pompa saya yang hilang. Hiksss... terharu lagi

Saya meminta izin untuk mendirikan tenda disana tapi malah ditawari untuk tidur didalam pos, ada kamar disana. Senang sekali! Malam itu saya merasa ada di tempat paling aman, karena "dikawal" oleh polisi dan tentara. Ini kejadian langka dalam hidup saya :D

Video tour saya di youtube


Malam itu ada kejadian lucu unik. Seorang pria berusia 20 an menabrak cone jalan raya yang dipasang dijalan di depan pos. Dia terjatuh dan terguling-guling di aspal. Pak polisi yang ada disana segera membawanya ke pos. Tapi pria itu yang tampaknya panik langsung mengoceh memberikan penjelasan dia sedang mengejar orang yang barus saja menabraknya. Katanya dia baru saja mengalami kecelakaan juga. Omongannya ngawur kesana kemari yang membuat kita mengerti kalau dia sedang mabuk

Baca juga Persiapan Touring Sepeda Dumai - Samosir

Dia juga berusaha melarikan diri padahal sedang dikerumuni polisi dan tentara. Saat dia melarikan diri, dia naik diatas motor dan seorang polisi menahan motornya dari belakang. Sehabis usahanya yang gagal tentu saja di di marah-marahin. Luka-luka ditubuhnya menganga membuat saya ngeri, celananya robek-robek, telapak sepatunya jebol hingga kakinya keluar. Dia menjerit-jerit ketika akan disuntik. Membuat saya geli. Seorang pria yang mengenal pria ini datang membenarkan cerita bahwa dia memang barusan ditabrak orang dan dia sedang mengejar orang itu. Entah bagaimana akhir cerita pria ini, karena saya tertidur dikamar

Day 6, 27 Desember

Setelah sarapan bersama Pak Yuspan Dkk,  saya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Tua. Kadang saya sering risih memanggil mas/bang kepada mereka karena seragam polisi yang mereka pakai. Jadi sering bertukar-tukar antara mas dan pak haha...

Melalui WhatApp, beberapa teman-teman GOPAL lain bertanya dimana posisi saya, beberapa kali lokasi ter "update" saya kirimkan. Bang Samsul  mencegat saya dijalan, kami berkenalan dan berfoto, lalu berpisah

Kemudian ada bang Yasir yang mencegat saya didepan sebuah warung, kami duduk mengobrol, dan beberapa orang anggota Gopal yang lain juga datang. Banyak informasi yang saya dapatkan soal jalan yang akan saya tempuh berikutnya. Mereka menginformasikan bahwa akan ada pos pantau  mudik Natal & tahun baru sekitar 30 km didepan, yaitu desa Pamantaran, saya disarankan menumpang menginap disana. Mereka juga mengatakan bahwa setelah pos itu saya akan melewati hutan lindung yang tidak ada penduduk, dengan jalan yang sangat menanjak.

Tiba di Sumatera Utara

Sepanjang jalan mulai Dumai hingga Tapanuli Selatan, banyak orang menjual juice buah di pinggir jalan,
sangat membantu kebutuhan gizi saya

Di Hotel Fauzia Bagan Batu, gini-gini bisa dipakai lho

Hanya sekali saya memasak teh ketika istirahat, seingat saya,
ini ketika saya sangat lemas karena menempuh 81 km dihari sebelumnya
Berhenti di pondok kosong seperti ini lebih nyaman dari pada warung,
karena di warung saya akan mendapat tatapan dan pertanyaan yang tidak ada habisnya

Ketika berpisah, saya difoto bang Yasir. Foto ini kemudian dikirimkan lewat WhatsApp. Foto ini ada dibagian pertama tulisan ini. Terimakasih Bang Yasir, saya suka

Sekitar jam 5.30 saya tiba di Pos Pamantaran, saya izin mendirikan tenda disana tapi diajak menginap didalam pos. Suhu disini mulai dingin. Ada 2 orang bidan bertugas jaga yang akan menginap disana. Disebelah pos ada warung makan dan kamar mandi umum. Saya makan dan minta izin mandi kepada pemilik warung karena kamar mandi umum sangat bau. Mereka mengizinkan. Itu adalah mandi ternikmat selama trip saya, dingin tapi tidak terlalu dingin, dan saya bisa mencuci jersey saya lagi.

Baca juga Bersepeda sejauh 60 km Ke Pulau Bintan

Saya mendirikan tenda didalam pos jaga, tapi tidak memasang lapisan luarnya (fly sheet). Walau ada dipan dan kasur saya memilih tenda karena ada sedikit privacy dan terlindung dari tatapan petugas yang masih mondar mandir. Seperti  malam lain tour ini, saya selalu tidur sekitar jam 8. Capek luar biasa

Sebelum tidur saya selalu update ke Kang Dave dan teman lainnya posisi saya berada, supaya kalau ada apa-apa mereka tahu terakhir saya berada dimana

Day 7, 28 Desember 

Pagi harinya saya sudah siap untuk menghadapi jalanan menanjak dan sepi, saya menaruh stun gun di handle bar bag supaya mudah dijangkau. Nasi untuk makan siang juga sudah saya kemas, untuk antisipasi kalau tidak ada warung.

Benarlah yang dikatakan pada saya, 90 % perjalanan hari itu saya menuntun sepeda. Sepanjang hari nyaris tidak menaiki sepeda.  Jika ada jalan datar sekitar 10 meter, saya memilih tetap berjalan kaki, karena tanggung untuk menaiki sepeda beberapa detik lalu turun lagi. Terasa berat dan menguji fisik.  Rumah penduduk benar-benar tidak ada, tapi mobil cukup ramai melintas. Banyak monyet bergelantungan dipinggir jalan tapi segera menghilang begitu menyadari ada saya disana. Saya tidak pernah sempat mengambil foto atau video mereka.

Jam makan siang saya sudah ada di tempat ramai, saya memesan jus alpukat dan membuka kotak makanan saya. Nasi dan ayam yang ada didalam sudah ada ulatnya. Mungkin daging ayam itu sudah menyimpan telur ulat, dan  selama dijalan terjadi penetasan, memang ulat-ulat itu masih sangat kecil. Ya Tuhan saya hampir muntah. Akhirnya saya membuang makanan itu kekolam pancing yang ada dibawah saya (pondok makan berada diatas kolam) lalu memesan soto medan. Saya beristirahat di tempat itu hingga jam 13.30, pondok memang memungkinkan untuk saya berbaring, saya nyaris tertidur karena kecapekan

Baca juga: Persiapan Touring Sepeda Dumai - Samosir

Saat sore saya mulai melirik kiri kanan jalan, untuk melihat tempat yang cocok mendirikan tenda. Saya selalu memilih tempat yang ada rumah, untuk menjamin keamanan. Saya melihat sebuah tempat yang nampaknya cukup nyaman, lalu bertanya pada pemilik tempat, apakah saya bisa mendirikan tenda disana. Si Bapak bertanya ini itu, kemudian menganjurkan saya menginap di hotel di Sipirok yang masih 30 km lagi. Saya segera bilang tidak masalah kalau dia tidak mengizinkan dan pergi

Tidak jauh dari situ saya melihat sebuah tanah kosong dan meminta izin pada warung diseberangnya. Dia mengizinkan dengan cepat. Kemudian mengatakan bahwa pemiliknya adalah temannya dan dia yakin temannya tidak keberatan. Baik banget si abang ini

Saya makan malam diwarung itu. Karena hanya ada mi rebus instant, saya makan yang ada, sembari mengobrol dengan mereka. Keluarga yang sangat baik sekali. Saya ditawarkan mandi di kamar mandi mereka, yang saya sambut dengan senang hati. Cuci jersey lagi :D.

Badan saya remuk rasanya. Jarak yang saya tempuh hanya sekitar 32-35 km (endomondo saya mati ditengah jalan, yang tercatat 30 km), tapi karena menanjak, saya menempuhnya seharian. 7 hari perjalanan, hari itu adalah hari yang terberat.

Kamar saya di Hotel Royal Permata, Kota Pinang
Boro-boro nonton TV, tetap membuka mata setelah makan malam adalah perjuangan buat saya
Abang Sidabutar menempelkan sticker GOPAL di sepeda saya

Di Pos  ini saya diberi tempat tidur biru itu
Dengan abang Sidabutar dan Bang Yuspan. Itu bajunya mirip nggak janjian lho ya :D :D
Tenda dihari ke 7





Malam itu saya tidur sekitar jam 19.30, teman-teman SCC dan GOPAL masih memantau saya melalui Whatsapp. Saya mencatat nama desa itu: Desa Garonggang, Kecamatan Angkola Timur, Tapanuli Selatan.

Paginya saya minta dibuatkan telur dadar di warung itu, nyonya rumah memberikan sepotong rendang ayam untuk saya. Kemarin malam memang saya menanyakan apakah dia menjual rendang, karena udara berbau rendang. Dia menjawab itu bukan untuk dijual, tapi dimakan keluarga. Saya senang sekali dan lagi-lagi dibuat terharu :") Dia tidak meminta bayaran untuk ayam ini, tetapi saya tidak mau menerima kembalian uang yang saya berikan untuk membayar nasi dan teh.

Day 8, 29 Desember

Saya memasuki Tapanuli Utara, ketika melihat gapura selamat jalan dari Tapanuli Selatan dan Selamat Datang di Tapanuli Utara saya girang sekali. Kemungkinan saya menyelesaikan perjalanan ini semakin pasti. Saya berharap bisa tiba di Tarutung hari itu. Tapi ini tidak akan terjadi hari itu.  Jalanan masih menanjak, saya banyak menuntun, walau tak separah perjalanan di Gunung Tua.

Baca juga Bersepeda ke Pantai Terih, Batam

Saya tiba di Desa Sarulla menjelang jam 18.00 dan makan disebuah warung. Sebenarnya saya makan disana karena didorong keinginan untuk meminta izin mendirikan tenda ditempat mereka. Saya tidak tahu kalau itu kedai tuak  hingga saat saya hendak menuang air dari teko, yang didalam teko putih mirip susu.  Menjelang sore saya tidak banyak melihat tempat terbuka karena kebanyakan rumah dan lahan sempit dan terjal. Si Bapak mengizinkan dengan senang hati.

Saya makan mi instant lagi karena hanya itulah yang ada diwarung itu. Mereka menawarkan untuk menginap dirumah tapi saya menolak walau mereka memaksa berkali-kali. Entah mengapa saya merasa tidak nyaman menerima kebaikan seperti itu. Tapi saya menumpang mandi, dan tentu saja mencuci jersey lagi

Setelah mandi saya mengobrol dengan nyonya rumah, sedangkan si Bapak meladeni tamu di kedai tuaknya. Kemudian saya pamit ke tenda untuk tidur. Anak mereka bermain meriam dan tidak jauh juga terdengar petasan.  Saya sudah mengantuk tapi tidak bisa tidur hingga pukul 23 ketika si anak akhirnya berhenti. Saya langsung pulas.

Day 9, 30 Desember

Paginya nyonya rumah membuatkan saya teh manis ketika saya berkemas membongkar tenda.
Terharu lagi :")

Kalau melihat google, jarak dari Sarulla ke kampung orang tua saya sekitar 50 km. Tapi saya set ke kota Siborong-borong, kampung saya berjarak sekitar 7-10 km sebelum Siborong-borong. Saya tidak menemukan nama kampung saya di google maps. Jadi semua masih kira-kira, yang jelas saya harus tiba sebelum gelap. Saya rasa tidak masalah karena rata-rata saya gowes lebih dari 55 km/hari. Kalau saya ingat-ingat sepertinya sih tidak menanjak, tapi feeling ketika berada didalam mobil sangat berbeda dengan ketika diatas sepeda haha..

Saya start jam 8, menyalami tuan rumah saat berpisah. Hujan menyambut saya di tarutung. Jalan banyak yang menanjak. Tapi mulai dari Tarutung hingga kampung saya cukup datar.

Bike to Work, Kesulitan Dijalan Dan Pelecehan Verbal

Ketika tiba di desa yang saya kenali namanya, saya menyadarai sudah dekat ke tujuan. Saya mulai berusaha mengenali setiap sudut jalan, menunggu pemandangan berganti ketempat yang saya tahu. Meter demi meter. Akhirnya saya melihatnya, tebing yang khas, sawah keluarga kami, jalan menanjak ke kampung dimana rumah nenek berada. Masih sekitar 1 km dari rumah tujuan, saya kegirangan, terharu dan mata saya mulai berkaca-kaca

Akhirnya saya tiba dirumah alm namboru sekitar jam 17.00 dan melihat amang boru duduk didepan. Saya memanggilnya dengan nyaring dan (katanya kemudian) dia tidak mengenali saya. Maklum tampilan saya bak atlit bule haha. Eh tapi entah kenapa saya malah nggak nangis ketika sampai hehe...

Dia menanyakan mulai dari mana saya bersepeda dan saya berusaha tidak menjawab saat itu. Karena pasti diomelin. Akhirnya, setelah berusaha membelokkan  pembicaraan kesana kemari saya terpaksa jujur, dan memang diomelin. Saya menjelaskan kalau perjalanan saya direncanakan dengan matang dan dia akhirnya mengerti. Saya memang mengabari akan datang tapi tidak bilang dengan cara apa

Selanjutnya baca perjalanan saya dari kampung ke Pulau Samosir yaaa :-)









13 comments:

Septian Hutagalung said...

mantap ito
jadi pengen ikutan nyoba

Rina said...

Septian: Terimakasih, semoga bisa dilaksanakan yaa... Tapi dsini panas lhooo :)

Eka Handa said...

Buseeed, kak Rina tangguh banget, kerenlah pokoknya.

Btw, apa kabarlah si anak muda yg kena tabrak lalu pengen ngejar pelaku yg nabrak dia itu ya? wkkkk..

Rina said...

Eka: pasti lukanya lama sembuh, semua kena gesekan aspal, ngeriiii, mudah2an dia kapok mabuk2an naik motor :(

Rahaps said...

gila salut banget sama ka rina. fisiknya luar biasa

Dian Radiata said...

Aku ngeliat colokan listriknya kok serem ya.. Keren banget perjalanan kak Rina ini. Watbiyasak!

Lina W. Sasmita said...

Perasaan udah komen dah dimari.

Iya itu colokan listrik serem amat ya.

Yulia Marza said...

Duh..salut banget ama kak Rina. Tetap semangat gowes nya kak..

Sarahjalan_ said...

Tahan nafas aku baca ceritamu kak..sedih iya, terharu iya..kagum iya... dan pastinya aku takkan sanggup mengikuti jejak bersepedamu kak....

danan said...

itu warna baju sengaja dimatching sama rompi polisi? wkakakakakka

Anonymous said...

pasti banyak sekali pengalaman tak terlupakan di perjalanan sepeda seperti ini , keren kak... :)

ahmadi sultan said...

Banyak kejadian lucu dan tak terduga ya!. Itulah asyiknya perjalanan. Apalagi ini sepedaan!

oke vienansyah said...

nanti tulisannya masukin ke penerbit kak, seru banget nih ceritanya.